Ilustrasi banjir (IDN Times/Mardya Shakti)
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan mengumumkan sejumlah daerah kabupaten terdampak musibah bencana alam, banjir dan tanah longsor disebabkan cuaca buruk yang berlangsung sejak dua hari terakhir.
Kepala BPBD Sulsel, Muhammad Firda mengatakan, di Jeneponto, hujan intensitas tinggi memicu debit air sungai setempat meluap hingga mengakibatkan banjir di beberapa lokasi dan merendam rumah warga. Jalan provinsi di Boyong tidak bisa dilalui kendaraan sehingga menimbulkan kemacetan.
Data BPBD dari Kabupaten Tana Toraja, dilaporkan belasan unit rumah terdampak tanah bergerak atau longsor disebabkan intensitas hujan lebat sejak 17 Februari, hingga 20 Februari 2021 di Lembang/Desa Rano Tengah.
"Awalnya hanya tujuh unit rumah terdampak, korban 11 Kepala Keluarga (KK) dengan 35 jiwa. Hari ini bertambah menjadi 11 rumah, dan yang harus direlokasi, sebanyak 16 KK dari 46 jiwa," kata Muhammad Firda dikutip dari Antara.
Selain itu, dilaporkan musibah tanah longsor juga terjadi di Jalan Poros Malino Kilometer 64, Kabupaten Gowa. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun satu lapak dagangan tertimpa longsor dan akses jalan terhambat karena sebagian aspal amblas hingga material longsoran tanah menutupi jalanan.
Di konfirmasi terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Maros, Andi Fadly melaporkan, bencana banjir terdampak di delapan kecamatan. Ketinggian air bervariasi antara lutut orang dewasa hingga pinggang orang dewasa. Banjir terjadi sejak Ahad (20/2) hingga Senin (21/2).
Delapan kecamatan yang terdampak banjir tersebut meliputi Kecamatan Turikale, Lau, Bontoa, Maros Baru, Marusu, Moncongloe, Simbang, serta Bantimurung. Banjir di wilayah tersebut dipicu atas intensitas hujan sedang hingga lebat sejak Ahad, mengakibatkan debit air sungai meluap.
"Sampai saat ini belum ada laporan warga mengungsi karena masih bertahan di rumah masing-masing. Untuk jumlah rumah terdampak Sementara masih didata tim di lapangan," kata Fadly.