Makassar, IDN Times - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar bekerja sama dengan Densus 88 sejak tahun lalu untuk penjangkauan anak yang terpapar paham radikal. Hingga tahun 2026, tercatat lima anak di Makassar terdeteksi masuk dalam kelompok berpemahaman ekstrem dan radikal.
Kepala Dinas DP3A Kota Makassar, Ita Isdiana Anwar, mengatakan mayoritas anak yang terpapar masih duduk di bangku SMP, rata-rata kelas 2 atau sekitar 14 tahun. Anak-anak tersebut disebut berasal dari keluarga menengah ke atas dan dikenal pendiam serta lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop.
"Jadi sudah lima. Kita lihat rata-rata anak SMP yang pintar, menengah ke atas, kemudian memang pribadinya ini tenang, yang asyik aja di depan laptop, ternyata sudah masuk dalam jaringan ini," kata Ita, Jumat (15/5/2026).
