Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Proses evakuasi jenazah pesawat ATR 42-500 oleh tim SAR gabungan dari jurang di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.  (Dok. Basarnas Makassar)
Proses evakuasi jenazah pesawat ATR 42-500 oleh tim SAR gabungan dari jurang di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Dok. Basarnas Makassar)

Makassar, IDN Times - Tim SAR gabungan yang melibatkan seribuan orang, hingga Rabu (21/1/2026), masih melanjutkan pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, wilayah Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Delapan korban dilaporkan masih belum ditemukan.

Sebelumnya, tim SAR telah menemukan dua korban dalam kondisi meninggal. Korban pertama laki-laki ditemukan pada Minggu (18/1/2026), disusul korban kedua perempuan pada Senin (19/1/2026). Kedua jenazah sudah dievakuasi setelah melalui proses yang cukup panjang akibat medan ekstrem. Jenazah korban diserahkan ke Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan untuk proses identifikasi.

1. Pencarian delapan korban masih jadi prioritas

Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, menjelaskan proses evakuasi jenazah korban pesawat ATR 42-500 dalam konferensi pers di Biddokes Polda Sulsel, Makassar, Selasa (20/1/2026) malam. (IDN Times/Asrhawi Muin)

Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo mengatakan pencarian terhadap korban lainnya masih menjadi prioritas utama. Dia menegaskan tim SAR tetap bergerak meski dihadapkan pada keterbatasan cuaca dan medan.

"Kemudian kami juga masih punya beban untuk menyelesaikan sisa korban yang harus kami cari. Mohon doa restunya untuk semua, semoga ini cepat kita selesaikan. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama," kata Yudhi di Makassar, Selasa malam (20/1/2026).

2. Cuaca ekstrem dan medan terjal hambat pencarian dan evakuasi

Tim SAR gabungan dikerahkan untuk cari serpihan pesawat Indonesia Air Transport PK-THT yang hilang kontak di Bulusaraung, Maros, Sabtu (17/1/2026). (Dok. Basarnas)

Yudhi mengatakan cuaca ekstrem menjadi tantangan utama dalam proses pencarian dan evakuasi. Hujan deras yang mengguyur kawasan pegunungan serta medan terjal membuat proses pengangkatan jenazah berlangsung lambat.

"Saya sampaikan kondisi medan yang membuat kita mungkin agak berat dan hampir dari sejak (jenazah) ditemukan sampai dengan siang itu di medan hujan deras dan baru berhenti tadi (Selasa), di lapangan informasi sekitar pukul 16.30," kata Yudhi.

Meski ketinggian gunung di lokasi kejadian tidak tergolong tinggi, dengan puncak sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut (mdpl), kondisi medan di lapangan terbilang sangat berat. Dominasi bebatuan, lembah curam, tebing terjal, hutan lebat, serta cuaca yang cepat berubah membuat setiap langkah evakuasi harus dilakukan dengan penuh perhitungan.

3. Opsi evakuasi udara dan modifikasi cuaca disiapkan

Ilustrasi cuaca IDN Times/Irwan Idris

Yudhi berharap kondisi cuaca dalam beberapa hari ke depan lebih bersahabat sehingga proses pencarian dan evakuasi dapat dipercepat. Selain jalur darat, Basarnas juga menyiapkan opsi evakuasi udara apabila kondisi memungkinkan seperti pada evakuasi korban pertama.

Sejak kemarin, operasi modifikasi cuaca (OMC) telah dijalankan untuk mendukung kelancaran pencarian dan langkah serupa direncanakan kembali pada hari ini. Upaya ini ditempuh untuk memperbaiki kondisi cuaca di kawasan Gunung Bulusaraung agar memungkinkan proses evakuasi dan penyisiran berjalan lebih optimal.

"Semoga cuaca cerah sehingga tanggung jawab yang kami bisa selesaikan dapat kami laksanakan dengan baik, khususnya untuk menyelesaikan sisa korban yang belum ditemukan. Masih ada delapan," kata Yudhi.

Editorial Team