Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hilal Tak Terlihat di Makassar, Penetapan 1 Syawal Tunggu Sidang Isbat
Pemantauan hilal yang berlangsung di Observatorium Universitas Muhammadiyah Makassar, Kamis (19/3/2026). IDN Times/Ashrawi Muin

Makassar, IDN Times - Pemantauan hilal di Sulawesi Selatan dilakukan di Observatorium Universitas Muhammadiyah Makassar, Kamis (19/3/2026). Hasil pengamatan menunjukkan bulan baru Ramadhan tidak terlihat, sehingga 1 Syawal 1447 Hijriah kemungkinan besar ditetapkan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Pantauan berlangsung di Observatorium Universitas Muhammadiyah Makassar, Kamis (19/3/2026), melibatkan organisasi masyarakat Islam, termasuk BMKG Wilayah 4 Makassar. Seluruh pihak sepakat hilal tidak terlihat akibat kondisi cuaca berawan.

"Hari ini pada saat pemantauan tadi itu semua sepakat tidak melihat bulan ya. Artinya hari ini kita tidak melihat bulan di Sulawesi Selatan karena mungkin salah satu faktornya adalah Sulawesi Selatan hari ini berawan,"kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulsel, Ali Yafid.

Hasil perhitungan menunjukkan tinggi hilal hanya 1 derajat 53 menit dengan sudut elongasi 5 derajat 57 menit. Padahal, kriteria minimal agar hilal dapat terlihat menurut standar MABIMS adalah tinggi 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat.

Berdasarkan perhitungan astronomi, matahari terbenam di Makassar pada pukul 18.14 WITA. Hilal berada 3° 3′ di utara matahari dan terbenam pada pukul 18.23 WITA, dengan lama hilal di atas ufuk selama 9 menit.

"Olehnya itu di Sulawesi Selatan ini tidak terpenuhi sebetulnya untuk melihat bulan," kata Ali.

Ali pun menegaskan perbedaan tanggal Idulfitri antarwilayah bisa terjadi karena metode hisab dan rukyat yang berbeda di masing-masing daerah. Untuk penetapan 1 Syawal, tetap diserahkan pada sidang isbat.

"Perbedaan tanggal Idulfitri antarwilayah merupakan hal biasa. Mari kita menerima perbedaan ini dengan lapang dada, menjaga keharmonisan umat," kata Ali.

Editorial Team