Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
1001472257.jpg
Lokasi pengungsian banjir UPT SPF SD Negeri Paccarekkang, Jalan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Senin (12/1/2026). (Dok. Humas Pemkot Makassar)

Makassar, IDN Times - Masa pengungsian warga terdampak banjir di Kota Makassar berlangsung singkat. Delapan titik pengungsian yang dibuka sejak Senin (12/1/2026), sebagian besar sudah ditutup pada keesokan harinya seiring dengan cepatnya surut genangan air di sejumlah wilayah terdampak.

Berdasarkan data lapangan, pada Selasa (13/1/2026), jumlah posko pengungsian telah berkurang signifikan dan hanya tersisa dua lokasi. Hingga hari berikutnya, seluruh pengungsi dipastikan telah kembali ke rumah masing-masing setelah kondisi dinilai aman.

"Iya, sudah tidak ada pengungsi. Semua sudah pulang," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, Fadli Tahar, saat dikonfirmasi IDN Times, Rabu (14/1/2026).

1. Pemkot nilai kesiapsiagaan jadi penentu singkatnya pengungsian

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyapa warga saat meninjau lokasi pengungsian banjir UPT SPF SD Negeri Paccarekkang, Jalan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Senin (12/1/2026). (Dok. Humas Pemkot Makassar)

Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menilai singkatnya masa pengungsian mencerminkan kesiapsiagaan pemerintah dalam merespons potensi banjir sejak dini. Kondisi tersebut juga didukung oleh peran aktif masyarakat yang sigap menghadapi musim hujan dan mengikuti langkah antisipasi yang telah disiapkan.

"Kunci utama penanganan banjir di Makassar hari ini adalah kesiapsiagaan, mitigasi, dan pencegahan. Semua itu sudah kita siapkan jauh sebelum hujan datang. BPBD menjadi garda terdepan, dibantu Dinas PU, Dinas Sosial, DLH, camat, lurah, relawan, dan yang terpenting adalah masyarakat itu sendiri," kata Munafri.

2. Penanganan pengungsi dijalankan lintas sektor

Lokasi pengungsian banjir di Kantor Kelurahan Katimbang, Jalan Keindahan Raya, Kecamatan Biringkanaya, Senin (12/1/2026). (Dok. Humas Pemkot Makassar)

Selama masa pengungsian, pemerintah kota menyiagakan perangkat daerah terkait untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi. Bantuan logistik, layanan kesehatan, serta pemantauan lingkungan dilakukan secara terpadu di seluruh lokasi pengungsian.

"BPBD tidak bekerja sendiri. Dinas PU fokus pada normalisasi sungai dan saluran air, perbaikan drainase, serta pengoperasian pompa. DLH memastikan kebersihan lingkungan agar aliran air tidak tersumbat. Dinas Sosial menyiapkan langkah perlindungan bagi warga terdampak. Semua bergerak serentak," kata Munafri.

3. Pengungsi dipulangkan setelah kondisi dinyatakan aman

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyapa warga saat meninjau lokasi pengungsian banjir di Kantor Kelurahan Katimbang, Jalan Keindahan Raya, Kecamatan Biringkanaya, Senin (12/1/2026). (Dok. Humas Pemkot Makassar)

Petugas di lapangan turut mengasesmen sebelum penutupan posko dengan memastikan tidak ada genangan lanjutan di sekitar permukiman warga. Akses jalan dan lingkungan sekitar juga dipastikan dapat dilalui dengan aman sebelum pengungsi kembali ke rumah masing-masing.

"Pendekatan kita sekarang berbeda. Masyarakat tidak lagi hanya sebagai objek, tetapi sebagai subjek utama penanggulangan bencana. Mereka dilibatkan sejak pencegahan, kesiapsiagaan, hingga respon darurat. Inilah yang membuat penanganan banjir tahun ini jauh lebih baik," kata Munafri.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Makassar telah menetapkan status siaga cuaca menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi peningkatan curah hujan ekstrem hingga Februari 2026. BPBD Kota Makassar mencatat sebanyak 97 kepala keluarga atau 356 jiwa mengungsi akibat banjir dan angin kencang.

Editorial Team