Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BMKG Prediksi Musim Kemarau di Sulsel Mulai April 2026
Ilustrasi cuaca panas (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • BMKG memprediksi musim kemarau di Sulawesi Selatan dimulai April 2026, diawali wilayah Selayar, Jeneponto, sebagian Takalar dan Gowa, lalu meluas ke daerah lain hingga Agustus.
  • Kondisi iklim Sulsel bervariasi antara pantai barat yang lebih basah dan pantai timur yang cenderung kering, sementara wilayah utara seperti Toraja dan Luwu tetap berpotensi hujan sepanjang tahun.
  • Sekitar 79 persen wilayah diperkirakan mengalami kemarau lebih kering dari normal dengan puncak pada Agustus–September 2026, serta fase iklim global diprediksi netral tanpa pengaruh El Nino atau La Nina kuat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    BMKG memprediksi musim kemarau di Provinsi Sulawesi Selatan akan dimulai pada April 2026, dengan sebagian besar wilayah mengalami kondisi lebih kering dan durasi kemarau lebih panjang dari biasanya.
  • Who?
    Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Ayi Sudrajat, menyampaikan prediksi tersebut dalam konferensi pers daring yang diselenggarakan BMKG.
  • Where?
    Prediksi mencakup seluruh wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Selayar, Jeneponto, Takalar, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, hingga Luwu Timur dan Luwu Utara.
  • When?
    Musim kemarau diperkirakan mulai April 2026 dan berakhir sekitar September atau Oktober. Puncaknya terjadi antara Agustus hingga September 2026.
  • Why?
    Prediksi disusun berdasarkan analisis data iklim jangka panjang selama minimal 30 tahun untuk melihat pola musim dan curah hujan di wilayah Sulawesi Selatan.
  • How?
    BMKG menggunakan hasil pengamatan iklim serta analisis fase netral fenomena El Nino–La Nina untuk menentukan awal dan karakteristik musim kemarau tahun 2026 di daerah tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Musim kemarau di Provinsi Sulawesi Selatan diprediksi mulai pada April 2026. Wilayah yang lebih dulu memasuki periode kemarau antara lain Kepulauan Selayar, Jeneponto, sebagian Takalar, dan sebagian wilayah Gowa.

Kepala Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Ayi Sudrajat, menjelaskan prediksi tersebut disusun berdasarkan analisis data iklim jangka panjang. Data tersebut digunakan untuk melihat pola musim yang terjadi di wilayah Sulawesi Selatan.

"Secara normal, musim kemarau di Sulawesi Selatan dimulai sekitar April dan berakhir pada September atau Oktober. Itu berdasarkan pengamatan iklim jangka panjang selama minimal 30 tahun," kata Ayi dalam konferensi pers prediksi musim kemarau 2026 melalui Zoom, Jumat (13/3/2026).

1. Sejumlah wilayah mulai kemarau sejak April hingga Agustus

Ilustrasi kemarau (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)

Menurut Ayi, wilayah Selayar, Jeneponto, sebagian Takalar, dan sebagian Gowa diperkirakan menjadi daerah yang pertama memasuki musim kemarau tahun ini. Setelah itu, sejumlah daerah lain diperkirakan menyusul pada Mei 2026, seperti Makassar, Parepare, sebagian wilayah Gowa, Maros, Pangkep, Barru, Soppeng, Sidrap, dan Pinrang.

"Kemudian, yang memasuki musim kemarau bulan Juni, sebagian besar Bone, Pinrang, sebagian kecil Barru, Pangkep, Maros, Tana Toraja," kata Ayi.

Sementara beberapa wilayah lainnya yang diperkirakan memasuki musim kemarau pada Juli antara lain Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, serta sebagian besar Bone. Selain itu, kemarau juga diprediksi mulai terjadi di Sidrap, Enrekang, Luwu, Toraja Utara, Wajo, sebagian besar Gowa, Maros, Soppeng, Pinrang, dan Tana Toraja.

"Yang terakhir akan memasuki musim kemarau di bulan Agustus, seluruh Luwu Timur, sebagian besar Luwu Utara," katanya.

2. Karakteristik iklim Sulsel berbeda antara pantai barat dan timur

Ilustrasi cuaca panas. (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Ayi menjelaskan kondisi iklim Sulawesi Selatan memiliki karakteristik yang beragam. Perbedaan pola curah hujan terlihat antara wilayah pantai barat, pantai timur, hingga wilayah utara.

“Pantai barat dan pantai timur di Sulawesi Selatan mempunyai karakteristik iklim yang berbeda. Pantai baratnya hujan, pantai timurnya cenderung kering,” katanya.

Adapun wilayah utara wilayah utara Sulawesi Selatan memiliki pola curah hujan yang berbeda dibanding daerah lain. Daerah seperti Toraja, Toraja Utara, Luwu Utara, dan Luwu Timur cenderung mengalami hujan hampir sepanjang tahun.

3. Sebanyak 79 persen wilayah diprediksi lebih kering dari biasanya

Ilustrasi cuaca panas. (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

BMKG juga memprediksi sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari biasanya. Sekitar 79 persen wilayah diperkirakan memiliki sifat hujan di bawah normal selama musim kemarau tahun ini.

"Antara lain ini seluruh Selayar, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, Barru, Soppeng, Parepare, Pinrang, Enrekang, sebagian besar Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, Tana Toraja, Sidrap, Wajo, Sinjai, Bulukumba, dan sebagian kecilnya Toraja Utara," kata Ayi.

Selain itu, sekitar 58 persen wilayah diprediksi mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang. Kondisi tersebut lebih lama dibandingkan pola musim kemarau pada kondisi normal.

"Ini antara lain di seluruh Selayar, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, Bone, Barru, Soppeng, sebagian besar Sidrap, Parepare, Luwu Utara, Luwu Timur, dan sebagian kecil Wajo," katanya.

4. Puncak kemarau diperkirakan Agustus hingga September

ilustrasi cuaca panas (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Puncak musim kemarau di Sulawesi Selatan diperkirakan terjadi pada Agustus. Sebagian wilayah lainnya diprediksi mencapai puncak kemarau pada September.

"Jadi musim hujan, mulai dari November, pantai barat kita ya, pantai barat Sulawesi Selatan, mulai dari Takalar, Jeneponto, sampai dengan Parepare, itu biasanya mulainya November, Desember, Januari, Februari, Maret. April sudah mulai luruh atau sudah mulai hilang," kata Ayi.

Ayi juga menyinggung soal kondisi iklim global pada 2026 diperkirakan berada pada fase netral hingga pertengahan tahun. Pada periode tersebut tidak ada pengaruh kuat dari fenomena El Nino maupun La Nina.

"Indeks El Nino dan La Nina untuk tahun 2026 diprediksi netral sampai dengan akhir, sampai pertengahannya, dan akan terjadi El Nino lemah di akhir tahunnya. Jadi untuk sampai dengan pertengahan di tahun 2026, El Nino tidak ada, La Nina juga tidak ada," katanya.

Editorial Team