Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi inflasi
ilustrasi inflasi (IDN Times/Arief Rahmat)

Makassar, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan merilis laporan terbaru mengenai kondisi ekonomi di wilayah ini. Berdasarkan rilis resmi yang dikeluarkan pada Senin (5/1/2026), Sulawesi Selatan mencatatkan inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 2,84 persen pada Desember 2025. Dengan angka Indeks Harga Konsumen (IHK) yang menyentuh level 109,28, laporan ini mencerminkan dinamika harga kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Sulsel sepanjang tahun 2025.

Pergerakan harga ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari fluktuasi harga komoditas pangan hingga pergeseran biaya jasa di tengah masyarakat. Berikut adalah rincian lengkap mengenai perkembangan inflasi di Sulawesi Selatan:

1. Perbandingan wilayah: Kota Parepare alami lonjakan harga tertinggi

Ilustrasi bps IDN Times/Hana Adi Perdana

Dalam pantauan BPS di beberapa kota di Sulawesi Selatan, terjadi ketimpangan angka inflasi yang cukup menarik untuk dicermati. Kota Parepare muncul sebagai wilayah dengan tingkat inflasi tertinggi, yakni menyentuh angka 3,85 persen dengan IHK sebesar 110,69. Angka ini menunjukkan bahwa rata-rata harga barang dan jasa di Parepare mengalami kenaikan yang lebih cepat dibandingkan kota-kota lainnya di Sulsel.

Di sisi lain, Kota Palopo justru menunjukkan kondisi yang jauh lebih stabil. Kota ini tercatat mengalami inflasi paling rendah di Sulawesi Selatan, yakni hanya sebesar 2,32 persen dengan IHK berada di posisi 108,62. Perbedaan angka antarwilayah ini memberikan gambaran bagi pemangku kebijakan mengenai daerah mana yang membutuhkan perhatian lebih dalam pengendalian stok barang dan stabilitas harga di pasar.

2. Sektor perawatan pribadi dan bahan pokok jadi pendorong utama

Ilustrasi skincare cushion (freepik.com/freepik)

Jika membedah kelompok pengeluaran yang memicu kenaikan inflasi, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan kejutan besar. Kelompok ini mencatatkan lonjakan harga yang sangat drastis, yakni mencapai 14,47 persen. Kenaikan yang mencapai dua digit ini menjadi motor utama yang mendorong angka inflasi tahunan Sulsel secara keseluruhan.

Selain kebutuhan perawatan diri, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga terus merangkak naik. Kelompok ini mengalami kenaikan sebesar 4,46 persen, yang secara langsung berdampak pada pengeluaran harian rumah tangga. Tidak berhenti di situ, sektor penyediaan makanan dan minuman atau restoran juga ikut menyumbang inflasi dengan kenaikan harga sebesar 1,24 persen, yang mencerminkan adanya penyesuaian harga di tingkat pedagang kuliner dan rumah makan.

3. Tren kenaikan biaya pada sektor pendidikan, hunian, dan transportasi

Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)

Inflasi di penghujung tahun 2025 tidak hanya didominasi oleh barang konsumsi, tetapi juga merambah ke sektor jasa dan fasilitas dasar lainnya. Kelompok pendidikan mencatatkan kenaikan sebesar 1,12 persen, yang menandakan adanya penyesuaian biaya operasional di lembaga-lembaga pendidikan. Sementara itu, kelompok pengeluaran untuk perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga naik sebesar 0,72 persen.

Meski tidak sedrastis sektor lainnya, kelompok transportasi tetap menyumbangkan angka inflasi sebesar 0,42 persen. Meskipun tergolong tipis, kenaikan di sektor transportasi ini tetap memberikan efek domino pada distribusi barang di Sulawesi Selatan. Secara keseluruhan, rentetan kenaikan di berbagai sektor ini menjadi evaluasi penting dalam menutup tahun 2025 untuk menjaga daya beli masyarakat Sulawesi Selatan tetap terjaga di tahun yang baru.

Editorial Team