Aliansi Wija To Luwu terlibat bentrok dengan anggota Satpol PP di Gubernur Sulsel, Senin (12/1/2026). (Dok Video Warga).
Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu (IPMIL) Raya, Abdul Hafid mengatakan bentrokan terjadi akibat salah satu massa aksi mendapat tindakan represif dari anggota Satpol PP.
"Awalnya kawan kami orasi di pagar (gerbang Kantor Gubernur) pas orasi ditarik dan diinjak - injak sehingga kawan kami melakukan lemparan, akibat aksi represif anggota Satpol PP, kawan kami mengalami luka lebam dan sesak napas," ujar Hafid kepada IDN Times via sambungan telepon, Senin.
Hafid menjelaskan, kehadiran aliansi Aliansi Wija To Luwu di Kantor Gubernur untuk mendesak Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman dan DPRD Sulsel agar melakukan percepatan DOB Luwu Tengah dan pemekaran Provinsi Luwu Raya.
"Ada dua cara yang bisa ditempuh, pertama mengajukan diskresi langsung kepada Presiden Prabowo dan mengajukan format otonomi khusus kepada Luwu Tengah," ujarnya.
Ia menegaskan, Aliansi Wija To Luwu menuntut percepatan pemekaran Provinsi Luwu Raya karena jarak antara ibu kota Provinsi Sulsel dan Luwu Raya sangat jauh dan menurutnya selama ini, pemerataan pembangunan insfrastruktur dengan pembangunan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) sangat jauh tertinggal.
"Teman-teman IPMIL mengatakan bahwa semboyan Tana Luwu adalah wanua mapatuo naewai alena, (negeri yang menghidupi dirinya sendiri) tanah yang kaya," ucapnya.
Namun kenyataanya, kata Hafid, dari tiga kabupaten dan satu kota di Tanah Luwu, ada dua kabupaten yang masuk dalam lima kategori daerah termiskin di Sulsel.
"Kabupaten Luwu urutan 3 dan Luwu Utara diurutan ke 4, itukan jadi pertanyaan besar," ungkapnya.