Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pemkot Makassar Larang Warga Beri Uang ke Anjal dan Gepeng di Jalan
Aktivitas anak jalanan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu (13/4/2024). IDN Times/Ashrawi Muin
  • Pemkot Makassar menegaskan larangan memberi uang langsung kepada anak jalanan dan pengemis, terutama selama Ramadan, demi mencegah kebiasaan meminta-minta terus berulang di jalanan kota.
  • Dinas Sosial bersama Satpol PP meningkatkan patroli hingga empat kali sepekan untuk menjangkau, mendata, serta membina anak jalanan dan gelandangan yang terjaring di titik-titik rawan.
  • Dinsos menerima laporan adanya pendatang dari luar daerah yang datang ke Makassar saat Ramadan karena menganggap kota ini memiliki potensi sedekah besar dibanding wilayah lain.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Pemerintah Kota Makassar menegaskan kembali kepada warga agar tidak menyerahkan uang secara langsung kepada anak jalanan (anjal) maupun gelandangan pengemis (gepeng) yang beraktivitas di ruas jalan dan persimpangan kota, terutama selama Ramadan.

Kepala Dinas Sosial Kota Makassar, Andi Bukti Djufrie, menuturkan larangan tersebut bukan kebijakan baru. Sosialisasi sudah berlangsung sejak lama, meski di lapangan masih ditemukan warga yang menyerahkan uang kepada anak jalanan dan pengemis di kawasan protokol serta sejumlah persimpangan.

"Larangan memberikan uang di jalan sebenarnya sudah lama kami sosialisasikan. Namun, masih ada masyarakat yang langsung memberi kepada anak-anak dengan anggapan dapat membantu ekonomi mereka. Padahal, tidak selalu demikian," kata Andi Bukti, Sabtu (21/2/2026).

1. Pemberian uang dinilai tidak menyentuh akar persoalan

Anak jalanan beraktivitas sebagai badut di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu (13/4/2024). IDN Times/Ashrawi Muin

Bukti menilai praktik memberi uang di jalan hanya menyentuh permukaan persoalan. Cara tersebut tidak menyasar penyebab utama anak turun ke jalan, sehingga aktivitas meminta-minta berpotensi terus berulang, terutama saat Ramadan ketika tradisi berbagi semakin marak.

"Karena kita tahu Ramadan adalah bulan penuh berkah. Banyak orang ingin berbagi berkah, tetapi caranya kadang kurang tepat," katanya.

Memasuki Ramadan, Dinsos menggandeng Satpol PP untuk memperketat pengawasan di lapangan. Frekuensi patroli yang sebelumnya digelar dua kali sepekan kini ditingkatkan menjadi empat kali. 

Tim menyisir sejumlah titik rawan untuk menjangkau anak jalanan, gelandangan, dan pengemis. Setelah terdata, mereka dibawa untuk menjalani asesmen, pendampingan, serta pembinaan lanjutan.

2. Ada laporan kedatangan pendatang dari luar daerah

Ilustrasi. Satpol PP Makassar saat mengamankan anak jalanan, gelandangan, dan pengemis pada Jumat (29/10/2021). Dok. Satpol PP Makassar

Dinas Sosial juga memperoleh informasi dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat mengenai masuknya pendatang dari luar daerah menjelang Ramadan. Kelompok tersebut dilaporkan datang ke Makassar dengan tujuan beraktivitas selama bulan puasa.

"Ada NGO yang melaporkan kepada kami adanya kelompok di beberapa kecamatan yang menampung pendatang dari luar daerah, seperti Jeneponto, Bone, dan wilayah sekitar Makassar. Mereka datang khusus saat Ramadan," ungkap Bukti.

Bukti mengungkapkan sebagian pendatang tersebut terindikasi bergerak dalam pola yang terorganisir. Mereka disebut telah disiapkan tempat tinggal sementara sebelum turun beraktivitas di sejumlah titik kota.

"Ada pihak yang mengakomodasi mereka. Disiapkan satu lokasi di kecamatan sebagai tempat tinggal sementara, lalu mereka beraktivitas pada jam-jam tertentu, mulai sore hingga pagi. Setelah Ramadan berakhir, umumnya mereka kembali ke daerah asal," jelasnya.

3. Persepsi Makassar sebagai kota dengan potensi sedekah besar

Aktivitas anak jalanan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu (13/4/2024). IDN Times/Ashrawi Muin

Menurut Bukti, anggapan Makassar sebagai ibu kota provinsi kerap memunculkan persepsi tersendiri di kalangan pendatang. Kota ini dinilai memiliki potensi sedekah yang lebih besar dibanding daerah lain, terutama saat Ramadan.

Persepsi tersebut disebut menjadi salah satu faktor pendorong kedatangan mereka ke Makassar. Mereka datang untuk mencari penghasilan di jalanan selama bulan puasa.

"Makassar dipandang sebagai ibu kota provinsi yang memberi peluang sedekah lebih besar. Anggapan itu yang perlu kita antisipasi bersama," kata Bukti.

Editorial Team