Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi ikan laut (vecteezy.com/ast007392369)
ilustrasi ikan laut (vecteezy.com/ast007392369)

Intinya sih...

  • Cuaca buruk ganggu hasil tangkapan nelayan

  • Dorong pemetaan jadwal panen dan tanam antar daerah

  • Biaya transport ikut dorong kenaikan harga ikan laut

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Kenaikan harga komoditas laut rupanya mendominasi pembentuk inflasi Sulawesi Selatan pada Januari 2026. Dari sepuluh penyumbang utama inflasi, tujuh di antaranya berasal dari kelompok ikan segar dan hasil laut.

Data Bank Indonesia Sulawesi Selatan menunjukkan ikan teri mengalami kenaikan tertinggi sebesar 12,36 persen. Disusul tomat 13,12 persen, ikan layang 8,24 persen, ikan cakalang 7,67 persen, ikan kembung 5,30 persen, ikan bandeng 3,62 persen, serta udang basah 3,86 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengakui kenaikan harga ikan pada awal tahun. Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan faktor cuaca yang memengaruhi pasokan hasil tangkapan.

"Tujuh dari sepuluh penyumbang utama inflasi berasal dari tekanan harga ikan segar akibat kondisi cuaca yang kurang kondusif," kata Rizki, Sabtu (14/2/2026).

1. Cuaca ganggu hasil tangkapan nelayan

Ilustrasi nelayan (IDN Times/Daruwaskita)

Rizki menjelaskan gangguan cuaca berdampak langsung terhadap hasil tangkapan nelayan. Ketika suplai berkurang, maka harga di pasar mau tidak mau harus menyesuaikan.

Dia menyampaikan berdasarkan informasi BMKG terdapat sejumlah daerah yang rawan hujan deras dan banjir. Kondisi tersebut perlu diantisipasi dengan memperbanyak stok di wilayah-wilayah yang berpotensi terdampak. Antisipasi ini bukan hanya berlaku untuk ikan melainkan semua komoditas.

"Semuanya berpotensi, tapi dari BMKG ada beberapa daerah yang rawan hujan deras dan rawan banjir. Itu pasti harus diwaspadai sehingga stok harus diperbanyak di wilayah-wilayah tersebut. Daerah yang aman dari hujan, tolong disuplai yang rawan," katanya.

2. Dorong pemetaan jadwal panen dan tanam

Ilustrasi panen (IDN Times/Nana Suryana)

Di sisi lain, Rizki juga mendorong adanya pemetaan jadwal tanam dan panen antar daerah. Upaya tersebut dinilai dapat membuat distribusi komoditas lebih merata.

"Saran kami ya kita duduk bareng tiap kabupaten kota kapan sih jadwalnya panen. Kapan jadwalnya menanam sehingga dapat diidentifikasi oh bulan ini saya panen bawang sekian ribu ton. Yang kekurangan, dikerjasamakan daerah," katanya.

Saat suplai tersedia dan terdistribusi dengan baik, kata dia, maka harga akan relatif sama di masing-masing daerah. Selama ini masih terjadi perbedaan harga karena belum ada pemetaan yang terkoordinasi, sehingga ke depan hal tersebut perlu dibenahi.

3. Biaya transport ikut dorong kenaikan harga

Ilustrasi pesawat (IDN Times/Arief Rahmat)

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman, menyebut komoditas perikanan memang menjadi salah satu pemicu inflasi di sejumlah daerah. Kondisi tersebut terutama terjadi di wilayah yang tidak memiliki garis pantai.

"Ada yang ikan-ikanan. Kalau daerah yang tidak ada pantainya itu pemicu inflasinya ikan laut. Karena itu kerja sama antar daerah mau beli ikan dengan Pangkep, kemudian bisa juga dari Jeneponto juga tapi dia meminta," katanya. 

Jufri juga menilai biaya transportasi turut memengaruhi kenaikan harga. Biaya mobilisasi komoditas dari daerah penghasil ke wilayah tujuan dinilai ikut mendorong lonjakan tersebut.

"Sudah disampaikan sebulan dalam high level meeting bisa menggunakan BTT untuk bantuan biaya transport. Karena biasa harga naik itu karena transport, biaya mobilisasi," katanya.

Editorial Team