Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mars Cocoa Research Station (MCRS), fasilitas penelitian kakao milik Mars yang terletak di Desa Attangsalo, Kecamatan Ma'rang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Aan Pranata)
Mars Cocoa Research Station (MCRS), fasilitas penelitian kakao milik Mars yang terletak di Desa Attangsalo, Kecamatan Ma'rang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Aan Pranata)

Intinya sih...

  • Indonesia menempati urutan ketujuh produsen kakao dunia, dengan produksi 160 ribu ton per tahun.
  • Petani kakao dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti serangan hama dan penyakit, penurunan kesehatan tanah, dan terbatasnya akses ke bibit unggul.
  • Mars berinvestasi dalam riset kakao untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung keberlanjutan industri kakao di Indonesia.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Indonesia sebagai tiga besar negara produsen kakao di dunia merupakan masa lalu. Menurut data pemerintah pada Juli 2024, Indonesia kini menempati urutan ketujuh dengan produksi 160 ribu ton per tahun, jauh di bawah Pantai Gading pada posisi pertama.

Danang Ariawan, Cocoa Sustainability Consultant Mars, perusahaan global yang mengoperasikan pengolahan kakao di Indonesia, menyebutkan, pada tahun 2023, produksi kakao lokal sebanyak 171 ribu ton. Itu hanya memenuhi 38 persen kebutuhan dalam negeri. Selebihnya 62 persen kebutuhan, yaitu 276 ribu ton diambil dari impor. 

"Bayangkan kalau produksi bisa di-improve, devisa negara bisa meningkat. Daripada uangnya untuk impor dari Afrika dan Amerika Latin, lebih baik uangnya untuk meningkatkan produksi di dalam Indonesia," kata Danang pada kunjungan media di Fasilitas Riset Kakao Mars (Mars Cocoa Research Station – MCRS) di Pangkep, Sulawesi Selatan, Rabu (23/4/2025). 

Mars mengadakan kunjungan media untuk memberikan wawasan tentang berbagai upaya mereka dalam mengatasi tantangan utama industri kakao di Indonesia serta membahas komitmen perusahaan dalam mendukung rantai pasok kakao yang lebih modern, inklusif, dan berkelanjutan.

1. Investasi riset untuk menjawab tantangan industri kakao di Indonesia

Kunjungan media di Mars Cocoa Research Station (MCRS), fasilitas penelitian kakao milik Mars yang terletak di Desa Attangsalo, Kecamatan Ma'rang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Dok. Istimewa)

Petani kakao di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, seperti pohon yang menua, serta meningkatnya serangan hama dan penyakit, termasuk Cocoa Pod Borer atau penggerek buah kakao dan Black Pod Disease atau penyakit busuk buah hitam. Tantangan pertanian lebih luas lainnya juga memperburuk kondisi ini, seperti penurunan kesehatan tanah, manajemen lahan yang kurang efektif, perubahan iklim, serta terbatasnya akses ke bibit unggul, serta pembiayaan. Selain itu, riset kakao yang masih terbatas dan transfer teknologi yang belum optimal menyebabkan produktivitas yang rendah, bahkan hanya mencapai sepersepuluh dari potensi maksimalnya.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Mars berinvestasi mendirikan fasilitas riset kakao di Tarengge, Luwu Timur pada 2012 dan Pangkep pada 2017. Kedua fasilitas berfokus pada pengelolaan hama terpadu, pemuliaan tanaman, kesehatan tanah, dan peningkatan produktivitas lahan.

Baru-baru ini, Mars juga meresmikan Cocoa Advanced Research Laboratory (CARL) di Pangkep, sebuah laboratorium penelitian pertanian dan pengembangan teknologi. Kedua fasilitas riset ini merupakan bagian dari jaringan penelitian kakao global Mars, yang juga mencakup pusat riset di Brasil, Ekuador, dan Amerika Serikat.

Kalpesh Parmar, General Manager, Mars Wrigley Asia menyampaikan, Indonesia menjadi pilar utama dalam strategi pertumbuhan perusahaan di Asia. Rantai pasok kakao yang lebih tangguh sangat penting bagi Mars maupun industri secara keseluruhan, serta bagi kesejahteraan petani kakao. Dengan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan produksi kakao, Mars berupaya menciptakan ekosistem kakao modern, inklusif, dan berkelanjutan.

“Di seluruh kawasan, kami fokus pada pertumbuhan berkelanjutan melalui inovasi, penguatan jalur distribusi dan kemitraan dagang, serta investasi dalam kapabilitas yang mempererat hubungan kami dengan konsumen. Investasi berkelanjutan kami dalam riset kakao dan pemberdayaan petani di Indonesia mencerminkan komitmen kami tidak hanya untuk mengembangkan bisnis cokelat, tetapi juga memberikan kontribusi yang berarti bagi komunitas tempat kami beroperasi,” kata Kalpesh dalam sambutannya.

2. Program riset membantu meningkatkan produktivitas

Mars Cocoa Research Station (MCRS), fasilitas penelitian kakao milik Mars yang terletak di Desa Attangsalo, Kecamatan Ma'rang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Aan Pranata)

Mars Cocoa Research Station (MCRS) Pangkep terletak di Desa Attangsalo, Kecamatan Ma'rang, Pangkep, dengan cakupan luas 95 hektar. Fasilitas penelitian ini berfokus pada peningkatan kualitas dan produktivitas kakao di Indonesia serta mendukung keberlanjutan kako jangka panjang.

Ada beberapa program riset dan pengembangan yang dilakukan di MCRS. Di antaranya pemuliaan, yaitu kawin silang untuk menghasilkan klon kakao produksi tinggi, tahan hama, dan beradaptasi dengan lingkungan. Berikutnya, pengendalian hama terpadu (PHT), dengan mengembangkan metode pengendalian hama dan penyakit serta mengurangi ketergantungan pada insektisida. 

Berikutnya, program tanah dan nutrisi tanah: pengelolaan tanah dan pemupukan untuk meningkatkan kesehatan tanah dan produktivitas tanaman. Lalu ada program meningkatkan penyerbukan dan kompabilitas klon, serta sistem pertanian diversifikasi untuk meneliti interaksi kakao dengan tanaman pendamping untuk meningkatkan ketahanan.

Salah satu temuan penting dari penelitian Mars adalah pentingnya peralihan dari sistem pertanian monoklonal (satu klon) ke multiklonal (beragam klon). Banyak petani kakao di Indonesia selama ini hanya menanam satu jenis klon unggul yang tidak dapat melakukan penyerbukan sejenis, sehingga menyebabkan produktivitas yang rendah. Riset Mars menunjukkan bahwa penggunaan beberapa jenis klon kakao unggul yang kompatibel dapat meningkatkan produktivitas hingga 50 persen.

Agus Purwantara, Station Manager Mars Cocoa Research Station Pangkep, dalam kunjungan ini menjelaskan, “Praktik multiklonal bertujuan mengoptimalkan hasil panen kakao dengan memastikan kompatibilitas genetik antar klon. Setidaknya tiga klon yang kompatibel dan maksimal 60% dari klon ini harus disebar secara merata serta ditanam berdekatan agar proses penyerbukan dapat terjadi secara optimal.”

Selain itu, Mars juga mendorong praktik agroforestri kakao yang lebih beragam, yang dapat membantu meningkatkan ketahanan lahan dan produktivitas, sekaligus memberikan pendapatan yang lebih stabil bagi petani. Dengan menanam berbagai jenis tanaman di sekitar pohon kakao, petani dapat lebih terlindungi dari fluktuasi harga komoditas dan musim panen yang rendah. Pendekatan ini juga dapat membantu mengurangi dampak cuaca ekstrem, seperti kekeringan dan curah hujan tinggi, dengan
memanfaatkan tanaman dengan toleransi berbeda terhadap kondisi lingkungan.

3. Pelatihan dan pendampingan petani untuk menerapkan pertanian modern

Kalpesh Parmar, General Manager, Mars Wrigley Asia (kiri) dan Jeffrey Haribowo, Indonesia Corporate Affairs Director. (Dok. Istimewa)

Agar hasil penelitian dapat diterapkan secara nyata, Mars membangun berbagai program pelatihan dan pendampingan bagi petani di Indonesia, seperti Mars Cocoa Academy dan Cocoa Development Centers di Luwu Raya, Sulawesi Selatan. Melalui fasilitas ini, para Associate Mars (sebutan untuk karyawan Mars) memberikan pelatihan kepada petani dalam praktik pertanian modern. Para petani yang telah dilatih kemudian menjadi Cocoa Doctor/Agripreneurs — ahli dalam budidaya dan pengelolaan tanaman kakao yang membagikan ilmu yang diperoleh kepada komunitasnya.

Saat ini ada sekitar 300 Cocoa Doctor/Agripreneurs, termasuk yang dilatih melalui program Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling-up Initiative (READ-SI) yang didanai oleh International Fund for Agricultural Development (IFAD), Mars, dan Kementerian Pertanian. 

"Setiap Cocoa Doctor/Agripreneur dapat menjangkau sekitar 100-200 petani lainnya, membantu mereka meningkatkan produktivitas dan praktik pertanian, serta mempererat hubungan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dan sejak 2012, untuk pelatihan agronomi sendiri, telah ada sekitar 5.000 peserta yang telah mendaptakan pelatihan tersebut," kata Jeffrey Haribowo, Indonesia Corporate Affairs Director.

Seiring dengan komitmen Mars dalam riset kakao dan pengembangan rantai pasok yang lebih berkelanjutan, keberhasilan jangka panjang industri kakao di Indonesia juga bergantung pada kolaborasi yang erat antara semua pemangku kepentingan, khususnya pemerintah.

“Dengan membangun pemahaman bersama tentang tantangan dan peluang di industri kakao, serta menciptakan lingkungan pendukung yang memadai bagi petani, kita dapat memperkuat sektor kakao di Indonesia," Jeffrey melanjutkan.

Editorial Team