Warga mengantre mengambil air dari sumur bor di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar, Sabtu (25/4/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
Di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, air bersih bukan sesuatu yang bisa diandalkan dari keran rumah. Bahkan saat musim hujan, sebagian warga masih kesulitan mendapatkan air layak pakai.
Di lingkungan RT 6/RW 2, aktivitas warga mengambil air dari sumur bor sudah menjadi rutinitas. Sejak subuh, warga datang membawa jerigen dan gerobak untuk mengisi kebutuhan air harian.
Pengelola sumur bor setempat, Muhammad Nur, menyebut akses air bersih di wilayahnya masih terbatas. Jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) belum menjangkau seluruh kawasan, termasuk beberapa RT seperti RT 8.
"Kebutuhan pokok kan air untuk kehidupan. Nah, kebetulan di wilayah ini kan memang jangankan kemarau, musim hujan saja untuk mendapatkan air bersih agak kurang ya, agak sulit juga," kata Nur saat ditemui di rumahnya, Sabtu (25/4/2026).
Menurut Nur, sebagian warga mengandalkan sumur bor yang dibangun sejak 2016. Air tersebut kemudian diambil langsung oleh warga dengan sistem swadaya.
"Terus terang, untuk PDAM saja di sini, untuk mendapatkan aliran itu tidak ada. Terkhusus untuk RT 8, di sana belum ada jaringan dari PDAM," katanya.
Kondisi ini membuat warga harus beradaptasi setiap musim kemarau. Pembelian air menjadi pilihan alternatif, meskipun menambah beban pengeluaran rumah tangga.
Setiap hari, antrean warga terlihat di lokasi sumur bor. Mereka membawa jerigen untuk memenuhi kebutuhan memasak, mandi, hingga mencuci. Aktivitas ini berlangsung hampir tanpa jeda, terutama saat pasokan air dari sumber lain terbatas.
Nur mengatakan pengambilan air tidak dibatasi secara ketat. Namun, dalam satu kali pengambilan, warga biasanya mengambil maksimal dua gerobak agar antrean tetap berjalan.
"Kalau dari saya itu biasanya sudah mulai subuh sudah ada sampai habis memang orang untuk mengambil air, baru kami hentikan. Jadi kami tidak batasi jam sekian sampai jam sekian," katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi El Nino muncul pada pertengahan 2026. Fenomena ini berpotensi menurunkan curah hujan dan membuat musim kemarau lebih kering dari biasanya.
Jika kondisi tersebut terjadi, maka wilayah dengan keterbatasan akses air bersih seperti Buloa berisiko mengalami tekanan yang lebih besar. Pasokan air dari sumur bor maupun distribusi bantuan bisa terdampak jika sumber air menurun.
Meski demikian, Nur mengaku belum merasakan dampak signifikan dari perubahan cuaca sejauh ini. Warga berharap pasokan air tetap tersedia meskipun musim kemarau diprediksi lebih panjang.
"Mudah-mudahan di sini tidak ada terjadi hal-hal yang kita tidak inginkan, khususnya untuk pengadaan air ini," katanya.