Dialog Kealumnian Lintas Generasi yang digelar Dewan Presidium Nasional Ikatan Alumni Jogjakarta (IKAJO) Sulawesi Selatan. (Dok. IDN Times/Istimewa)
Tadjuddin Rahman, pengacara yang merupakan alumni Hukum UII angkatan 1975, memberikan perspektif berbeda namun seirama. Baginya, alumni adalah sebuah ingatan untuk mereferensi masa lalu.
"Ada bahagia, cinta dan derita jadi satu. Organisasi alumni menjadi tempat bercerita itu semua, terutama Jogja. Karena Jogja jauh lebih memikat, dan selalu melahirkan kenangan," tuturnya.
Dia menilai organisasi alumni harus memberikan dampak nyata. Menurutnya, alumni bukan hanya ruang nostalgia, tetapi juga sumber energi positif untuk lingkungan sekitar.
"Jika alumni bersatu, maka kita kuat. Dan yang pasti, organisasi itu harus memberi nilai tambah. Ada energi positif yang harus diberikan," kata Tadjuddin.
Sementara itu, Malik Hambali mengenang masa kuliahnya di Yogyakarta pada 1959-1965 sebagai pengalaman berharga. Ia menyebut menjadi sarjana saat itu merupakan kebanggaan besar yang selalu dikenang.
Melalui momentum Halal Bihalal ini, IKAJO menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjadi wadah silaturahmi. Organisasi ini diarahkan untuk berkembang menjadi kekuatan struktural yang mampu berkontribusi dalam berbagai sektor. Acara yang berlangsung hingga malam hari itu ditutup dengan semangat kolektif untuk membawa IKAJO ke arah yang lebih progresif, melampaui sekadar nostalgia menuju aksi nyata.