Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
1001469454.jpg
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meninjau lokasi banjir di Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, Sabtu (10/1/2025). (Dok. Humas Pemkot Makassar)

Intinya sih...

  • Cuaca ekstrem masih berpotensi hingga akhir Februari

  • Pengungsian dipicu gangguan sanitasi rumah tangga

  • Seluruh OPD disiagakan hadapi potensi bencana lanjutan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Dampak banjir tahunan di Kota Makassar menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dari tiga kecamatan yang selama ini menjadi wilayah langganan banjir, pada kejadian banjir terbaru hanya satu kecamatan yang sempat mengalami pengungsian, yakni Kecamatan Biringkanaya, itupun berlangsung dalam waktu singkat.

Kondisi tersebut terpantau di tengah hujan dengan intensitas tinggi yang melanda Makassar dalam beberapa hari terakhir. Banjir di sejumlah titik relatif cepat surut sehingga warga dapat kembali ke rumah masing-masing tanpa menjalani masa pengungsian yang berkepanjangan.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyampaikan berkurangnya dampak banjir terlihat dari semakin singkatnya masa pengungsian dan terbatasnya wilayah terdampak. Kondisi tersebut mencerminkan perbaikan kesiapsiagaan serta penanganan bencana yang dijalankan Pemerintah Kota Makassar bersama seluruh unsur terkait.

"Ini menandakan situasi sudah jauh lebih terkendali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," kata Munafri, Rabu (14/1/2026).

1. Cuaca ekstrem masih berpotensi hingga akhir Februari

Ilustrasi cuaca ekstrem. (IDN Times/Mardya Shakti)

Meski dampak banjir menurun, Munafri mengingatkan bahwa Kota Makassar masih berada dalam periode cuaca ekstrem. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Februari 2026.

Munafri menjelaskan secara geografis wilayah yang paling berisiko terdampak banjir berada di kawasan cekungan, bantaran sungai, dan daerah dengan elevasi rendah. Kawasan tersebut cenderung menahan air saat hujan deras, terutama ketika kapasitas saluran dan alur air tidak mampu menampung debit yang meningkat.

"Faktor banjir di Makassar tidak bisa dilepaskan dari kondisi geografis kota. Wilayah yang rawan genangan umumnya berada di daerah cekungan serta bantaran sungai, sehingga berpotensi menahan air saat curah hujan tinggi," katanya.

2. Pengungsian dipicu gangguan sanitasi rumah tangga

Wali Kota MakassRumah warga terendam banjir di Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sabtu (10/1/2025). (Dok. Humas Pemkot Makassar)

Munafri juga menjelaskan bahwa penyebab warga mengungsi tidak semata-mata karena ketinggian air. Pada beberapa lokasi, genangan dan banjir justru mengganggu sistem sanitasi rumah tangga, seperti terendamnya toilet dan saluran limbah, sehingga warga memilih mengungsi demi menjaga kesehatan dan keselamatan keluarga.

Untuk menekan risiko banjir berulang, Pemerintah Kota Makassar saat ini menyusun kajian teknis penanganan banjir. Kajian tersebut difokuskan pada perbaikan alur air dan sistem drainase, khususnya di kawasan permukiman rawan genangan.

Kajian tersebut melibatkan sejumlah universitas serta balai pengelola sungai di wilayah Makassar. Hasil kajian ini diharapkan menjadi dasar perbaikan sistem pengendalian air agar genangan tidak lagi terjebak di kawasan permukiman warga.

"Kita melakukan kajian bersama sejumlah universitas dan berkoordinasi dengan balai yang menangani sungai di Makassar, untuk menentukan alur air yang tepat dan mengurangi genangan berulang," kata Munafri.

3. Seluruh OPD disiagakan hadapi potensi bencana lanjutan

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyapa warga saat meninjau lokasi pengungsian banjir di Kantor Kelurahan Katimbang, Jalan Keindahan Raya, Kecamatan Biringkanaya, Senin (12/1/2026). (Dok. Humas Pemkot Makassar)

Pemerintah Kota Makassar pun terus memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Upaya tersebut berjalan seiring dengan kondisi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi di wilayah Makassar.

Seluruh perangkat daerah terkait disiagakan untuk merespons cepat potensi bencana. BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum, hingga Dinas Sosial diarahkan menyiapkan shelter, logistik, serta kebutuhan dasar warga terdampak.

Munafri juga mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan di tengah cuaca ekstrem yang masih berlangsung. Potensi angin kencang, pohon tumbang, hingga gelombang tinggi di wilayah pesisir dinilai masih berisiko terjadi dan memerlukan perhatian bersama.

"Keselamatan warga menjadi prioritas. Pemerintah memastikan seluruh sumber daya siap digunakan jika terjadi kondisi darurat," katanya.

Editorial Team