One Global Resorts Green Square, hotel milik pengusaha Indonesia Iwan Sunito di Sydney, Australia, mencatat rekor okupansi tertinggi tiga bulan terakhir. (Dok. Istimewa)
Iwan mengatakan daya tarik Sydney bagi investor tidak hanya berkaitan dengan sektor properti. Infrastruktur, konektivitas internasional, pendidikan, pariwisata, gaya hidup, dan lingkungan bisnis turut menjadi pertimbangan dalam melihat peluang investasi di kota tersebut.
“Investor saat ini tidak hanya melihat sebuah aset. Mereka juga melihat kotanya. Apakah kota tersebut memiliki konektivitas? Apakah ekonominya berkembang? Apakah orang ingin tinggal, bekerja, berbisnis dan menghabiskan waktu di sana? Semua itu menjadi bagian dari value sebuah investasi,” jelasnya.
Perkembangan tersebut, menurut Iwan, juga tercermin dari kinerja One Global Resorts Green Square. Hotel bintang lima tersebut mencatat rata-rata okupansi 95,07 persen sepanjang Januari hingga Juni 2026 dengan gross income sekitar AU$10,8 juta.
Properti milik One Global Capital tersebut juga memperoleh penghargaan Travelers' Choice Best of the Best 2026 dari Tripadvisor dan menempati posisi ke-11 dari 195 hotel di Sydney.
“Angka tentu penting, karena menunjukkan performa bisnis. Tetapi di balik angka tersebut, ada orang yang datang, tinggal, bekerja, bertemu, dan menikmati Sydney. Itu yang menurut saya jauh lebih menarik,” ujarnya.
Sebagai pengusaha kelahiran Indonesia yang membangun bisnis di Australia, Iwan melihat hubungan kedua negara memiliki ruang untuk terus berkembang. Menurutnya, meningkatnya kunjungan masyarakat Indonesia ke Sydney juga menjadi bagian dari hubungan antarmasyarakat kedua negara.
“Saya lahir di Indonesia dan membangun bisnis di Australia. Jadi ketika melihat semakin banyak orang Indonesia datang ke Sydney, saya melihatnya sebagai sebuah jembatan. Ada hubungan yang terus tumbuh antara kedua negara, bukan hanya melalui perdagangan dan investasi, tetapi juga melalui people-to-people connection,” katanya.
Iwan menilai perubahan akan terus terjadi di kota-kota global seperti Sydney. Namun, kemampuan kota menarik talenta, modal, wisatawan, dan pelaku usaha menjadi salah satu faktor yang menentukan daya saing dalam jangka panjang.
“Pasar bisa naik-turun. Kondisi ekonomi juga bisa berubah. Tetapi kota yang memiliki fundamental kuat akan terus beradaptasi. Sydney memiliki ekosistem yang membuat orang ingin kembali, bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali,” katanya.
“Orang datang tidak hanya untuk melihat Sydney, tetapi untuk menjadi bagian dari kota ini—bisa hanya untuk beberapa hari, beberapa bulan, atau jangka panjang,” ucapnya.