Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lawan Reklamasi, Perempuan Pesisir Makassar Gelar Appanaung ri Je'ne
SP Anging Mammiri dan masyarakat pesisir Mangarabombang Makassar menggelar tradisi Appanuang Ri Je'ne. (Dahrul Amri/IDN Times Sulsel)

Makassar, IDN Times - Solidaritas Perempuan (SP) Anging Mammiri bersama nelayan tradisional dan perempuan pesisir di Pantai Mangarabombang, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menggelar tradisi Appanaung Ri' Je'ne, Selasa sore (20/6/2023).

Ketua badan eksekutif SP Anging Mammiri, Suryani mengungkapkan, Appanaung Ri' Je'ne atau tradisi turun ke air dilakukan untuk mengenang lagi tradisi masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) khususnya Bugis-Makassar yang kini semakin hilang.

"Kegiatan hari ini untuk bangkitkan tradisi nelayan kami (Bugis-Makasssar) karena semakin hilang dengan adanya proyek reklamasi yang secara luas mengikis budaya, karena ketika kau ambil laut juga mengambil tradisi kami," ungkap Suryani.

1. Akibat reklamasi, tradisi dan ruang hidup nelayan hilang

Masyarakat pesisir Makassar dan SP Anging Mammiri gelas tradisi Appanuang Ri Je'ne. (Dahrul Amri/IDN Times Sulsel)

Kata Suryani, proyek reklamasi untuk pembangunan Makassar New Port (MNP), tradisi Appanaung Ri' Je'ne telah hilang di tengah masyarakat nelayan. Reklamasi itu, kata Suryani, dimulai pada 2015 silam yang berdampak juga pada kondisi nelayan dan perempuan pesisir yang semakin kehilangan wilayah tangkap ikan.

"Bukan hanya ruang hidup, bukan hanya sumber pangan dan ekonomi yang akan hilang ketika laut itu ditimbun untuk kepentingan bisnis segelintir orang, tetapi ada budaya dan nilai yang lain ikut hilang, dan itu yang kita pertahankan," terang Suryani.

2. Reklamasi paling berdampak ke perempuan pesisir

Ketua badan eksekutif SP Anging Mammiri, Suryani. (Dahrul Amri/IDN Times Sulsel)

Suryani menegaskan, dampak dari reklamasi bukan hanya terjadi pada nelayan laki-laki, tapi juga sangat terasa bagi kaum perempuan pesisir pantai di Kota Makassar.

"Karena persoalan ini muncul maka dampaknya yang paling dirasa adalah perempuan, kenapa seperti itu? karena konstruksi tatanan kita itu sudah terbangun seperti itu. Dan perempuan selalu dinomorduakan, dianggap subordinasi," tegas Suryani.

"Perempuan melaut dikatakan bukan pelaut tapi dia membantu, itu berpengaruh terhadap identitas perempuan. Pada akhirnya keluar kebijakan tidak ada diperuntukkan untuk perempuan (melaut) karena tidak punya kartu nelayan," sambungnya.

3. Pendapatan terus menurun, nelayan terancam gulung tikar

Nelayan kepiting di pesisir Mangarabombang Makassar, Sangkala Andi (59). (Dahrul Amri/IDN Times Sulsel)

Sementara itu, salah satu nelayan kepiting rajungan, Sangkala Andi (59) mengaku, akibat reklamasi MNP pendapatannya terus menurun. Karena sebelum ada proyek MNP, dia dan nelayan di Mangarabombang bisa dapat 16 Kilogram (Kg) sehari.

"Dampaknya itu (MNP) luar biasa bagi kami, dulu sebelum ada ini (MNP) dalam satu malam itu kita bisa dapat 900 ribu, tapi sekarang paling banyak 250 ribu itu syukur-syukur kalau ada, paling sedikit kita dapat 50 ribu," ungkap Sangkala Andi.

"Kenapa tangkapan kita menurun karena kan dia keruk itu laut, dia timbun lagi dipinggir-pinggirnya sampai makanan kepiting itu tertimbun lumpur dan pasir. Diperkirakan dua sampai tiga tahun lagi nelayanan disini habis," tambahnya.

Editorial Team