Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cerita Jemaah Haji Muda Berangkat Bersama Ibu lewat Penggabungan Mahram
Anggriani Umar (23) bersama ibunya, Pawiloi Pereppai Latawa (42), jemaah calon haji asal Pinrang, berangkat ke Tanah Suci lewat skema penggabungan mahram. IDN Times/Asrhawi Muin
  • Anggriani Umar dan ibunya, Pawiloi Pereppai Latawa, asal Pinrang berangkat haji bersama lewat skema penggabungan mahram untuk musim haji 2026.
  • Kebijakan penggabungan mahram memungkinkan keluarga yang sudah terdaftar minimal lima tahun menyatukan porsi keberangkatan, sehingga masa tunggu Anggriani hanya sekitar enam tahun.
  • Sebelum berangkat, keduanya fokus mempersiapkan kesehatan, perlengkapan, serta membawa bekal makanan dari rumah sebagai antisipasi selama di Tanah Suci.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Skema penggabungan mahram membuka peluang bagi jemaah untuk berangkat haji bersama keluarga. Kesempatan ini dimanfaatkan pasangan ibu dan anak asal Kabupaten Pinrang untuk menuju Tanah Suci dalam musim haji 2026.

Anggriani Umar (23), warga Kecamatan Tiroang, berangkat bersama ibunya, Pawiloi Pereppai Latawa (42). Keduanya tergabung sebagai jemaah melalui mekanisme penggabungan mahram, meski awalnya tidak direncanakan.

"Awalnya cuma didaftar sama mama. Cuma karena setelah ini ada peraturan bisa penggabungan mahram terus dicoba sama mama ternyata bisa lewat," kata Anggriani saat ditemui di Asrama Haji Sudiang, Makassar.

1. Berangkat lebih cepat dari masa tunggu normal

Ilustrasi jemaah haji. (IDN Times/Aditya Pratama)

Anggriani mengaku baru mendaftar haji sekitar tahun 2019. Artinya, masa tunggunya hanya sekitar enam tahun, jauh lebih singkat dibanding rata-rata antrean haji di Sulawesi Selatan.

Menurut dia, proses pelunasan biaya haji sepenuhnya diurus oleh sang ibu. Biaya yang dibayarkan mencapai sekitar Rp50 juta per orang.

"Pelunasan mama yang urus. Sekitar Rp50-an juta satu orang," katanya.

2. Awalnya tidak direncanakan berangkat bersama

Ilustrasi jemaah haji (kemenag.go.id/Dewi Anggraeni)

Sang ibu, Pawiloi, menjelaskan bahwa keberangkatan bersama anaknya tidak pernah direncanakan sejak awal. Keputusan itu muncul setelah mengetahui adanya kebijakan penggabungan mahram.

"Awalnya tidak direncanakan. Sekarang ada berita bahwa bisa, jadi saya coba. Dianya juga mau, jadi sekalian. Alhamdulillah bisa," katanya.

Kebijakan penggabungan mahram haji mulai diterapkan pada 2025 melalui pendaftaran yang dibuka sejak 14 Februari hingga 19 Maret 2025. Kebijakan ini memungkinkan calon jemaah menyatukan porsi dengan mahram baik suami, istri, anak, maupun saudara kandung yang telah melunasi biaya haji, dengan syarat sudah terdaftar minimal lima tahun.

3. Persiapan fokus pada kesehatan dan bekal

Pemeriksaan kesehatan jemaah calon haji di Asrama Sudiang, Makassar. IDN Times/Asrhawi Muin

Sebelum keberangkatan, Anggriani menyebut persiapan utama difokuskan pada kondisi fisik, perlengkapan, serta kesiapan mental. Selain itu, doa juga menjadi bagian penting dalam persiapan.

"Persiapannya yang paling penting kesehatan, barang-barang, sama mental. Doanya," katanya.

Selain perlengkapan utama, mereka juga membawa sejumlah bekal makanan dari rumah. Pawiloi mengaku membawa makanan instan hingga bahan pokok sebagai antisipasi jika tidak cocok dengan makanan di Tanah Suci.

"Ada makanan khusus. Bawa Pop Mie juga, kalau tidak cocok makanan di sana. Ada sedikit beras, satu liter," katanya.

Editorial Team