Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Tradisi Lebaran Masyarakat Sulsel, dari Ma'burasa' ke Maleppe'
Masjid Al Markaz Al Islami di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). IDN Times/Ashrawi Muin
  • Tradisi Ma'burasa' jadi momen memasak burasa', makanan khas berbahan beras ketan dan santan yang disajikan bersama hidangan Lebaran seperti opor ayam dan coto.
  • Maleppe' dimaknai sebagai pelepasan dosa dengan saling memaafkan, bahkan sebagian masyarakat melarung pakaian lama ke sungai atau laut sebagai simbol penyucian diri.
  • Massiara' dan Ma'baca tomangeng riolo mempererat silaturahmi lewat kunjungan keluarga serta doa di makam leluhur, menandai rasa syukur atas datangnya Idulfitri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Hari raya Idul Fitri menjadi momen penting untuk semua umat Islam. Selain kembali suci usai menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, juga menjadi saat untuk berkumpul bersama orang-orang tercinta.

Nah, asyarakat Sulawesi Selatan punya beragam cara tersendiri dalam merayakan Lebaran. Beberapa bahkan menjadi tradisi turun termurun yang masih dilakukan hingga sekarang dengan penuh rasa sukacita. Berikut ini IDN Times membahas empat diantaranya. Yuk simak!

1. Ma'burasa', memasak makanan tradisional

Ilustrasi mengukus burasa, makanan tradisional Sulawesi Selatan. (Instagram.com/kiroma_karima)

Ma'burasa', bagi masyarakat Bugis dan Makassar, berarti "membuat burasa'." Burasa' adalah makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan bercampur santan dan diberi sedikit garam, kemudian dibungkus memakai daun pisang dan diikat menggunakan teknik khusus. Setelah itu beras ketan terikat, burasa' langsung dikukus.

Biasanya, orang-orang akan membuat burasa' pada hari terakhir puasa atau malam Lebaran. Burasa' sendiri menjadi salah satu menu wajib pada hari raya sebab tersaji bersama opor ayam, coto, nasu likku hingga pallubasa. Selain itu, burasa' juga menjadi sajian untuk kerabat dan handai taulan yang datang bersilaturahmi.

2. Maleppe', melepas segala dosa dengan maaf

Ilustrasi kesepakatan. (IDN Times/Arief Rahmat)

Secara terminologi, maleppe' berarti "melepas". Yang dilepas tentu saja adalah dosa-dosa baik dalam diri sendiri serta melepaskan (atau lebih tepatnya mengikhlaskan) dosa orang lain dengan cara memberi maaf. Dengan kata lain, prosesi saling memaafkan setelah salat Ied merupakan bagian dari maleppe'.

Maleppe' juga termanifestasikan dalam bentuk lain. Segelintir masyarakat Bugis memaknai "melepas" dengan cara melarung pakaian lama ke sungai atau ke laut sebagai simbol menghanyutkan segala dosa, sial atau sifat-sifat buruk di masa lalu lalu diganti dengan busana yang baru. Tradisi ini erat dengan budaya sebelum masuknya Islam.

3. Massiara', cara mempererat silaturahmi

Ilustrasi bertamu, bersilaturahmi. (IDN Times/Rizka Yulita)

Massiara' adalah tradisi berkunjung ke rumah keluarga dan handai tolan pada hari Lebaran. Para tamu akan dijamu makan oleh tuan rumah. Dulu, massiara' dimaknai sebagai upaya untuk merajut silaturahmi, bermaafan pada Idulfitri, serta menghilangkan lapar minimal sehari dalam setahun.

Meski begitu, massiara' juga bermakna upaya untuk mempererat hubungan antara keluarga serta tetangga yang pada hari-hari biasa jarang bertegut sapa lantaran kesibukan sehari-hari. Intinya, orang-orang memiliki momen mendekatkan diri antar individu.

4. Ma'baca tomangeng riolo, menziarahi kubur keluarga

ilustrasi ziarah kubur (ANTARA FOTO/Saiful Bahri)

Ma'baca tomangeng riolo adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di daerah pedesaan Sulsel pada malam hari setelah salat Isya sehari sebelum melaksanakan salat Idul fitri, atau bahkan setelah salat Idulfitri. Tujuannya yakni mengirim doa kepada sanak keluarga yang telah meninggal dunia.

Selain itu, tradisi turun temurun ini juga sebagai bentuk rasa syukur atas umur yang bisa merasakan Ramadan dan Idulfitri. Nah, ma'baca tomangeng riolo juga didampingi dengan sokko'/songkolo' (nasi ketan yang dikukus), ayam, ketupat, buras, pisang emas dan lain-lain. Turut pula pembacaan doa oleh anreguru, sebutan untuk orang dengan ilmu agama mendalam di sebuah kampung.

Nah, itu tadi empat tradisi Lebaran masyarakat Sulawesi Selatan yang masih dilakukan turun temurun hingga sekarang. Dan selamat berlebaran!

Editorial Team