Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kasus COVID-19 di Sulsel Terus Meningkat, Tanda Gelombang Kedua?
Ilustrasi virus corona. IDN Times/Arief Rahmat

Makassar, IDN Times - Penambahan kasus COVID-19 di Sulawesi Selatan terus terjadi. Hingga Rabu 16 Desember 2020, kasus COVID-19 di Sulsel telah menembus angka 24.019 kasus dengan penambahan kasus harian sebanyak 447 kasus.

Penambahan kasus harian itu merupakan yang tertinggi sejak pandemik COVID-19 di Sulsel mulai dilaporkan pada Maret 2020. Angka tersebut didapatkan dari hasil pemeriksaan 2.677 spesimen. Seiring penambahan kasus, angka reproduksi efektif juga naik, yakni 1,11, setelah sempat turun jadi 0,93 di bulan Agustus lalu.

Epidemiolog Universitas Hasanuddin, Ansariadi, mengatakan peningkatan kasus yang terus terjadi belakangan ini menunjukkan penyebaran virus Corona penyebab COVID-19 masih terus berlanjut di masyarakat.  Dia menyebut meningkatnya penularan di tengah masyarakat terjadi karena mobilitas penduduk atau interaksi penduduk yang mulai lebih tinggi. Selain itu juga terjadi kontak erat antara orang positif dan negatif.

"Terjadi kontak erat antara mereka yang positif yang selama ini mungkin belum terdeteksi dengan mereka yang masih sehat," kata Ansariadi kepada IDN Times melalui pesan WhatsApp, Kamis (17/12/2020).

1. Belum dipastikan sebagai gelombang kedua

Ilustrasi virus corona (IDN Times/Arief Rahmat)

Meningkatnya kasus secara signifikan di akhir tahun 2020 ini, membuat sebagian publik meyakini bahwa ini merupakan gelombang kedua pandemik COVID-19 di Sulsel. Meski begitu, Ansariadi mengaku belum bisa memastikan hal tersebut.

"Saya belum bisa menyatakan apakah ini gelombang kedua atau pertama. Karena boleh jadi ini efek dari testing yang dilakukan yang lebih masif," kata Ansariadi.

Beberapa bulan lalu, kata dia, jumlah orang yang dites sekitar lebih dari seribu per hari. Sedangkan sekarang jumlah itu mengalami peningkatan dua kali lipat menjadi lebih dari 2.000-an per hari.

"Sehingga jumlah kasus yang ditemukan meningkat dua kali lipat seiring dengan peningkatan jumlah yang dites dua kali lipat juga," katanya.

Tapi selain peningkatan jumlah spesimen yang dites, Ansariadi menyebutkan bahwa peningkatan kasus memang dipicu aktivitas masyarakat yang semakin longgar.

2. Pemerintah harus memasifkan kembali testing dan tracing

Warga menjalani tes usap (swab test) melalui mobil tes polymerase chain reaction (PCR) saat tes usap massal di Kecamatan Mamajang, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (26/9/2020). (ANTARA FOTO/Arnas Padda)

Merujuk kepada peningkatan kasus itu, Ansariadi mengingatkan pemerintah harus segera melakukan langkah taktis untuk mencegah penularan lebih luas. Salah satu langkahnya yaitu kembali meningkatkan pencarian kasus secara masif, baik melalui contact tracing dan penyediaan fasilitas swab gratis.

Di Kota Makassar yang masih menjadi episentrum penularan COVID-19 di Sulsel, Dinas Kesehatan telah menjalankan kembali testing dan tracing tersebut. Tes ini disediakan di Puskesmas di Kota Makassar terhitung sejak 3 - 23 Desember 2020. 

Menurut Ansariadi, langkah ini memang harus dilakukan untuk menemukan segera orang yang terpapar. Sebab orang yang terpapar ini harus segera dipisahkan dengan orang lain untuk memutus rantai penularan.

"Jumlah kasus yang ada di masyarakat tinggi dan pencarian yang aktif menyebabkan banyak yang terdeteksi atau jumlah yang dilaporkan meningkat seperti sekarang ini," kata Ansariadi.

Penambahan kasus terbanyak memang masih terjadi di Makassar. Dari 447 kasus baru itu, sebanyak 283 di antaranya ada di Makassar. Selebihnya adalah Gowa 61 kasus, Parepare dan Selayar masing-masing 12 kasus.

3. Pemerintah harus membuat kebijakan yang membatasi kerumunan

Ilustrasi kerumunan (IDN Times/Rochmanudin)

Ansariadi juga mengakui soal longgarnya protokol kesehatan. Menurutnya kelonggaran itu terjadi dikarenakan orang mulai beraktivitas kembali seperti semula tanpa menyadari bahwa COVID-19 bisa menular masif kembali.  

"Kalau saya observasi sekarang, hampir semua kegiatan sudah kembali normal, kecuali sekolah dan kampus yang belum dibuka. Sektor bisnis semua sudah dibuka mungkin orang lalai menjaga protokol kesehatan," katanya. 

Kemungkinan lainnya adalah banyak orang yang sebenarnya positif tapi belum terdeteksi. Akhirnya bergabung dan berinteraksi dengan orang yang masih sehat sehingga memicu penularan.

Untuk itulah testing dan tracing harus digalakkan kembali. Selain itu, pemerintah juga harus mengeluarkan kebijakan agar menekan penularan. 

"Mengurangi kegiatan berkumpul-kumpul, membatasi mobilitas penduduk, dan isolasi yang positif. Yang saya maksud di sini adalah isolasi mereka yang dinyatakan positif hasil swab," katanya. 

Dia pun mengapresiasi kebijakan Pemkot Makassar yang telah menerbitkan surat edaran terkait Natal dan Tahun Baru. 

"Ini salah satu kebijakan Pemkot yang saya kira cukup bagus untuk antisipasi kemungkinan peningkatan penularan di akhir tahun ini," katanya.

Pemerintah melalui Satuan Tugas Penanganan COVID-19, menggelar kampanye 3 M : Gunakan Masker, Menghindari Kerumunan atau jaga jarak fisik dan rajin Mencuci tangan dengan air sabun yang mengalir. Jika protokol kesehatan ini dilakukan dengan disiplin, diharapkan dapat memutus mata rantai penularan virus. Menjalankan gaya hidup 3 M, akan melindungi diri sendiri dan orang di sekitar kita. Ikuti informasi penting dan terkini soal COVID-19 di situs covid19.go.id dan IDN Times

Editorial Team