Makassar, IDN Times - Banyak catatan yang mengungkapkan bahwa masyarakat Tionghoa di Makassar melakukan akulturasi dan asimilasi dengan mulus. Tak cuma untuk kepentingan bisnis saja, tapi kelak turut mewarnai perkembangan seni-budaya lokal. Semuanya diawali dari penggunaan bahasa Makassar atau Bugis.
Peneliti Yerry Wirawan dalam buku Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar (KPG, 2014) menemukan sebuah kebiasaan menarik. Perempuan yang bertandatangan dalam kontrak peminjaman uang sering terlihat mampu menulis namanya dengan huruf Bugis atau Makassar.
Yerry menyebut ini adalah bukti perempuan Tionghoa Makassar mendapatkan pelajaran pelajaran menulis dalam keluarganya. Tapi, ini tak lepas dari faktor budaya di mana perempuan dipingit dalam rumah sang ayah dan mendapat pelajaran tulis menulis atai membaca dari ibu mereka.
