Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Proses evakuasi jenazah pesawat ATR 42-500 oleh tim SAR gabungan dari jurang di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.  (Dok. Basarnas Makassar)
Proses evakuasi jenazah pesawat ATR 42-500 oleh tim SAR gabungan dari jurang di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Dok. Basarnas Makassar)

Makassar, IDN Times – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, masih berlangsung hingga Rabu (221/1/2026). Medan ekstrem menjadi tantangan utama bagi tim SAR gabungan dalam mengevakuasi para korban dari lokasi jatuhnya pesawat di kawasan hutan pegunungan.

Meski ketinggian gunung di lokasi kejadian tidak tergolong tinggi, dengan puncak sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut (mdpl), kondisi medan di lapangan terbilang sangat berat. Dominasi bebatuan, lembah curam, tebing terjal, hutan lebat, serta cuaca yang cepat berubah membuat setiap langkah evakuasi harus dilakukan dengan penuh perhitungan.

1. Korban dievakuasi dari jurang sedalam ratusan meter

Proses evakuasi jenazah pesawat ATR 42-500 oleh tim SAR gabungan dari jurang di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Dok. Basarnas Makassar)

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengatakan tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi korban temuan kedua pada Selasa sore. Ditemukan belakangan, jenazah itu yang pertama dievakuasi dari jurang.

“Sore ini, tim SAR gabungan fokus melanjutkan pencarian dan evakuasi di beberapa sektor dengan membagi kekuatan menjadi enam Search and Rescue Unit (SRU), termasuk SRU darat dan vertical rescue. Dan akhirnya, korban kedua berjenis kelamin perempuan berhasil dievakuasi dari kedalaman sekitar 350 meter dengan kondisi medan yang sangat ekstrem,” ujar Arif, Selasa (20/1/2026).

Menurut Arif, proses evakuasi dilakukan secara bertahap dengan tingkat kesulitan tinggi. Tim harus bekerja dari dasar lembah menuju puncak, memanfaatkan teknik penyelamatan vertikal dan peralatan khusus.

“Evakuasi korban membutuhkan teknik vertical rescue dan koordinasi lintas unsur yang sangat ketat. Tim bekerja dari lembah menuju puncak dengan peralatan khusus, ” tambahnya.

Usai dievakuasi ke posko SAR, jenazah itu kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel.

2. Cuaca ekstrem memperberat kerja tim SAR di lapangan

Proses evakuasi jenazah pesawat ATR 42-500 oleh tim SAR gabungan dari jurang di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Dok. Basarnas Makassar)

Selain medan berbatu dan jurang curam, faktor cuaca turut memperberat proses pencarian dan evakuasi. Hujan lebat, angin kencang, serta kabut tebal kerap membatasi jarak pandang dan meningkatkan risiko bagi personel di lapangan.

Kondisi tersebut membuat setiap pergerakan tim harus memperhitungkan aspek keselamatan. Jalur evakuasi yang sempit dan licin memaksa tim SAR bekerja dengan tempo lebih lambat, namun tetap presisi, demi menghindari kecelakaan tambahan.

3. Lebih dari seribu personel dikerahkan dalam operasi kemanusiaan

Proses evakuasi jenazah pesawat ATR 42-500 oleh tim SAR gabungan dari jurang di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Dok. Basarnas Makassar)

Arif Anwar menegaskan, operasi SAR ini melibatkan kekuatan besar dari berbagai unsur, dengan total 1.075 personel dikerahkan ke lokasi kejadian. Mereka berasal dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, komunitas pecinta alam, hingga unsur medis.

“Kami mengapresiasi dedikasi seluruh unsur yang terlibat. Operasi ini adalah wujud nyata sinergi dan kemanusiaan. Fokus kami tetap pada pencarian seluruh korban dengan mengutamakan keselamatan tim di lapangan,” tegasnya.

Untuk mendukung operasi di medan sulit, tim SAR juga mengerahkan berbagai alutsista, mulai dari helikopter, pesawat intai, hingga drone thermal. Hingga laporan ini disampaikan, operasi SAR masih terus berjalan dan akan disesuaikan dengan perkembangan situasi serta kondisi cuaca di lapangan.

Pesawat nomor penerbangan PK-THT milik Indonesia Air Transport ditemukan jatuh di Gunung Bulusaraung, usai dilaporkan hilang kontak dalam rute penerbangan Yogyakarta-Makassar pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat sewaan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu membawa sepuluh orang, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang.

Hingga Rabu pagi, tim SAR telah menemukan dua korban dalam keadaan meninggal. Satu jenazah dievakuasi lewat jalur darat, satu lainnya diangkut dengan helikopter. Kedua jenazah korban telah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan.

Editorial Team