Zulfaidar Pai saat menjual kopi di pinggir Jalan Raya Pendidikan samping Kampus UNM Makassar,Jumat (10/9/2021). IDN Times/Asrhawi Muin
Warga Kota Makassar mungkin belum familier dengan konsep penjualan kopi keliling seperti yang dijalankan Pay. Sebab umumnya warga lebih akrab dengan sajian kopi di warkop, kedai kopi, maupun kafe.
Mengusung konsep penjualan keliling rupanya telah menjadi pilihan Pay meski warkop hingga kedai kopi menjamur di sudut-sudut kota. Dia tentu punya alasan sendiri mengapa tak memilih mengikuti pasar pada umumnya.
"Karena saya punya prinsip dengan pengalaman waktu saya masih kerja, saya punya prinsip menjemput bola lebih bagus daripada menunggu bola," kata Pay yang merupakan mantan wartawan ini.
Pay mengakui fenomena warkop dan kafe memang begitu menjamur beberapa tahun terakhir. Selain itu, banyak juga orang-orang yang memilih menjual kopi di depan minimarket yang tentu saja memakan biaya sewa.
Namun dia merasa tak terlalu cocok dengan konsep penjualan semacam itu. Baginya, menjual kopi keliling lebih asyik dibanding diam di tempat sambil menunggu pelanggan datang. Lagipula, dia tak mau terbebani dengan biaya sewa besar.
"Dengan mobile begini kan saya tidak ada keluar uang sewa tempat. Saya juga lebih leluasa, bisa ke mana-mana. Dari segi investasi juga relatif lebih murah. Hanya menggunakan motor dan dirancang khusus dibuatkan boks," katanya.
Pay memang baru sebentar berjualan kopi keliling. Namun dia terlihat luwes saat membuat kopi. Rupanya, harus melalui proses belajar dulu sebelum akhirnya membuka usaha ini.
"Karena meskipun saya penikmat kopi tapi waktu itu saya belum punya pengalaman bagaimana sih cara membuat kopi yang enak," kata dia.
Walau berjualan keliling, Pay tak ingin kopi jualannya dibuat asal-asalan. Dia tetap ingin menyajikan rasa kopi terbaik kepada pelanggan. Dari pengalamannya saat singgah di warkop, dia sering melihat mereka meracik kopi secara manual di mana kopi disaring menggunakan kain. Sari-sari kopi itulah yang kemudian disajikan ke pelanggan.
"Tapi saya ingin lebih modern dengan menggunakan alat-alat yang khusus dibuat untuk menciptakan seduhan kopi yang berbeda dengan warkop-warkop," katanya.
Bisa dikatakan kopi yang disajikan Pay dibuat ala barista. Hal itu karena dia memang belajar dari seorang teman yang dulunya berprofesi sebagai barista.
"Dia ajarkan saya bagaimana membuat kopi yang enak. Setelah itu saya baru tahu bahwa ternyata untuk membuat kopi yang enak tidak semudah itu. Kalau di warung kopi kan mereka tidak pakai takaran bahwa satu gelas sekian gram. Yang penting seduh, kasih ke orangnya. Kalau di barista ada aturannya," katanya.
Namun sebelum itu, Pay juga belajar secara online yang berbayar. Setelah itu, barulah dia memaksimalkan kemampuannya di bidang kopi dengan belajar ke teman baristanya tanpa membayar.
"Itu proses belajarnya kurang lebih satu bulan sebelum saya yakin untuk turun lapangan," kata Pay.