Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG-20260206-WA0225.jpg
Suasana Kegiatan Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Angkatan III (Mandiri) Makassar 2026 di Sultan Alauddin Hotel and Convention, Jalan Sultan Alauddin, Kecamatan Tamalate, Makassar, Rabu (6/2/2026). (IDN Times/Darsil Yahya)

Intinya sih...

  • 65 peserta dari Sulawesi Selatan mengikuti sertifikasi pembimbing haji selama enam hari di Makassar.

  • Pembimbing haji harus memiliki wawasan luas, kemampuan finansial, dan karakter yang kuat sebagai referensi moral bagi jemaah.

  • Prof Hamdan Juhannis menegaskan bahwa pembimbing haji harus tuntas secara pribadi, matang secara emosi, dan punya integritas kuat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, mengingatkan bahwa menjadi pembimbing haji bukan sekadar memahami manasik. Seorang pembimbing, kata dia, harus tuntas secara pribadi, matang secara emosi, dan punya integritas kuat.

Pesan itu disampaikan Hamdan usai menutup kegiatan Sertifikasi Pembimbing Haji Angkatan III (Mandiri) yang digelar Kanwil Kemenag Sulsel bekerja sama dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar, Rabu (11/2/2026) malam.

1. Diikuti 65 peserta dari Sulawesi Selatan

Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis di Sultan Alauddin Hotel and Convention, Jalan Sultan Alauddin, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Rabu (11/2/2026) malam. (IDN Times/Darsil Yahya)

Kegiatan sertifikasi tersebut berlangsung selama enam hari, 6–11 Februari 2026, di Sultan Alauddin Hotel and Convention, Jalan Sultan Alauddin, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. Sebanyak 65 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan mengikuti angkatan ketiga ini.

Hamdan menegaskan bahwa pembimbing haji harus menjadi pribadi yang selesai dengan dirinya sendiri. “Tidak mungkin menjadi pembimbing haji profesional kalau dirinya saja tidak tuntas, tidak selesai,” ujar Hamdan.

Menurutnya, salah satu hal mendasar yang harus dimiliki pembimbing adalah kemampuan mengelola emosi. Sebab, mereka akan mendampingi jemaah dengan latar belakang, karakter, dan kepentingan yang beragam.

“Karena gampang emosi orang, apalagi banyak jemaah dengan ragam karakter. Juga kecenderungan, sikap yang berbeda-beda kepentingan, macam-macam,” katanya.

2. Pembimbing haji harus pintar kelola emosi dan tidak boleh baper

Peserta Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Angkatan III (Mandiri) Makassar 2026 di Sultan Alauddin Hotel and Convention, Jalan Sultan Alauddin, Kecamatan Tamalate, Makassar, Rabu (6/2/2026). (IDN Times/Darsil Yahya)

Hamdan menekankan, pembimbing haji adalah rujukan dalam beribadah. Karena itu, mereka tidak boleh mudah tersinggung atau terbawa perasaan.

“Maka harus mampu mengelola emosi, tidak mudah baper, sensi, mengontrol yang kepo-kepo apa itu semua,” ujarnya.

Hamdan merinci tiga hal utama yang wajib dimiliki pembimbing haji. Pertama, wawasan. Ia menilai, tanpa wawasan yang luas, pembimbing akan kesulitan menjawab pertanyaan jemaah.

“Kalau tidak ada wawasanmu, tidak sukses jadi pembimbing. Kalau ada pertanyaan dari jemaah, tidak bisa kamu jawab,” tegasnya.

3. Tidak boleh kalah secara moral

Kakanwil Kemenhaj Sulsel, Ikbal Ismail, Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Prof. Abd Rasyid Masri, foto bersama peserta Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Angkatan III (Mandiri) Makassar 2026 di Sultan Alauddin Hotel and Convention, Jalan Sultan Alauddin, Kecamatan Tamalate, Makassar, Rabu (6/2/2026) IDN Times / Darsil Yahya

Kedua, kemampuan finansial. Ia mengingatkan pembimbing tidak boleh bergantung secara materi kepada jemaah. “Yang kedua, uang. Harus ada materimu. Masa kau mau minta-minta sama jemaah, nda bisa,” katanya.

Ketiga, dan yang paling penting, adalah karakter atau integritas. Menurut Hamdan, pembimbing haji harus menjadi referensi moral bagi jemaah.

“Pembimbing itu tidak boleh kalah secara moral. Dia akan menjadi referensi moral,” ujarnya.

Ia menegaskan, tanpa integritas, wawasan dan materi tidak akan berarti. “Integritas, kalau pembimbing tidak memiliki yang ketiga ini, maka dua yang pertama menjadi tidak berarti apa-apa. Tidak ada gunanya wawasan, tidak ada gunanya uang kalau karakter tidak dimiliki,” kata Hamdan.

Editorial Team