Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG_5894.jpeg
Ilustrasi petani memikul padi hasil panen di sawah. (IDN Times/Larasati Rey)

Intinya sih...

  • Peningkatan produksi sebesar 648,16 ribu ton GKG selama setahun terakhir

  • Distribusi produksi padi selama tahun 2025 menunjukkan dinamika yang fluktuatif

  • Puncak panen raya tertinggi sepanjang tahun 2025 tercatat jatuh pada bulan April dengan hasil mencapai 1,11 juta ton GKG

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

MAKASSAR, IDN Times – Produksi padi di Sulawesi Selatan sepanjang tahun 2025 mengalami lonjakan drastis hingga menyentuh angka 5,47 juta ton gabah kering giling (GKG). Capaian ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan sebesar 13,45 persen jika dibandingkan dengan hasil panen pada tahun sebelumnya yang hanya berada di angka 4,82 juta ton.

Peningkatan volume produksi tersebut didorong oleh perluasan areal panen yang kini telah melampaui angka satu juta hektare di seluruh wilayah kabupaten dan kota. Berdasarkan data siaran berita resmi statistik BPS Sulsel yang dikutip, Rabu (4/2/2026), ketersediaan beras untuk konsumsi pangan penduduk juga turut terkerek naik hingga mencapai total 3,14 juta ton.

1. Produksi beras meningkat jadi 3,14 juta ton

Ilustrasi beras (Unsplash.com/ Helina Pfisterer)

Peningkatan produksi sebesar 648,16 ribu ton GKG selama setahun terakhir tidak lepas dari keberhasilan optimasi lahan pertanian yang mencapai luas 1,04 juta hektare. Angka luas panen ini mencatatkan kenaikan sebesar 90,39 ribu hektare atau tumbuh 9,50 persen dibandingkan tahun 2024 yang hanya seluas 0,95 juta hektare.

Dampak langsung dari melimpahnya GKG ini terlihat pada total konversi beras untuk konsumsi masyarakat yang meningkat dari 2,77 juta ton pada tahun lalu menjadi 3,14 juta ton pada tahun 2025. Pertumbuhan surplus beras sebesar 371,94 ribu ton ini memperkuat posisi Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan di wilayah timur Indonesia.

2. Puncak panen raya pada April

Ilustrasi sawah. (Dok. Kementan)

Distribusi produksi padi selama tahun 2025 menunjukkan dinamika yang fluktuatif di mana lonjakan terbesar terjadi pada Subround I (Januari-April) dengan total produksi mencapai 2,50 juta ton GKG, atau naik 40,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, pada Subround II (Mei-Agustus), produksi sempat terkoreksi turun sebesar 13,80 persen menjadi 1,48 juta ton GKG sebelum akhirnya kembali bangkit di Subround III (September-Desember) dengan capaian 1,49 juta ton GKG.

Puncak panen raya tertinggi sepanjang tahun 2025 tercatat jatuh pada bulan April dengan hasil mencapai 1,11 juta ton GKG. Sementara titik produksi terendah berada pada bulan Januari.

3. Kenaikan produksi tertinggi di LUwu

Ilustrasi petani sedang memupuk padi. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Data sektoral mencatatkan perbedaan performa yang tajam di tingkat daerah, dengan Kabupaten Luwu memimpin kenaikan tertinggi sebesar 234,89 persen atau memproduksi 13.341 ton GKG dari sebelumnya hanya 3.984 ton. Tren positif juga diikuti oleh Kota Parepare yang melesat 174,62 persen menjadi 1.150 ton GKG serta Luwu Utara yang tumbuh 51,14 persen dengan total 27.993 ton GKG.

Di sisi lain, penurunan produktivitas yang cukup dalam dialami oleh Kabupaten Tana Toraja yang merosot hingga 70,63 persen menjadi 4.411 ton GKG dan Toraja Utara yang terkontraksi 44,75 persen ke angka 9.224 ton GKG. Untuk wilayah urban, Kota Makassar mencatatkan kenaikan tipis sebesar 1,16 persen dengan total produksi 880 ton GKG.

Editorial Team