Makassar, IDN Times - Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang sudah diberlakukan di Makassar sejak 24 April lalu membuat sopir angkutan kota (angkot) menjadi salah satu pihak yang paling terdampak dengan kebijakan ini.
Pasalnya, PSBB berarti minimnya aktivitas dan mobilitas warga di luar rumah. Ditambah lagi dengan pembatasan penumpang yang maksimal hanya 50 persen dari kapasitas, membuat para sopir angkot otomatis tidak bisa mendapatkan penghasilan seperti biasanya.
Salah seorang sopir angkot, Bahar, berharap bantuan dari pemerintah. Sebab pendapatan hariannya dianggap tidak cukup buat menutupi kebutuhan diri dan keluarga. Sejauh ini, dia mengaku belum mendapatkan bantun pangan maupun bantuan sosial.
"Sebenarnya katanya ada (bantuan) tapi sampai sekarang belum dapat kasian," kata Bahar kepada IDN Times, Senin (27/4).