Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
NTP Sulsel Turun ke 116,86 di Februari 2026, Daya Beli Petani Melemah
Ilustrasi petani panen (pexels.com/VINVIVU ®)
  • NTP Sulawesi Selatan Februari 2026 turun ke 116,86 atau melemah 1,07 persen dari bulan sebelumnya, menandakan daya beli petani menurun akibat harga hasil pertanian turun dan biaya meningkat.
  • Subsektor perkebunan rakyat alami penurunan terdalam hingga 5,60 persen, sementara hortikultura dan perikanan justru mencatat kenaikan berkat naiknya harga sayuran, buah-buahan, serta hasil tangkapan laut.
  • Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) juga turun ke 122,83 dipicu pelemahan subsektor perkebunan rakyat, meski empat subsektor lain menunjukkan peningkatan kinerja usaha tani di awal tahun.
    Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Selatan pada Februari 2026 turun menjadi 116,86 atau menurun 1,07 persen dibanding Januari 2026, menunjukkan pelemahan daya beli petani di wilayah tersebut.
  • Who?
    Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan merilis data tersebut melalui Berita Resmi Statistik yang diumumkan pada Rabu, 4 Maret 2026.
  • Where?
    Peristiwa ini terjadi di Provinsi Sulawesi Selatan, dengan laporan resmi disampaikan dari Kota Makassar sebagai pusat kegiatan BPS daerah.
  • When?
    Data mencakup kondisi bulan Februari 2026 dan dipublikasikan secara resmi pada tanggal 4 Maret 2026 oleh BPS Sulawesi Selatan.
  • Why?
    Penurunan terjadi karena harga hasil pertanian yang diterima petani menurun sementara harga kebutuhan konsumsi dan biaya produksi mengalami kenaikan.
  • How?
    NTP turun akibat Indeks Harga yang Diterima Petani berkurang 0,54 persen dan Indeks Harga yang Dibayar Petani naik 0,54 persen; subsektor perkebunan rakyat mencatat penurunan terdalam hingga 5,60 persen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times – Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sulawesi Selatan pada Februari 2026 tercatat sebesar 116,86 atau turun 1,07 persen dibanding Januari 2026 yang sebesar 118,12. Penurunan ini menunjukkan daya beli petani di perdesaan melemah karena harga hasil pertanian yang diterima petani turun, sementara harga kebutuhan yang harus mereka bayar justru meningkat.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan dalam Berita Resmi Statistik yang dikutip Rabu (4/3/2026) menjelaskan, NTP merupakan indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani. Jika NTP di atas 100, berarti secara umum petani mengalami surplus atau harga produksi yang diterima lebih tinggi dibanding pengeluaran mereka, sedangkan jika di bawah 100 berarti petani mengalami defisit.

1. Apa Itu NTP dan mengapa penting?

Ilustrasi bps IDN Times/Hana Adi Perdana

Secara konsep, NTP adalah perbandingan antara Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dengan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib), dikalikan 100. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) mencerminkan perkembangan harga komoditas hasil pertanian yang dijual petani, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) menggambarkan pengeluaran petani, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi.

Pada Februari 2026, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun 0,54 persen dari 145,45 pada Januari menjadi 144,67. Sebaliknya, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik 0,54 persen dari 123,13 menjadi 123,80.

Kenaikan Ib terutama dipicu oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,79 persen, dari 125,55 menjadi 126,54. Komponen makanan, minuman, dan tembakau naik 1,26 persen, sedangkan perawatan pribadi dan jasa lainnya meningkat 1,31 persen.

Sementara itu, pada komponen Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM), indeks naik tipis 0,07 persen dari 117,70 menjadi 117,78. Kenaikan terbesar terjadi pada upah buruh yang naik 0,65 persen dan bibit 0,39 persen, sedangkan pupuk, pestisida, obat-obatan, dan pakan turun 0,46 persen.

2. Perkebunan rakyat tertekan, hortikultura menguat

Ilustrasi petani sedang menyiapkan lahan hortikultura di daerah perbukitan. (Dok. Pribadi/Nabila Syifa)

Dari lima subsektor pertanian yang dihitung BPS, dua subsektor mengalami penurunan NTP pada Februari 2026. Penurunan terdalam terjadi pada Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) yang turun 5,60 persen dari 142,53 menjadi 134,54.

Penurunan NTPR terjadi karena It turun cukup dalam sebesar 4,86 persen dari 177,10 menjadi 168,49, sementara Ib naik 0,79 persen dari 124,26 menjadi 125,23. Selain itu, Subsektor Peternakan (NTPT) turun tipis 0,07 persen dari 110,43 menjadi 110,36.

Sebaliknya, Subsektor Tanaman Hortikultura (NTPH) naik 3,76 persen dari 111,46 menjadi 115,65. Kenaikan ini dipicu naiknya It sebesar 4,21 persen yang didorong oleh harga sayur-sayuran naik 4,36 persen, buah-buahan 2,28 persen, dan tanaman obat-obatan 1,63 persen.

Subsektor Perikanan (NTNP) juga mencatat kenaikan 1,09 persen dari 118,30 menjadi 119,59. Pada perikanan tangkap, It naik 1,99 persen sehingga NTN naik 1,74 persen dari 122,79 menjadi 124,93, sedangkan perikanan budidaya mencatat kenaikan NTPi 0,61 persen dari 115,09 menjadi 115,80.

Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) relatif stabil dengan kenaikan tipis 0,01 persen dari 111,87 menjadi 111,88. Kenaikan ini dipengaruhi naiknya harga padi 0,66 persen dan palawija 0,03 persen.

3. NTUP turut menurun

Ilustrasi petani memanen padi saat musim panen raya. (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)

Selain NTP, BPS juga merilis Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) yang pada Februari 2026 tercatat sebesar 122,83 atau turun 0,61 persen dibanding Januari 2026 sebesar 123,58. Berbeda dengan NTP yang mencerminkan kesejahteraan petani secara umum, NTUP mengukur kemampuan usaha tani dalam menghasilkan keuntungan karena membandingkan It dengan indeks biaya produksi saja (tanpa konsumsi rumah tangga).

Penurunan NTUP terutama terjadi pada Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat yang turun 5,61 persen dari 152,00 menjadi 143,48. Sementara empat subsektor lainnya mencatat kenaikan NTUP, yakni Tanaman Pangan naik 0,67 persen menjadi 117,69, Hortikultura naik 4,22 persen menjadi 121,82, Peternakan naik 0,34 persen menjadi 112,97, dan Perikanan naik 1,31 persen menjadi 124,27.

BPS Sulawesi Selatan menyimpulkan, meskipun NTP Sulsel masih berada di atas angka 100 yang berarti petani secara umum masih surplus, penurunan pada Februari 2026 menunjukkan tekanan terhadap daya beli, terutama akibat melemahnya harga komoditas perkebunan rakyat. Sebaliknya, subsektor hortikultura dan perikanan memberi sinyal positif bagi perbaikan kesejahteraan petani pada awal tahun ini.

Editorial Team