Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
PT Vale Catat Produksi 66.848 Ton di Tengah Tekanan Harga Nikel Global
Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia, Endra Kusuma, menyampaikan paparan kinerja perusahaan di tengah tekanan harga nikel global dalam kegiatan Breakfasting Discussion bersama media di Makassar, Senin (2/3/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • PT Vale Indonesia mencatat produksi nikel matte 66.848 ton hingga November 2025, naik 3 persen dari tahun sebelumnya, dengan pendapatan mencapai US$902 juta di tengah tekanan harga global.
  • Total investasi hampir US$9 miliar digelontorkan untuk proyek hilirisasi di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako yang telah memasuki tahap konstruksi tinggi serta mulai mencatatkan penjualan awal bijih nikel.
  • Lebih dari 99 persen tenaga kerja lokal terserap, reklamasi lahan mencapai 3.863 hektare, dan ESG Risk Rating Sustainalytics sebesar 23,7 menegaskan komitmen perusahaan terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Di tengah tekanan harga nikel global sepanjang 2025, PT Vale Indonesia Tbk menegaskan industri tambang harus hadir sebagai solusi bagi pembangunan nasional. Pesan tersebut disampaikan Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia, Endra Kusuma, dalam kegiatan Breakfasting Discussion bersama media di Makassar, Senin (2/3/2026).

Endra menyampaikan fluktuasi harga komoditas tidak menyurutkan kinerja operasional perusahaan. Hingga November 2025, produksi nikel matte tercatat 66.848 ton, naik 3 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Total pendapatan perusahaan mencapai US$902 juta.

"Ketahanan industri tidak dibangun dalam satu musim harga tinggi. Ini adalah hasil konsistensi investasi, disiplin operasional, dan komitmen jangka panjang khususnya yang berdampak untuk masyarakat, lingkungan dan dunia," kata Endra.

1. Investasi hampir US$9 miliar dorong hilirisasi

PT Vale Indonesia (sumber: situs resmi PT Vale Indonesia)

PT Vale melanjutkan Indonesia Growth Project (IGP) yang menjadi bagian dari agenda hilirisasi nasional. Di Pomala, proyek senilai sekitar US$4,5 miliar telah mencapai progres konstruksi lebih dari 65 persen. 

Penjualan perdana bijih nikel pada akhir Februari 2026 menandai tahapan operasional awal. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas stockpile hingga 4 juta wet metric ton dengan target produksi awal 300 ribu ton limonit per bulan.

Proyek Morowali senilai US$2 miliar telah mencapai hampir 99 persen progres konstruksi dan mencatatkan penjualan awal 2,2 juta ton ore pada awal 2026. Sementara pengembangan limonit di Sorowako dengan nilai investasi US$2,2 miliar terus berjalan sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Total investasi terintegrasi mendekati US$9 miliar.

2. Serap tenaga kerja lokal dan perkuat ekonomi sekitar tambang

Pekerja PT Vale Indonesia (sumber: situs resmi PT Vale Indonesia)

Di sektor ketenagakerjaan, lebih dari 99 persen tenaga kerja perusahaan merupakan warga negara Indonesia. Ribuan pekerja dan kontraktor lokal terlibat dalam proyek Pomalaa, Morowali, dan Sorowako. 

Program pemberdayaan masyarakat mencakup pertanian organik, pengelolaan sampah berbasis komunitas, serta pelatihan operator alat berat yang menyasar peningkatan keterampilan warga di sekitar wilayah operasi. PT Vale juga membangun nursery dengan kapasitas produksi hingga satu juta bibit per tahun untuk mendukung upaya penghijauan dan pemulihan lingkungan.

"Industri tambang dapat tumbuh tanpa meninggalkan tanggung jawabnya," kata Endra.

3. Reklamasi capai 3.863 hektare dengan ESG rating 23,7

Head of Corporate Communication PT Vale Indonesia, Vanda Kusumaningrum, menyampaikan paparan kinerja perusahaan di tengah tekanan harga nikel global dalam kegiatan Breakfasting Discussion bersama media di Makassar, Senin (2/3/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Aspek lingkungan turut menjadi sorotan. Hingga akhir 2025, lebih dari 50 persen area bukaan tambang telah direklamasi secara progresif dengan total luasan 3.863 hektare. 

Operasi Sorowako didukung tiga pembangkit listrik tenaga air berkapasitas total 365 MW. Perusahaan juga membangun lebih dari 100 kolam pengendapan untuk menjaga kualitas air sebelum dialirkan kembali ke badan air alami.

Capaian itu tercermin pada perolehan ESG Risk Rating Sustainalytics (risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola) sebesar 23,7 yang masuk kategori medium. Skor tersebut diklaim menjadi yang terendah di sektor pertambangan Indonesia.

Head of Corporate Communication PT Vale Indonesia, Vanda Kusumaningrum, menyatakan isu lingkungan harus dijawab secara terbuka. Vanda menekankan pendekatan perusahaan dalam merespons sorotan publik terkait aspek lingkungan operasional.

"Isu lingkungan tidak boleh dijawab dengan defensif. Ia harus dijawab dengan data, dengan tindakan, dan dengan transparansi," kata Vanda.

Editorial Team