Pendiri ONE Global Capital Iwan Sunito. (Dok. Istimewa)
“The best investment on Earth is earth.” Demikian kutipan terkenal dari Louis Glickman, seorang investor properti asal New York, Amerika Serikat. Tak dapat dibantah, properti merupakan salah satu investasi paling menguntungan, lantaran ketersediaan lahan yang terus berkurang, inflasi, permintaan yang terus bertambah, dan perkembangan infrastruktur kawasan.
Setelah berhasil mengakuisisi lahan tersebut, Iwan beserta kolega kemudian menyewakannya sebagai showroom mobil. “Selama lebih dari satu dekade, harga sewa dipatok hanya AUD1 juta per tahun. Sekadar cukup untuk membayar bunga dan biaya operasional—hingga waktunya dikembangkan,” tuturnya.
Momentum itu datang pada tahun 2019, saat Pemerintah New South Wales (NSW) meluncurkan Parramatta Road Transformation Strategy, yang mengubah aturan zonasi dan membuka potensi besar di koridor ini. Pemerintah NSW pun menetapkan kawasan Five Dock sebagai pusat pertumbuhan baru, dengan stasiun metro modern yang akan menghubungkan Parramatta dan Sydney CBD secara cepat dan efisien.
Menurut Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, proyek metro dan zonasi baru menciptakan peluang luar biasa untuk perumahan dan komersial di kawasan Five Dock dan sekitarnya. “Dengan demikian, Five Dock akan menjadi titik strategis dalam konektivitas kota,” jelas Albanese—yang juga merupakan warga wilayah tersebut.
Tak hanya Pemerintah, para ahli tata kota mendukung optimisme ini. “Five Dock adalah studi kasus ideal bagaimana transportasi publik dan perencanaan terpadu menciptakan pusat kota baru yang inklusif dan bernilai tinggi,” kata Prof. Nicole Gurran, pakar perencanaan dari University of Sydney.
Alhasil, Five Dock yang dulu dipandang sebelah mata, kini berdiri di garis depan perubahan. Zonasi lahan berubah secara dramatis. Potensi GFA (Gross Floor Area) melonjak menjadi 65.000 m² dan membuka kesempatan pembangunan 750 apartemen.
Di sisi lain, lahan yang dibeli Iwan Sunito dan koleganya hanya Rp150 miliar di 2002, kini nilainya meroket menjadi Rp1 triliun, dengan potensi pengembangan senilai lebih dari Rp10 triliun. “Ini bukan spekulasi, tapi strategi, riset mendalam, kesabaran, dan kemampuan membaca arah pengembangan tata kota,” tukasnya.