Ilustrasi makan bergizi gratis. (IDN Times/Erik Alfian)
Bu Ode menyebut sebagian siswa mengaku bosan atau tidak menyukai menu tertentu, terutama telur. Meski begitu, mayoritas siswa tetap mengonsumsi makanan yang dibagikan.
"Ada anak-anak yang bilang tidak mau makan telur, jadi tidak bisa dipaksakan. Tapi Alhamdulillah banyak juga yang makan," katanya.
Makanan yang tidak dikonsumsi siswa tidak dibuang, melainkan dibagikan kepada warga sekitar yang membutuhkan. Bu Ode mengatakan kelebihan makanan biasanya diberikan kepada tukang bentor yang mangkal di depan sekolah.
"Kita kasih juga ke orang lain yang lebih butuh. Kelebihannya kita kasih ke pak bentor di depan. Jadi membantu juga sih. Bapak bentor juga berterima kasih karena sudah dikasih lebihnya," katanya.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Sulawesi Selatan, Handayani Syaukani, kepada IDN Times, menjelaskan, layanan MBG di Kota Makassar selama masa libur sekolah pekan lalu hanya melayani sasaran 3B (balita, ibu hamil, dan ibu menyusui).
Pembagian makan bergizi di sekolah-sekolah, kata Handayani, kembali dilaksanakan pada 8 Januari 2026 saat siswa-siswi kembali belajar. "Sesuai surat edaran kepala badan. Operasional pertama di tahun 2026 adalah tanggal 8 Januari 2026," ucapnya.