Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jelang Iduladha, Pemprov Sulsel Optimistis Inflasi Tetap Terkendali
Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)
  • Pemprov Sulsel optimistis menjaga inflasi di bawah target nasional 2,5 persen plus 1 menjelang Iduladha meski menghadapi tantangan cuaca dan distribusi pangan.
  • Pemerintah daerah fokus memperlancar distribusi komoditas cepat rusak seperti tomat serta mendorong kerja sama perdagangan antardaerah agar pasokan tetap stabil.
  • Cabai, ikan, beras, emas, skincare, dan tarif listrik menjadi pemicu inflasi utama; Pemprov bersama TPID menyiapkan Gerakan Pangan Murah dan operasi pasar untuk menekan harga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mulai mengantisipasi potensi kenaikan harga sejumlah bahan pokok. Cuaca yang tidak menentu, distribusi antardaerah, hingga daya simpan komoditas pangan menjadi perhatian. 

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Sulsel, Andi Darmawan Bintang, mengatakan Sulsel masih optimistis mampu menjaga laju inflasi tetap berada di bawah target nasional.

"Dari data dan informasi yang disampaikan oleh dinas terkait, insyaallah bahwa kita harus mempertahankan laju inflasi, masih di bawah tingkat nasional 2,5 persen plus 1," kata Andi Darmawan, Senin (11/5/2026). 

1. Distribusi tomat hingga cuaca jadi perhatian

ilustrasi tomat. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Darmawan menyebut inflasi Sulsel pada Maret 2026 berada di angka 2,65 persen dan masih lebih rendah dibanding rata-rata nasional. Meski begitu, pemerintah daerah tetap mewaspadai sejumlah faktor yang berpotensi memicu kenaikan harga menjelang hari besar keagamaan.

Salah satu perhatian utama yakni distribusi komoditas pangan cepat rusak seperti tomat. Menurut Darmawan, beberapa daerah penghasil memiliki tingkat konsumsi rendah sehingga pasokan harus segera dikirim ke wilayah lain agar tidak rusak.

"Ada kadang penghasil tomat, tapi konsumsi tomat pada daerah tersebut tidak terlalu tinggi, sehingga dia harus mengekspor keluar. Tomat, kan cepat rusak," katanya. 

2. Pemprov dorong perdagangan antardaerah

Selain cuaca dan distribusi, perbaikan jalur transportasi antardaerah juga dinilai dapat memengaruhi kelancaran pasokan pangan. Karena itu, koordinasi antarkabupaten dan kota terus didorong, terutama untuk memenuhi kebutuhan daerah yang mengalami kekurangan komoditas tertentu.

Menurut Darmawan, skema perdagangan antardaerah sebenarnya sudah mulai diterapkan di beberapa wilayah. Namun hasil evaluasi menunjukkan belum seluruh kerja sama berjalan optimal.

"Ada empat daerah yang sudah kerja sama. Jadi kalau saya kurang, saya minta. Tapi kalau tidak kurang, ya, tidak minta," ucapnya.

3. Cabai hingga beras jadi pemicu inflasi

ilustrasi cabai. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Sementara itu, Sekretaris Daerah Sulsel, Jufri Rahman, menyebut pemicu inflasi di Sulsel masih didominasi komoditas konvensional seperti cabai rawit dan ikan cakalang, tongkol, tuna (CAT). Dia juga menyoroti beras yang kini ikut menjadi penyumbang inflasi.

"Beras juga ternyata pemicu inflasi. Anomali, saya kata. Karena kan kita selama ini banyak sekali kita punya produk beras di Sulawesi Selatan, melimpah, kok bisa jadi pemicu inflasi," katanya.

Selain bahan pangan, emas juga tercatat menjadi salah satu pemicu inflasi di Sulsel. Produk skincare dan tarif listrik turut menyumbang kenaikan inflasi di daerah tersebut.

Untuk menekan lonjakan harga, Pemprov Sulsel bersama TPID kabupaten dan kota menyiapkan intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM) dan operasi pasar. Pemerintah juga membuka akses stok Bulog untuk beras dan minyak goreng.

"Kalau supply lancar, harga tidak akan bergerak naik," kata Jufri.

Editorial Team