Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cerita Jemaah Asal Soppeng Bawa Bekal Khas dari Rumah ke Tanah Suci
Kartini (60), jemaah calon haji asal Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, saat berada di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Selasa (21/4/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • Suasana keberangkatan jemaah haji di Asrama Haji Sudiang Makassar diwarnai kisah Kartini asal Soppeng yang membawa berbagai makanan khas Bugis sebagai bekal ke Tanah Suci.
  • Seluruh bekal seperti buras, bolu peca, dan nasu likku dimasak bersama keluarga sehari sebelum berangkat sebagai bentuk dukungan serta persiapan menghadapi masa awal di Tanah Suci.
  • Perjalanan Kartini menuju ibadah haji ditempuh panjang sejak menabung pada 2010 hingga akhirnya berangkat setelah pensiun dari profesinya sebagai guru sekolah dasar pada Januari 2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada ibu namanya Kartini dari Soppeng mau pergi haji ke Tanah Suci. Dia bawa banyak makanan dari rumah, ada buras, bolu peca, jagung, dan kerupuk. Semua dimasak sama keluarganya sehari sebelum berangkat. Ibu Kartini sudah nabung lama sekali sejak tahun 2010 dan sekarang akhirnya bisa berangkat setelah pensiun jadi guru.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Suasana keberangkatan jemaah calon haji di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Selasa (21/4/2026), diwarnai juga cerita tentang bekal perjalanan yang dibawa dari kampung halaman. Sejumlah jemaah tampak membawa makanan khas daerah sebagai persiapan menuju Tanah Suci.

Salah satunya Kartini (60), jemaah asal Kabupaten Soppeng, Kecamatan Liliriaja. Di antara barang bawaannya, tersimpan berbagai makanan tradisional khas Bugis yang disiapkan khusus oleh keluarga.

"Banyak. Ada buras, langga, jagung marning, kue bolu peca. Sudah dikeringkan itu bolu peca. Sisa dipanasi nanti di sana, dikasih air sedikit lalu dimakan," kata Kartini saat ditemui di lokasi.

1. Bekal dimasak bersama keluarga

Kacang langkoses yang dibawa Kartini (60), jemaah haji asal Soppeng, saat berada di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Selasa (21/4/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Kartini menyebut seluruh makanan tersebut dibuat langsung oleh keluarga di rumah. Proses memasak berlangsung sehari penuh menjelang keberangkatan.

"Iya, keluarga. Banyak yang bikin di rumah," katanya.

Selain buras dan bolu peca, Kartini juga membawa beragam makanan lain seperti jagung, nennu-nennu, kerupuk, hingga hidangan khas seperti nasu likku. Makanan tersebut dipilih karena dianggap tahan lama selama perjalanan.

"Ada jagung, nennu-nennu, kerupuk, bekal ke tanah suci. Ada langkose (kacang), buras, langga dari beras ketan hitam, ada nasu likku," katanya.

2. Disiapkan sehari sebelum berangkat

Nasi likku jadi bekal makanan yang dibawa Kartini (60), jemaah haji asal Soppeng, saat berada di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Selasa (21/4/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Seluruh bekal itu, kata Kartini, dimasak secara khusus sehari sebelum keberangkatan. Persiapan berlangsung bersama keluarga sebagai bentuk dukungan sebelum dirinya berangkat haji.

"Kemarin. Dimasak semua ini," katanya.

Bekal tersebut diharapkan bisa membantu selama masa awal di Tanah Suci. Hal ini terutama untuk mendukung kebutuhan sebelum menyesuaikan diri dengan makanan yang disediakan.

3. Menabung sejak 2010 dan berangkat setelah pensiun

Kartini (60), jemaah haji asal Soppeng, saat berada di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Selasa (21/4/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Perjalanan Kartini menuju ibadah haji juga bukan hal singkat. Dia telah menabung sejak Desember 2010 dan harus menunggu lebih dari 15 tahun sebelum akhirnya mendapat giliran berangkat.

Selama masa tunggu itu, Kartini tetap beraktivitas sebagai guru sekolah dasar. Dia baru memasuki masa pensiun pada Januari 2026, bertepatan dengan kepastian keberangkatannya.

"Menabung dari Desember 2010. Selama ini mengajar, karena di sekolah saya guru SD. Januari 2026 ini pensiun, naik juga namaku," kata Kartini.

Editorial Team