Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kapan Idul Adha 2026? Ini Lokasi Pemantauan Hilal di Sulsel
Suasana rukyatul hilal penentuan awal Ramadan 1447 H di Observatorium Unismuh Makassar, Selasa (17/2/2026). (IDN Times/Asrhawi Muin)
  • Kementerian Agama akan menggelar rukyatul hilal pada 17 Mei 2026 di observatorium Menara Unismuh Makassar untuk menentukan awal Dzulhijjah 1447 H dan tanggal Idul Adha 2026.
  • Hasil pengamatan hilal dari Sulsel akan dilaporkan ke Sidang Isbat nasional di Jakarta sebagai bahan penetapan resmi 1 Dzulhijjah oleh Kemenag RI bersama berbagai lembaga terkait.
  • Kemenag menyiapkan 88 titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia, dengan posisi hilal diperkirakan berada di atas ufuk antara 3 hingga hampir 7 derajat saat rukyat berlangsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Hari Raya Idul Adha diperingati setiap 10 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah. Untuk menentukan awal bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah sekaligus menetapkan tanggal Idul Adha 2026, Kementerian Agama akan menggelar pemantauan hilal atau rukyatul hilal pada Minggu (17/5/2026).

Di Sulawesi Selatan, pemantauan hilal akan dipusatkan di observatorium Menara Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar. Rukyatul hilal digelar oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel melalui Bidang Urusan Agama Islam (Urais) dengan melibatkan unsur BMKG Makassar dan Pengadilan Agama Makassar.

1. Pemantauan hilal di Sulsel dilakukan terbatas

Pemantauan hilal awal Ramadan 1447 Hijriah di Observatorium Unismuh Makassar, Selasa (17/2/2026). (IDN Times/Asrhawi Muin)

Kepala Bidang Urais Kanwil Kemenag Sulsel, Abdul Gaffar, mengatakan pelaksanaan rukyatul hilal tahun ini dilakukan secara sederhana menyesuaikan kebijakan efisiensi anggaran. Meski demikian, proses pengamatan tetap mengedepankan akurasi hasil pemantauan.

“Mengingat adanya efisiensi anggaran, pelaksanaan rukyatul hilal dilakukan secara terbatas. Unsur yang dilibatkan hanya Kanwil Kemenag Sulsel, BMKG dan Pengadilan Agama Makassar,” ujar Abdul Gaffar dalam keterangannya di Makassar, Senin (11/5/2026).

Menurut Abdul Gaffar, observatorium Menara Unismuh Makassar kembali dipilih karena memiliki posisi yang representatif untuk pengamatan hilal. Lokasi tersebut juga sebelumnya digunakan untuk pemantauan awal Ramadan dan Syawal 1447 Hijriah.

“Unismuh sudah beberapa kali kita gunakan untuk melakukan pemantauan hilal. Tempatnya sangat representatif dan mudah dijangkau, serta memiliki tingkat visibilitas yang relatif baik,” katanya.

2. Hasil rukyat Sulsel dilaporkan ke Sidang Isbat nasional

Menteri Agama Nasaruddin Umar saat konferensi pers Sidang Isbat penentuan 1 Syawal 1447 H (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Abdul Gaffar menjelaskan hasil rukyatul hilal dari Sulawesi Selatan nantinya akan dilaporkan ke Kementerian Agama RI di Jakarta sebagai bagian dari data nasional penentuan awal Dzulhijjah 1447 Hijriah.

Laporan tersebut akan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat penetapan 1 Dzulhijjah 1447 H yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu malam di Auditorium HM Rasjidi Kementerian Agama RI, Jakarta.

“Insya Allah, setelah pengamatan dilakukan kita akan mengetahui posisi dan ketinggian hilal. Selanjutnya hasil tersebut akan segera dilaporkan ke Jakarta sebagai bagian dari laporan nasional,” ujar Abdul Gaffar.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag RI, Arsad Hidayat, mengatakan sidang isbat akan melibatkan berbagai unsur, mulai dari BMKG, BRIN, Badan Informasi Geospasial (BIG), Majelis Ulama Indonesia (MUI), ormas Islam, akademisi, hingga Tim Hisab Rukyat Kemenag.

“Sidang isbat menjadi forum bersama untuk memadukan hasil hisab dan rukyatul hilal guna menetapkan awal Dzulhijjah 1447 H secara akurat dan dapat diterima seluruh umat Islam Indonesia,” ujar Arsad dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).

3. Kemenag siapkan 88 titik rukyatul hilal di Indonesia

Pemantauan hilal awal Ramadan 1447 Hijriah di Manado, Sulawesi Utara, Selasa (17/2/2026). IDNTimes/Savi

Kementerian Agama menyiapkan 88 titik rukyatul hilal yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua Barat. Lokasi pengamatan meliputi observatorium, pantai, rooftop gedung, menara pemantauan, hingga masjid strategis di berbagai daerah.

Berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak menjelang Dzulhijjah 1447 H diperkirakan terjadi pada Ahad, 17 Mei 2026 sekitar pukul 03.00.55 WIB. Saat rukyat berlangsung, posisi hilal di Indonesia diperkirakan berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 3 derajat 37 menit 51 detik hingga 6 derajat 54 menit 23 detik.

Sementara itu, sudut elongasi atau jarak sudut antara bulan dan matahari diperkirakan berkisar antara 8 derajat 58 menit 23 detik hingga 10 derajat 36 menit 52 detik.

“Pemantauan hilal dilakukan secara luas di berbagai wilayah Indonesia agar hasil rukyat yang diperoleh semakin akurat dan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dalam sidang isbat,” kata Arsad.

Editorial Team