Comscore Tracker

Kala Soekarno Wafat dalam Sepi, 49 Tahun Lalu

Hidup "Putra Sang Fajar" ibarat dua sisi mata uang koin

Makassar, IDN Times - Minggu jam tujuh pagi, 21 Juni 1970, Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Jakarta setelah kondisinya menurun drastis sejak malam sebelumnya. Tubuhnya menyerah setelah lima tahun berjuang melawan gagal ginjal.

Perjuangannya sejak meletakkan jabatan sebagai pemangku negara, tak diwarnai dengan segala orasi berapi-api dengan kepalan yang berusaha mengangkangi angkasa.

Ia berjuang melawan organ tubuh yang tak lagi sanggup menandingi energi melimpah ruahnya melawan dominasi dua kutub dunia. Tiada akhir pekan ceria di ibu kota, semua mendadak senyap dan sepi. Pendukung setia dan pengkritiknya paling getol, sama-sama menundukkan kepala. Semua hormat pada jasanya sebagai pendiri Republik Indonesia, sumbangsih yang gaungnya melekat dalam benak seluruh generasi.

Di hari kemerdekaan RI, (17/8), IDN Times mengajak pembaca mengenal lagi sang proklamator yang setia dengan tongkat komando dan peci hitam itu.

1. Masa kecil "Sang Putra Fajar"

Kala Soekarno Wafat dalam Sepi, 49 Tahun LaluRepro. Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (Cindy Adams, 1965)

Soekarno lahir dengan nama Kusno Sosrodihardjo, pada subuh hari tanggal 6 Juni 1901 di Surabaya. Ia adalah anak lelaki dari pasangan suami-istri berdarah biru. Sang ayah, Raden Sukemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru keturunan raja Kediri yang menghabiskan masa mengajarnya dengan berpindah-pindah tempat di sejumlah desa Jawa Timur. Sementara itu sang ibunda, Ida Ayu Nyoman Rai, adalah bangsawan dari Singaraja Bali.

Dalam buku biografi kesohor Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (1965) yang disusun oleh Cindy Adams--wartawati terkenal asal AS-- Bung Karno mendapat julukan Putra Sang Fajar dari ibu tercinta.

"Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali kali kaulupakan, nak! Bahwa engkau ini putera dari sang fajar," ujar Ida kepada Soekarno yang masih kanak-kanak.

Beranjak dewasa, ia melihat dan merasakan sendiri penindasan pemerintah kolonial ditambah parahnya feodalisme. Kata Inlander --sebutan orang Belanda untuk penduduk asli Indonesia namun berkonotasi negatif--sudah tak asing di telinga Karno kecil.

2. Kampus ITB, saksi bisu perjuangan awal Bung Karno

Kala Soekarno Wafat dalam Sepi, 49 Tahun LaluITB.ac.id

Kendati kondisi ekonomi keluarganya terbilang jauh dari pas-pasan, kedua orang tua masih berusaha agar Soekarno mengenyam bangku sekolah. Berturut-turut jenjang Eerste Lagere School dan Europeesche Lagere School (keduanya setingkat SD) serta Hogere Burger School (setingkat SMA) dijalaninya dari 1907 hingga 1915. Masa-masa HBS Soerabaja-nya termasuk istimewa lantaran ia indekost di rumah Haji Oemar Said Cokroaminoto, pentolan gerakan Sarekat Islam.

Setelah sibuk dengan tugas dan pelajaran, Soekarno remaja mulai mengenal pergerakan lantaran acapkali bertemu dengan tokoh-tokoh lain seperti Haji Agus Salim, Musso hingga Abdul Muis. Di sini pula ia berkenalan dengan putri HOS Cokroaminoto sekaligus istri pertamanya, Siti Oetari, yang disuntingnya pada 1920.

Usai tamat HBS Soerabaja di Juli 1921, Soekarno melanjutkan pendidikan ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) di Bandung. Studinya di jurusan teknik sipil hingga tahun 1926 berakhir dengan gelar insinyur di tangannya. Semasa di Kota Kembang, golak batin pergerakannya dipupuk oleh para pemimpin organisasi nasional Insdiche Partij yakni Ki Hajar Dewantara, Cipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker.

3. Awal masa pergerakan nasional

Kala Soekarno Wafat dalam Sepi, 49 Tahun LaluRepro. Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (Cindy Adams/1966)

Sejak mahasiswa, ia mulai berkutat pada segala kegiatan politik yang menentan pemerintahan kolonial Belanda. Karier politiknya dimulai pada 1927 dengan mendirikan Partai Nasional Indonesia. Setahun berselang, ia membentuk PPPKI atau Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia yang menghimpun partai-partai politik berhaluan nasional ke dalam sebuah faksi.

Lama kelamaan, kegiatannya menyadarkan rakyat atas derita pejajahan membuat pemerintah Hindia-Belanda gerah. Pada 29 Desember 1929, Soekarno diborgol polisi kolonial kemudian dijebloskan ke Penjara Banceuy. 

"Selku lebarnya satu setengah meter —separuhnya sudah terpakai untuk tidur— dan panjangnya betul-betul sepanjang peti mayat. Ia tidak berjendela tempat menjenguk dan tidak berjeruji supaya bisa mengintip keluar. Penjara Belanda di jaman kami tidak dapat disamakan dengan penjara yang bisa disaksikan di layar putih dimana penjahat dijebloskan ke dalam sel yang luas berjeruji besi, pakai lampu dan masuk udara dari segala penjuru," kenang Soekarno perihal terungkunya.

Berturut-turut ia kemudian dibuang dari belahan timur ke barat Indonesia pasca pembelaan bertajuk Indonesia Menggugat pada 1930. Mulai dari Pulau Ende (1933-1938) kemudian Bengkulu, Padang hingga Bukittinggi (1938-1942). Barulah ia menghirup udara bebas kala Jepang masuk menendang keluar Belanda.

4. Bebas dari tahanan, kemudian mengantar Indonesia merdeka

Kala Soekarno Wafat dalam Sepi, 49 Tahun LaluPerpusnas.go.id - President of Indonesia Collection Website

Pasca bebas, Soekarno masuk ke dalam berbagai organisasi nasional seperti Pusat Tenaga Rakyat dan Jawa Hokokai. Kegiatannya bersama para tokoh pergerakan lain dalam badan bentukan Jepang rupanya kurang disukai tokoh-tokoh muda. Alhasil tahun-tahun akhir pendudukan Dai Nippon diwarnai debat sengit perihal apakah kemerdekaan harus menunggu diberikan Tokyo atau dilakukan secara mandiri.

Pilihan kedua jadi akhir segala ketegangan. Pada 17 Agustus 1945, Soekarno membaca proklamasi kemerdekaan Indonesia, membebaskan negeri kaya rempah dari cengkeram pendudukan penjajah. Atas posisinya sebagai Ketua Badan Persiapan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), ia diangkat secara aklamasi menjadi presiden bersama Mohammad Hatta sebagai wakilnya.

Tahun-tahun awal berdirinya republik diawali dengan berbagai peristiwa mulai dari Invasi Belanda (1945-1950), pemberontakan PKI di Madiun (1948), Darul Islam (1949-1953), APRA (1950) serta Republik Maluku Selatan (1950). Ia turut mengalami serangkaian usaha pembunuhan dari akhir dekade 1950 hingga pertengahan 1960-an.

Namun, segala gejolak dalam negeri tak menghalanginya ikut serta dalam percaturan politik dunia. Selain percaya bahwa Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat hanya menyeret negara-negara belia dalam ketidakpastian, Soekarno juga menentang habis imperialisme. Maka diprakarsailah Konferensi Asia-Afrika pada 1955, Gerakan Non-Blok serta Conference of New Emerging Force yang hanya berusia satu setengah tahun (7 Januari 1965-11 Agustus 1966).

Baca Juga: Ketika Makassar Berganti Nama Ujung Pandang

5. Tahun-tahun akhir kepresidenan

Kala Soekarno Wafat dalam Sepi, 49 Tahun LaluUnited States Information Service

Masa-masa akhir kepemimpinannya diwarnai dengan tensi tinggi politik dalam negeri, proyek mempercantik Jakarta yang menelan dana raksasa, konfrontasi dengan Malaysia serta pembredelan sejumlah surat kabar. Inflasi bahkan mencapai 600 persen di tahun 1964 lantaran segala pendanaan dialihkan ke militer. Pangan susah, rakyat melarat. Sedang di seberang jalan, Istana Negara tak kunjung memberi solusi konkrit yang berulang kali ditagih. Perlahan ia mulai kehilangan simpati.

Ia bahkan pecah kongsi Dwitunggal lantaran Hatta melihat gelagat sang sahabat yang perlahan melangkah menuju otoritarianisme. Benar saja, pada 1963, Soekarno mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup melalui TAP MPRS No. III/MPRS/1963.

Tak lama berselang usai peristiwa 1965 plus Tritura dan Supersemar 1966, jabatan Soekarno sebagai presiden seumur hidup dilucuti oleh MPRS pada 12 Maret 1967. Selanjutnya ia menjadi tahanan rumah di Wisma Yaso, bangunan yang ia dirikan untuk istri keenamnya, Dewi Soekarno alias Naoko Nemoto). Diapun hanya sesekali menerima kunjungan dari keluarga lantaran diinterogasi. Kesehatannya pun memburuk hingga wafat pada 22 Juni 1970, di usia 69 tahun.

6. Hidup sang Presiden Indonesia pertama diwarnai berbagai catatan

Kala Soekarno Wafat dalam Sepi, 49 Tahun LaluIPPHOS/Repro. 30 Tahun Indonesia Merdeka Jilid 5 (Sekretariat Negara Republik Indonesia)

Mendiang jurnalis kawakan Mochtar Lubis pada editorial harian Indonesia Raya edisi 22 Juni 1970, yang disadur dari buku Tajuk-tajuk Mochtar Lubis Seri I (1997), menggambarkan dengan ringkas dua sisi saling bertolak belakang Si Penyambung Lidah Rakyat. Sebagai catatan, Orde Lama pernah membredel harian Indonesia Raya dan memenjarakan Mochtar Lubis.

"Jelas jasa-jasanya dalam membangkitkan kesadaran nasionalisme Indonesia adalah besar. Sidang pengadilan kolonial yang mengadilinya di jaman penjajahan Belanda telah menjadi sumber inspirasi bagi berjuta pemuda Indonesia di tahun dua puluhan, tiga puluhan, hingga empat puluhan. Seperti juga dirinya telah jadi sumber bagi bangkitnya perlawanan berjuta pemuda terhadap dirinya dan kekuasaan serta falsafah politiknya di tahun enam puluhan.

Di samping jasa-jasanya sebagai salah seorang pemimpi gerakan nasionalis Indonesia, sebagai presiden pertama Republik Indonesia nyata dia telah gagal berkembang jadi seorang negarawan.

Ia senang dengan gambaran-gambaran romantis yang naif, terpesona dengan kemahiran retoriknya yang memang besar dan istimewa, dan akhirnya ia jatuh ke dalam perangkap simbolik dan semboyan-semboyan yang dipasangnya untuk memikat dan mempesona rakyatnya."

Baca Juga: Nelayan Makassar dan Awal Masuknya Islam di Australia

Topic:

  • Ach. Hidayat Alsair
  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya