Ilustrasi jenazah. (IDN Times/Mia Amalia)
Berbeda dengan penyampaian dari pihak TNI, Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB-OPM melalui siaran pers mengungkapkan bahwa lima anggotanya menjadi korban dari serangan TNI.
Tiga di antara lima korban itu meninggal dunia dan dua korban luka-luka. Sedangkan belasan korban lainnya, yang diklaim oleh TNI sebagai anggota TPNPB-OPM, disebutnya adalah warga sipil.
Berdasarkan laporan dari Panglima TPNPB Kodap VIII Intan Jaya, Brigadir Jenderal Undius Kogoya, Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom menjelaskan bagaimana kronologi kejadian mengenaskan itu menimpa tiga anggotanya yang gugur.
Sebby menerangkan pada saat itu, sekitar pukul 05.00 WIT, terjadi kontak tembak antara pasukan TPNPB dengan TNI di Distrik Hitadipa.
Dalam peristiwa itu, seorang anggota TPNPB dinyatakan gugur. Jasadnya pun langsung dipasangi bom oleh militer Indonesia untuk menargetkan pasukan TPNPB lainnya.
Strategi itu pun berjalan sesuai rencana. Bom yang sudah dipasang seketika meledak saat empat anggota TPNPB-OPM lainnya hendak mengevakuasi jenazah itu.
"Saat melakukan evakuasi, bom ranjau yang dipasang meledak dan mengakibatkan dua anggota TPNPB gugur dan dua anggota lainnya luka-luka akibat terkena serpihan bom," kata Sebby.
Adapun nama-nama anggota TPNPB yang terkena bom ranjau dan gugur di medan perang yakni Gus Kogoya, Notopinus Lawiya, dan Kanis Kogoya.
"Sementara yang luka ringan akibat terkena serpihan bom di antaranya Tinus Wonda dan Dnu-Dnu Mirip. (Mereka) yang luka-luka saat ini sedang berada di markas TPNPB untuk menjalani perawatan medis," ujar Sebby.
Lebih lanjut Sebby mengungkapkan bahwa sebelum kontak tembak itu berlangsung, TNI telah melakukan operasi di Kampung Titigi, Ndugusiga, Jaindapa, Sugapa Lama dan Kampung Zanamba.
Sebby menyebut operasi itu dilaksanakan secara brutal. "Militer Indonesia melakukan penembakan liar di pagi subuh saat warga sipil masih dalam keadaan tidur nyenyak," tandasnya.
Dalam operasi ini, menurut Sebby, banyak warga sipil yang menjadi korban.
"Aparat militer pemerintah Indonesia melakukan penembakan terhadap satu keluarga di antaranya Ibu Junite Zanambani terkena tembakan pada lengan tangan kanan dan anaknya laki-laki Minus Yegeseni ditembak bagian telinga. Sementara Nopen Wandagau ditembak bagian tangan dan satu orang lainnya juga ditembak," katanya.
Disebutkan bahwa sejumlah warga sipil pun ditembak mati oleh militer Indonesia di antaranya pendeta dan dan Kepala Desa Hitadipa.
"Korban yang diculik saat pagi subuh oleh aparat militer pemerintah Indonesia di Distrik Hitadipa yaitu Bapak Elisa Wandagau (Gembala), Ruben Wandagau (Kepala Desa Hitadipa), dan seorang nenek, Mono Tapamina. Semuanya ditembak mati oleh aparat militer Indonesia setelah diculik dan jazad mereka telah dikremasi di Hitadipa," ungkap Sebby.
Adapun warga sipil lainnya yang sempat ditangkap di Kampung Zanamba namun berhasil melarikan diri dari Pos Militer Indonesia di Bilapa pada 14 Mei 2025 pukul 23.58 WIT.
Mereka adalah Peles Hondani dan istrinya, Misael Tabuni dan istrinya, serta Julianus Janambani dan Daniel Hondani.
"6 warga sipil tersebut melarikan diri dari Pos Militer Indonesia di Bilapa karena adanya rencana eksekusi mati oleh Komandan Pos Bilapa," kata Sebby.
"Dalam aksi tersebut masyarakat sipil yang berada di Distrik Hitadipa dan Distrik Sugapa telah melarikan diri ke hutan sejak 13 Mei 2025 untuk mencari perlindungan diri dan terhindar dari operasi militer Indonesia yang sangat masif dan brutal," imbuhnya.