Kondisi Jalan Tol Layang A.P Pettarani di Makassar. Humas Pemprov Sulsel
Salah satu temuan paling mencolok dalam laporan SUPAS 2025 adalah angka migrasi risen di Kota Makassar. Konsep migrasi risen mengukur perpindahan penduduk dengan membandingkan tempat tinggal saat survei dengan tempat tinggal lima tahun sebelumnya. Indikator ini menghitung besarnya migrasi tersebut dengan mengacu pada jumlah penduduk berusia lima tahun ke atas yang pernah berpindah dalam periode waktu tersebut.
Hasil SUPAS 2025 menunjukkan bahwa 15 dari 1.000 penduduk Sulawesi Selatan usia 5 tahun ke atas merupakan migran risen antarprovinsi. Sebagai pusat ekonomi, Makassar secara mengejutkan mencatatkan nilai migrasi neto negatif terbesar di Sulawesi Selatan, yakni mencapai -5,86.
Angka ini mengindikasikan bahwa dalam lima tahun terakhir, jumlah penduduk yang meninggalkan Makassar jauh lebih banyak dibandingkan mereka yang datang menetap. Persentase migran yang keluar dari Makassar menyentuh angka 9,03 persen, tertinggi di seluruh provinsi.
Fenomena ini tampaknya bergeser ke wilayah penyangga (hinterland). Kabupaten Gowa mencatatkan diri sebagai daerah dengan migrasi neto risen positif tertinggi sebesar 3,69, disusul oleh Kabupaten Maros di angka 2,33. Hal ini menunjukkan tren "suburbanisasi", di mana masyarakat memilih bekerja di Makassar namun menetap di wilayah pinggiran demi mencari hunian yang lebih terjangkau atau kualitas hidup yang lebih baik, yang pada akhirnya memicu kepadatan baru di perbatasan kota.