Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pemkot Makassar Andalkan Kajian Akademik untuk Kurangi Titik Banjir
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin. IDN Times/Asrhawi Muin
  • Pemkot Makassar menggandeng Universitas Hasanuddin menyusun kajian akademik untuk memperkuat strategi mitigasi banjir, mencakup analisis titik rawan, evaluasi drainase, dan rekomendasi penanganan terpadu.
  • Wali Kota Munafri Arifuddin menyebut beberapa titik banjir di Makassar mulai berkurang, dengan durasi evakuasi warga yang lebih singkat sebagai tanda efektivitas langkah penanganan.
  • Gubernur Andi Sudirman Sulaiman menekankan pentingnya kolaborasi lintas pemerintahan dalam normalisasi sungai, pengerukan saluran, serta perbaikan infrastruktur drainase secara bertahap dan terkoordinasi.
    Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pemerintah Kota Makassar memperkuat strategi mitigasi banjir melalui kajian akademik bersama Universitas Hasanuddin untuk mengurangi titik dan dampak banjir di wilayah kota.
  • Who?
    Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, Universitas Hasanuddin, serta Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mencakup wilayah rawan banjir seperti Blok 8 dan 10 Perumnas Antang.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Kamis, 5 Maret 2026, dengan beberapa kegiatan mitigasi sudah berjalan dan sebagian masih dalam tahap pengerjaan multiyears.
  • Why?
    Langkah ini dilakukan untuk menekan frekuensi banjir, memperpendek durasi evakuasi warga, serta meningkatkan efektivitas penanganan melalui perencanaan berbasis data ilmiah.
  • How?
    Pemerintah melaksanakan kajian akademik, normalisasi sungai sepanjang delapan kilometer, perbaikan saluran dan pintu air bermasalah, serta pemasangan pompa air di titik rawan banjir secara terkoordinasi lintas pemerintahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Pemerintah Kota Makassar berupaya memperkuat strategi mitigasi banjir dengan pendekatan berbasis kajian akademik. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa upaya ini bertujuan mengurangi frekuensi dan dampak banjir di kota.

Kajian tersebut disusun bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin, mencakup analisis titik rawan banjir, evaluasi infrastruktur drainase, dan rekomendasi mitigasi terpadu. Hasil kajian ini menjadi acuan untuk mengajak seluruh pemangku kepentingan duduk bersama, termasuk pemerintah provinsi, balai wilayah sungai, dan pihak terkait lainnya.

"Kita sudah punya kajian seperti yang kita lakukan bersama dengan Unhas. Nah, kajian ini yang akan kita dudukkan sama-sama untuk mengajak seluruh pihak yang berkepentingan di dalamnya," kata Munafri, Kamis (5/3/2026).

1. Titik banjir diklaim mulai berkurang

Banjir di Perumnas Antang Blok 10, Kecamatan Manggala, Selasa (24/2/2026). (IDN Times/Istimewa)

Menurut Munafri, beberapa titik banjir lama di Makassar mulai menunjukkan perbaikan. Durasi evakuasi warga akibat banjir juga semakin pendek yang diklaim menandakan efektivitas langkah-langkah penanganan yang sudah dijalankan.

"Kalau kita lihat di kota Makassar hari ini, titik-titik yang selama ini banjir itu relatif berkurang kecuali yang sudah menjadi langganan banjir, itupun jarak lama mengungsinya itu sudah sangat pendek," katanya.

Munafri menekankan bahwa penanganan banjir tidak bisa hanya bersifat reaktif. Pendekatan integratif melalui kajian akademik memungkinkan perencanaan yang terukur dan kolaboratif sehingga setiap intervensi memiliki dampak langsung bagi masyarakat.

"Itu yang kita lakukan dan ini menjadi acuan untuk kita bekerja di tahun depan. Oh ini sudah kita perbaiki. Harus lebih ekstra lagi untuk memaksimalkan supaya banjir ini tidak lagi atau bisa kita kurangi lagi tingkat banjirnya," jelasnya.

2. Penanganan banjir butuh intervensi lintas pemerintahan

Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman. IDN Times/Asrhawi Muin

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, mengakui penanganan banjir perlu dilaksanakan secara bertahap. Hal ini karena tidak mungkin seluruh persoalan dapat diselesaikan sekaligus.

Dia menegaskan perlunya intervensi lintas pemerintahan untuk menangani banjir. Kerja sama ini melibatkan Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kota Makassar.

"Kita harus memitigasi banjir ini kemudian pelan-pelan kita harus penuhi. Kita tidak mungkin selesaikan semuanya. Tapi paling tidak, hal-hal yang bisa kita kerjakan tidak boleh kerjakan langsung," kata Sudirman.

3. Upaya normalisasi sungai dan perbaikan infrastruktur

ilustrasi sungai tercemar sampah plastik dan mengandung mikroplastik (IDN Times)

Dalam rangka normalisasi sungai, pengerukan sepanjang 5 kilometer di wilayah rawan banjir sudah dilaksanakan. Masih tersisa sekitar 3 kilometer yang akan dikeruk sebagai bagian dari mitigasi.

Khusus di Blok 8 dan 10 Perumnas Antang, fokus mitigasi diarahkan pada penyempitan saluran dan pintu air yang bermasalah. Perbaikan di area ini masuk dalam proyek multiyears.

"Ini kita sudah mitigasi kemarin memang di situ ada penyempitan saluran sungai kemudian ada pintu air yang memang yang harus. Sudah masuk multyears perbaikannya," kata Sudirman.

Upaya tambahan seperti pemasangan pompa air di titik-titik rawan banjir juga dipersiapkan. Menurut Sudirman, semua pihak perlu berkoordinasi agar kapasitas sungai dapat dikembalikan dan fungsi drainase maksimal.

"Sama-samaa tiga. Jadi, balai, provinsi dan Kota Makassar. Semuanya yang selalu menjadi titik-titik banjir itu kita harus melakukan mitigasi," katanya.

Editorial Team