Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

PLN Bina UMKM di Wakatobi dan Bone, Bantu Produk Lokal Perluas Pasar

Kota Makassar
4 min read
PLN Bina UMKM di Wakatobi dan Bone, Bantu Produk Lokal Perluas Pasar
Relawan YBM PLN UID Sulselrabar mendampingi para pelaku UMKM di pesisir Wakatobi, Sulawesi Tenggara. (Dok. Istimewa)
  • PLN UID Sulselrabar melalui YBM PLN mendampingi UMKM di Wakatobi dan Bone dengan modal, peralatan, kemasan, pencatatan keuangan, serta akses pemasaran untuk memperkuat daya saing produk lokal.

  • Di Sombano, Wakatobi, pendampingan meningkatkan tampilan kemasan dan identitas merek UMKM, sekaligus membuka peluang peserta memperkenalkan produk serta membangun jejaring melalui pameran tahunan.

  • Empat UMKM Bontojai mendapat pembinaan produk dan pemasaran, sementara penjualan listrik pelanggan bisnis PLN UID Sulselrabar mencapai sekitar 1,52 miliar kWh pada Januari–September 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program pemberdayaan Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN. Program ini menyasar pelaku usaha di Sombano, Kabupaten Wakatobi, dan Desa Cahaya Bontojai, Kabupaten Bone.

Pendampingan dilakukan melalui bantuan modal usaha, pengadaan peralatan produksi, perbaikan kemasan, pencatatan keuangan, hingga perluasan akses pemasaran. Upaya tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha sekaligus memperkuat daya saing produk lokal.

General Manager PLN UID Sulselrabar, Didik Wicaksono, mengatakan dukungan terhadap UMKM merupakan bagian dari upaya PLN memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat. Menurutnya, penyediaan listrik yang andal perlu berjalan beriringan dengan pemberdayaan agar pelaku usaha dapat mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.

  1. 1. UMKM Wakatobi mulai perbaiki kemasan produk

    YBM PLN UID Sulselrabar menghadirkan beragam produk unggulan UMKM binaan di bilik wilayah Sulawesi Barat melalui pameran. (Dok. Istimewa)
    YBM PLN UID Sulselrabar menghadirkan beragam produk unggulan UMKM binaan di bilik wilayah Sulawesi Barat melalui pameran. (Dok. Istimewa)

    Salah satu program pemberdayaan dilakukan terhadap UMKM binaan di Sombano, Kabupaten Wakatobi. Pendampingan mencakup identifikasi kebutuhan peralatan produksi, pengadaan alat sesuai kebutuhan usaha, pembiasaan pencatatan keuangan, serta evaluasi perkembangan bisnis secara berkala.

    Hasil pendampingan mulai terlihat dari peningkatan kualitas tampilan dan kemasan produk. Pelaku usaha juga mulai memperjelas identitas merek agar produk lokal lebih mudah dikenali oleh konsumen.

    Perkembangan tersebut membuka kesempatan bagi UMKM binaan untuk mengikuti pameran tahunan di Wakatobi. Melalui kegiatan itu, pelaku usaha dapat memperkenalkan produknya kepada calon konsumen dan membangun jejaring pemasaran yang lebih luas.

  2. 2. Empat UMKM Bone dapat pendampingan usaha

    YBM PLN UID Sulselrabar menghadirkan beragam produk unggulan UMKM binaan di bilik wilayah Sulawesi Barat melalui pameran. (Dok. Istimewa)
    YBM PLN UID Sulselrabar menghadirkan beragam produk unggulan UMKM binaan di bilik wilayah Sulawesi Barat melalui pameran. (Dok. Istimewa)

    Di Desa Cahaya Bontojai, Kabupaten Bone, YBM PLN UID Sulselrabar mendampingi empat UMKM yang mengembangkan beragam produk lokal. Produk tersebut meliputi madu hutan, kerajinan gantungan kunci dan aksesori dari Boja Kriya dan Bojahit, kue tradisional Bugis Kue Nenek'ta berupa baruassa dan kue bibir, serta gula aren Batu Bontojai.

    Pendampingan diberikan melalui bimbingan pencatatan keuangan, pemantauan perkembangan usaha, peningkatan kualitas produk, perbaikan kemasan, dan penguatan strategi pemasaran. Program ini diharapkan membantu pelaku usaha mengelola bisnis secara lebih terarah sekaligus meningkatkan nilai jual produk.

    Salah satu kesempatan yang diperoleh UMKM binaan Bone adalah mengikuti pameran di Kantor Pusat PLN. Kegiatan tersebut menjadi ajang untuk memperkenalkan produk unggulan Bontojai kepada khalayak yang lebih luas sekaligus membuka peluang pemasaran baru.

    Muhammad Arif Muhaimin, salah satu pelaku UMKM binaan dari Desa Cahaya Bontojai, mengapresiasi bantuan dan pendampingan yang diberikan PLN UID Sulselrabar bersama YBM PLN. Ia menilai kesempatan mengikuti pameran di Kantor Pusat PLN menjadi pengalaman berharga untuk memperkenalkan produk mereka.

    “Kami mengucapkan terima kasih kepada PLN UID Sulselrabar dan YBM PLN atas bantuan dan pendampingan yang telah diberikan kepada kami. Kesempatan mengikuti pameran di Kantor Pusat PLN menjadi pengalaman yang sangat berharga karena kami bisa memperkenalkan produk UMKM dari Bontojai kepada lebih banyak orang. Kami berharap kesempatan dan pendampingan seperti ini dapat membantu usaha kami terus berkembang dan semakin dikenal,” ujar Arif.

  3. 3. Penjualan listrik pelanggan bisnis capai 1,52 miliar kWh

    WhatsApp Image 2026-03-18 at 2.36.27 PM.jpeg
    Ilustrasi PLN Mobile. (Dok. PLN UID Lampung).

    Selain pemberdayaan UMKM, PLN UID Sulselrabar mencatat perkembangan pemanfaatan listrik untuk kegiatan usaha di wilayah kerjanya. Sepanjang Januari hingga September 2026, jumlah pelanggan golongan tarif Bisnis mencapai 15.362 pelanggan, termasuk 2.063 pelanggan baru yang tercatat pada September 2026.

    Pada periode yang sama, penjualan listrik kepada pelanggan golongan Bisnis mencapai sekitar 1,52 miliar kilowatt hour (kWh). Khusus September 2026, penjualan listrik pada golongan tersebut tercatat sekitar 175,83 juta kWh.

    PLN menyebut listrik berperan dalam mendukung kegiatan produktif pelaku usaha, mulai dari pengoperasian peralatan produksi dan pengolahan bahan baku hingga pengemasan serta pemasaran berbasis digital.

    Didik Wicaksono mengatakan PLN ingin memastikan ketersediaan energi berjalan seiring dengan dukungan terhadap pengembangan usaha masyarakat. Pendampingan melalui YBM PLN juga diarahkan agar bantuan yang diberikan dapat menjadi langkah awal bagi penerima manfaat untuk membangun usaha yang lebih mandiri.

    “Kami berharap perkembangan UMKM di Sombano, Bontojai, serta di wilayah-wilayah lainnya dapat menjadi dorongan bagi pelaku usaha lainnya untuk terus meningkatkan kualitas produk dan mengembangkan usahanya,” kata Didik.

    Ia menambahkan, penguatan UMKM membutuhkan pendampingan berkelanjutan, terutama dalam pengelolaan keuangan, peningkatan kualitas produk, dan perluasan akses pasar. Dengan dukungan tersebut, pelaku usaha lokal diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More