Makassar, IDN Times - Makassar tak lagi sekadar kota tujuan urbanisasi. Kini, ribuan warga justru mulai meninggalkan ibu kota Sulawesi Selatan itu dan memilih menetap di daerah penyangga seperti Gowa dan Maros.
Fenomena perpindahan tersebut dinilai menjadi sinyal menurunnya keterjangkauan hunian dan kualitas hidup di Kota Daeng. Kondisi itu sekaligus menjadi alarm bagi masa depan kawasan metropolitan Mamminasata.
Pemerhati Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Ma’REFAT Institute Sulawesi Selatan, Mohammad Muttaqin Azikin, menilai perpindahan warga dari Makassar ke daerah penyangga seperti Kabupaten Gowa dan Kabupaten Maros merupakan fenomena yang umum terjadi. Kondisi tersebut banyak ditemukan di kawasan metropolitan.
Menurut Muttaqin, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kawasan perkotaan terpadu Mamminasata yang mencakup Makassar, Kabupaten Maros, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Takalar. Kawasan itu menjadikan Makassar sebagai kota inti aktivitas ekonomi dan jasa.
"Kalau saya melihat, itu fenomena umum di kota metropolitan. Makassar ini, kan, sudah dianggap sebagai kota metropolitan dalam kaitannya dengan konsep perkotaan terpadu Mamminasata kan," kata Muttaqin kepada IDN Times via telepon, Jumat (8/5/2026).
