Sendirian di rumah lapuk, Daeng Gassing jalani hari tua dengan serba kekurangan. (Dok. IDN Times/Istimewa)
Kondisi rumahnya yang tidak memiliki WC membuat aktivitas sehari-hari semakin sulit. Ia terpaksa buang air besar di belakang rumah.
“Iye, tidak ada WC. Katanya ada bantuan, tapi tidak pernah ada. Banyak yang datang foto-foto, tapi tidak ada juga realisasi seperti bedah rumah. Yang saya ingat cuma pernah dikasih seng untuk dinding,” tuturnya.
Ironisnya, ia juga harus berbagi ruang dengan ayam-ayam yang naik ke bagian atas rumah setiap malam. “Di atas itu ayam kalau malam. Saya tidur di bawah,” katanya.
Di tengah keterbatasan tersebut, perhatian masih datang dari keluarga, salah satunya cucu saudaranya, Darmadi Daeng Mile (40). Ia mengaku telah berulang kali mengajak Daeng Gassing untuk tinggal bersama, namun selalu ditolak.
“Sering kami ajak tinggal di rumah, tapi dia tidak mau. Padahal di sini sendiri, rumahnya juga tidak terurus,” kata Darmadi.
Menurutnya, Daeng Gassing memilih tetap bertahan di rumah tersebut meski kondisinya memprihatinkan. “Jadi dia tinggal sama ayamnya,” ujarnya.
Sepanjang hidupnya, Daeng Gassing tidak pernah menikah dan tidak memiliki anak. Di usia senja, ia hanya bergantung pada perhatian terbatas dari keluarga.
“Tidak pernah punya istri. Yang perhatikan itu ponakan sama cucunya dari saudaranya,” tambah Darmadi.
Ia pun menilai perhatian pemerintah terhadap kondisi tersebut masih minim, terutama untuk kebutuhan dasar seperti WC dan bantuan sembako. “Beginimi kondisinya. Dari pemerintah juga kurang perhatian. Bantuan WC saja tidak ada, jadi kalau mau buang air besar langsung ke belakang rumah,” kata dia.