Makassar, IDN Times - Musisi di seluruh Indonesia terhenyak pada Februari 2025 lalu. Sukatani, band punk/new wave asal Purbalingga, mengunggah video permintaan maaf di akun Instagram resmi mereka. Sembari menanggalkan topeng dan identitas anonim, mereka menarik salah satu lagu dari album Gelap Gempita (2024) yakni "Bayar Bayar Bayar" dari seluruh platform.
Meski dicekal, lagu yang mengkritik praktik pungutan liar tersebut oknum polisi nakal tersebut justru semakin dikenal banyak orang, menciptakan Streisand effect. Gelombang solidaritas datang dari berbagai pihak, termasuk sesama musisi. "Bayar Bayar Bayar" bahkan menjadi anthem tak resmi dari rangakaian aksi #IndonesiaGelap.
Duo yang terdiri dari Poison Girl (vokalis) dan Electroguy (gitaris) ini akhirnya angkat bicara melalui pernyataan tertulis pada Sabtu kemarin (1/3/2025). Mereka mengaku mengalami tekanan dan intimidasi dari kepolisian sejak Juli 2024. Dalam pernyataan yang sama, tawaran menjadi Duta Polisi pun ditolak mentah-mentah.
Di sisi lain, intimidasi Sukatani memicu diskusi luas mengenai kebebasan berkesenian di Indonesia. Apakah hanya sekadar omong kosong dan memang musisi dan seniman tak pernah benar-benar bebas?
