Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lansia di Gowa Ini 20 Tahun Bertahan Sendirian di Rumah Nyaris Roboh
Sendirian di rumah lapuk, Daeng Gassing jalani hari tua dengan serba kekurangan. (Dok. IDN Times/Istimewa)
  • Daeng Gassing, lansia 61 tahun di Gowa, hidup sendirian selama dua dekade di rumah bambu nyaris roboh tanpa fasilitas dasar seperti WC.
  • Dulu bekerja sebagai buruh tani, kini ia bergantung pada bantuan tetangga dan keluarga karena kondisi fisik yang lemah serta minimnya bantuan pemerintah.
  • Meskipun keluarganya sering mengajak tinggal bersama, Daeng Gassing menolak dan memilih bertahan di rumah sederhana bersama ayam peliharaannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada kakek namanya Daeng Gassing, umurnya 61 tahun. Dia tinggal sendirian di rumah kecil yang sudah rusak di Gowa. Dulu dia kerja di sawah, tapi sekarang sudah tua dan lemah. Dia tidak punya uang dan makan dari bantuan tetangga dan keluarga. Rumahnya tidak ada WC, jadi susah sekali. Keluarganya mau ajak dia tinggal bersama, tapi dia tidak mau dan tetap di rumah itu dengan ayam-ayamnya. Pemerintah jarang bantu dia sekarang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Daeng Gassing S, 61 tahun, menjalani hari-harinya seorang diri di sebuah rumah sederhana di Dusun Tanetea, Desa Bontomanai, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di usia senja, ia hidup dalam kondisi serba terbatas dan jauh dari kata layak.

Rumah berukuran sekitar 4x6 meter yang ditempatinya sebagian besar sudah lapuk dimakan usia. Dinding dan lantai dapur yang terbuat dari anyaman bambu tampak rusak parah dan nyaris ambruk. Fasilitas dasar seperti WC pun tidak tersedia.

Bangunan tersebut bukan hasil jerih payahnya sendiri, melainkan dibuatkan oleh ponakannya yang berasal dari Maros. Ia telah tinggal di sana sekitar 20 tahun tanpa pendamping.

“Kalau saya tinggal di sini sekitar 20 tahun. Cuma sendiri. Ponakan orang Maros yang bangunkan rumah,” ujarnya.

1. Bertahan hidup sendiri sebagai buruh tani, kini mengandalkan bantuan

Sendirian di rumah lapuk, Daeng Gassing jalani hari tua dengan serba kekurangan. (Dok. IDN Times/Istimewa)

Selama dua dekade terakhir, Daeng Gassing menjalani hidup tanpa keluarga inti. Dulu, ia masih bisa bekerja sebagai buruh tani, mencangkul di sawah milik warga untuk menyambung hidup. Namun kini, kondisi fisiknya yang semakin lemah membuatnya tak lagi mampu bekerja.

“Sudah tidak ada yang bisa saya kerja. Dulu biasa dipanggil mencangkul kalau ada kerja sawah. Tapi sekarang sudah tua, tidak bisa bekerja,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia tidak memiliki penghasilan tetap. Ia bergantung pada bantuan tetangga dan keluarga yang masih peduli, meski enggan meminta secara langsung.

“Biasa habis beras, tetangga yang bawa. Cucu dari saudara juga kadang bawakan. Saya tidak meminta, cuma masih ada yang peduli,” ungkapnya.

2. Bertahan tanpa penghasilan tetap dan minim bantuan

Sendirian di rumah lapuk, Daeng Gassing jalani hari tua dengan serba kekurangan. (Dok. IDN Times/Istimewa)

Jika persediaan makanan habis, ia hanya mendatangi rumah keluarga dan memberi isyarat sederhana. “Kalau habis beras, saya pergi ke rumah saudara. Saya cuma bilang tidak memasak?,” ujarnya.

Meski hidup dalam keterbatasan, ia tetap berusaha menjaga harga dirinya. “Saya memang butuh bantuan, tapi saya tidak meminta-minta,” tegasnya.

Terkait bantuan pemerintah, Daeng Gassing mengaku tidak mengetahui banyak program yang pernah ia terima. Ia hanya mengingat satu kali bantuan saat dirinya dalam kondisi sakit sehingga tidak bisa mengambilnya sendiri.

“Saya tidak tahu, kecuali pernah dipanggil pak desa untuk terima bantuan, tapi saya tidak bisa datang karena sakit,” katanya.

Menurutnya, bantuan tersebut kemudian diantar oleh pihak lain berupa beras, mi instan, sabun, dan minyak goreng. Ia juga terakhir kali menerima bantuan dari UPZ Pemprov Sulsel pada 2023. Selebihnya, tidak ada bantuan rutin yang ia rasakan hingga saat ini.

3. Keluarga mengajak tinggal bersama tapi ditolak

Sendirian di rumah lapuk, Daeng Gassing jalani hari tua dengan serba kekurangan. (Dok. IDN Times/Istimewa)

Kondisi rumahnya yang tidak memiliki WC membuat aktivitas sehari-hari semakin sulit. Ia terpaksa buang air besar di belakang rumah.

“Iye, tidak ada WC. Katanya ada bantuan, tapi tidak pernah ada. Banyak yang datang foto-foto, tapi tidak ada juga realisasi seperti bedah rumah. Yang saya ingat cuma pernah dikasih seng untuk dinding,” tuturnya.

Ironisnya, ia juga harus berbagi ruang dengan ayam-ayam yang naik ke bagian atas rumah setiap malam. “Di atas itu ayam kalau malam. Saya tidur di bawah,” katanya.

Di tengah keterbatasan tersebut, perhatian masih datang dari keluarga, salah satunya cucu saudaranya, Darmadi Daeng Mile (40). Ia mengaku telah berulang kali mengajak Daeng Gassing untuk tinggal bersama, namun selalu ditolak.

“Sering kami ajak tinggal di rumah, tapi dia tidak mau. Padahal di sini sendiri, rumahnya juga tidak terurus,” kata Darmadi.

Menurutnya, Daeng Gassing memilih tetap bertahan di rumah tersebut meski kondisinya memprihatinkan. “Jadi dia tinggal sama ayamnya,” ujarnya.

Sepanjang hidupnya, Daeng Gassing tidak pernah menikah dan tidak memiliki anak. Di usia senja, ia hanya bergantung pada perhatian terbatas dari keluarga.

“Tidak pernah punya istri. Yang perhatikan itu ponakan sama cucunya dari saudaranya,” tambah Darmadi.

Ia pun menilai perhatian pemerintah terhadap kondisi tersebut masih minim, terutama untuk kebutuhan dasar seperti WC dan bantuan sembako. “Beginimi kondisinya. Dari pemerintah juga kurang perhatian. Bantuan WC saja tidak ada, jadi kalau mau buang air besar langsung ke belakang rumah,” kata dia.

Editorial Team