Petugas PLN tengah meninjau pengoperasian inovasi Desalinasi Berbasis Energi Surya yang juga merupakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN di Pulau Barrang Lompo, Kota Makassar. (Dok. Istimewa)
Teknologi desalinasi yang sedang dijajaki memiliki kapasitas produksi sekitar 250 liter per jam. Munafri menyebut sekitar 30 persen air yang diproses dapat menjadi air hasil desalinasi, sementara sisanya memiliki kadar garam lebih tinggi.
Pemkot Makassar masih akan mengkaji kualitas air hasil pengolahan, kebutuhan energi, kapasitas produksi, hingga biaya pemeliharaan sebelum menentukan penerapannya. Hasil samping proses desalinasi juga disebut berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, seperti pembuatan es atau garam, dengan tetap memperhatikan persyaratan teknis dan keamanan.
"Kita mencoba mendengarkan apa yang menjadi masukan detail. Saya ajak Pak Camat, Kepala Dinas PU, Direktur PDAM, untuk memastikan apakah ini bisa kita pakai, apakah memang cocok dan dibutuhkan oleh masyarakat pulau atau tidak," tuturnya.
Selain persoalan air, penggunaan tenaga surya menjadi pertimbangan karena sejumlah pulau masih mengandalkan generator set berbahan bakar solar untuk kebutuhan listrik. Pemkot Makassar akan mengkaji kebutuhan panel surya, penyimpanan daya, lokasi penempatan alat, serta kebutuhan lahan sebelum program tersebut masuk dalam rencana penganggaran.
Munafri mengatakan penyediaan air bersih tidak hanya dibutuhkan untuk konsumsi, tetapi juga untuk mandi, memasak, mencuci, dan menunjang sanitasi masyarakat. Ketersediaan air juga dinilai penting untuk mendukung pengembangan potensi ekonomi dan pariwisata di wilayah kepulauan.
"Program ini kita harapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat pelayanan air minum bagi masyarakat di enam pulau berpenghuni, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan hingga ke wilayah kepulauan terluar Makassar," tukas Appi.