Comscore Tracker

Tak Sembarang Pecut atau Tampar: Meluruskan Salah Kaprah tentang BDSM

Melihat BDSM dari berbagai sisi, beserta segudang istilahnya

Makassar, IDN Times - Kalau kamu pernah menonton film Fifty Shades of Grey (2015), kamu pasti sudah tahu dengan kebiasaan Christian Grey si tokoh utama melakukan BDSM bersama pasangannya yakni Ana Steele. BDSM adalah singkatan dari Bondage and Discipline (BD), Domination and Submission (DS), Sadism and Masochism (SM).

Jika dirunut dari terminologi, BDSM adalah variasi gaya dan fantasi seks yang sudah lumrah dilakukan oleh pasangan dalam meningkatkan kualitas hubungan. Amanda Ullman, salah satu kontributor untuk HerCampus.com, menulis bahwa BDSM merupakan variasi dari sejumlah aktivitas seksual yang melibatkan permainan peran, dominasi salah satu pihak, pengekangan dan berbagai perilaku seksual lainnya.

1. BDSM menekankan pada konteks erotis, bukan perbuatannya

Tak Sembarang Pecut atau Tampar: Meluruskan Salah Kaprah tentang BDSM(Ilustrasi BDSM) Unsplash.com/Artem Labunsky

Janet W. Hardy, dalam buku The New Topping Book (2003) yang khusus membahas sisi emosional dan etis dalam BDSM, menyebut variasi seks tersebut "aktivitas di mana para pelakunya memberi sensasi atau emosi erotis yang akan tidak menyenangkan dalam konteks non-erotis". Yang digaris bawahi adalah konteks erotisnya, bukan perbuatan.

Apa saja aktivitas tersebut? Banyak macamnya. Ada mencambuk, mengikat, mengurung atau membungkam. Ya, semuanya gak terasa menyenangkan kalau dilakukan di dunia nyata. Tapi kalau itu semua dilakoni dalam konteks erotis demi sensasi bercinta dari pasangan, maka kegiatan seksual kamu bakal terasa menyenangkan atau menantang.

2. Gambaran BDSM di "Fifty Shades of Grey" (2015) ternyata tak sesuai fakta

Tak Sembarang Pecut atau Tampar: Meluruskan Salah Kaprah tentang BDSMIMDb.com

Oke, kembali ke Fifty Shades of Grey . Ternyata, tindakan BDSM di film besutan sutradara Sam Taylor-Johnson itu masih terlalu "halus". Itu dituturkan seorang BDSM enthusiat bernama Emily Sarah kepada harian The Guardian. "Di film itu, hanya terlihat Christian yang mengikat Ana. Padahal dalam hubungan BDSM, ada lebih banyak koneksi yang terlibat, ada lebih banyak obrolan dan kebiasaan lain," ungkapnya.

Salah satu kontributor untuk majalah dewasa Cosmopolitan, Deb Nicolls, bahkan lebih blak-blakan. "BDSM jarang terasa glamor, bisa berantakan. Kalau kamu terlibat dalam hubungan yang hanya berjalan sebentar, BDSM bisa menjadi sangat rumit kecuali kamu bisa hati-hati menyikapi sisi emosional," tulisnya.

Kritik dari Ronald Elliston, pegiat BDSM di Inggris sejak dekade 1980-an, lebih pedas lagi. Ia menyebut situasi di mana Ana berjumpa dengan pria rupawan dengan sisi gelap, dan memilih tetap bersamanya usai merasakan BDSM, adalah hal yang gak realistis. Ia juga khawatir dengan sikap coba-coba yang mungkin akan dilakukan para cowok.

3. Aktivitas BDSM bertumpu pada satu kata: konsensual alias tanpa unsur paksaan

Tak Sembarang Pecut atau Tampar: Meluruskan Salah Kaprah tentang BDSMpexels.com/pixabay

Dalam relasi BDSM, ada dua pihak yang terlibat. Ada peran dominan, yang mana di tangannya terletak kuasa, kekuatan dan tanggung jawab perihal kondisi pasangannya. Yang lain disebut submisif, yakni pihak yang menerima rasa sakit sekaligus nikmat dari perlakuan sang dominan.

Oh iya, hal paling penting dalam aktivitas BDSM ini adalah adanya kesepakatan bahwa ini dilakukan tanpa paksaan dari satu pihak. Istilahnya, konsensus. Tengok saja bagaimana Christian Grey sampai harus menyodorkan kontrak kepada Ana. Sekali lagi, BDSM bertumpu pada rasa percaya terhadap pasangan dan bukan ajang untuk mempraktikkan kekerasan.

Pihak dominan yang baik tak pernah membiarkan situasi di luar kendalinya. Perintah dari mulut mereka tak perlu diucapkan dengan nada kasar atau kata-kata agresif. Dan yang paling penting, dia wajib tahu batasan pihak submisif.

Baca Juga: 11 Titik Rangsang Wanita Paling Sensitif, Suami Sudah Tahu?

4. Yang patut dicamkan, BDSM adalah sebuah alternatif dari aktivitas seksual

Tak Sembarang Pecut atau Tampar: Meluruskan Salah Kaprah tentang BDSM(Ilustrasi) Pexels.com/Marx Ilagan

Pihak submisif pun berhak mengatakan "tidak". Mereka-lah pihak yang sebenarnya paling berkuasa karena mampu menunda dan bahkan membatalkan interaksi BDSM kapan saja. Ada lebih banyak pembicaraan, terutama apa saja yang dilakukan selama interaksi dan setelahnya.

Lantaran terlibatnya unsur "kesakitan" dalam mencapai kepuasan, gak heran banyak yang memandang BDSM sebagai penyimpangan. Malah, ada pula yang bertanya apakah intensitas melakukan aktivitas BDSM akan berpengaruh terhadap kejiwaan. Yang patut dicamkan, BDSM adalah alternatif dari aktivitas seksual. Dan para pelakunya adalah orang normal dengan fantasi yang masih dalam taraf normal pula.

Jurnalis asal Amerika Serikat bernama Michael Castleman, rutin menulis topik seks selama tiga dekade lebih. Ia menyebut BDSM seperti sebuah permainan. "Saat seorang pemain sepak bola bermain dengan bagus, rekan satu timnya acapkali memukul bokong, tubuh atau menampar kawannya. Orang yang menerima perlakuan tersebut menerima 'siksaan' dengan senang hati sebagai tanda apresiasi dan ketertarikan," tulis Michael di Psychology Today pada 2015 silam.

5. BDSM sendiri tidak bisa langsung sembarang dipraktikkan, pasangan harus mempelajari dan mempertimbangkan banyak hal

Tak Sembarang Pecut atau Tampar: Meluruskan Salah Kaprah tentang BDSM(Ilustrasi) Pexels.com/George Shervashidze

Kamu mungkin ingin bertanya ini kepada mereka yang sudah biasa dengan BDSM: apa itu terasa menyenangkan? Jawaban mereka? Sudah pasti iya. BDSM gak seperti seks lazimnya. Hubungan intim biasa bisa dilakukan tanpa banyak interaksi atau bahkan percakapan. BDSM justru sebaliknya. Si dominan harus sering-sering bertanya apakah pihak submisif bersedia ditampar atau dipukul salah satu bagian tubuhnya, apakah itu terasa sakit, apakah masih ingin lanjut dan masih banyak lagi.

Segudang proses negosiasi membuat aktivitas BDSM dipandang lebih intim. Eits, BDSM ini gak bisa sembarang langsung dipraktikkan. Para pasangan harus banyak membaca referensi, termasuk tahu istilah penting seperti "safe words" serta konsep dominan-submisif, lengkap dengan dos and don'ts. Ada banyak hal lain yang turut dipertimbangkan.

6. Ada hormon serotonin dan melatonin yang turut berperan dalam aktivitas BDSM

Tak Sembarang Pecut atau Tampar: Meluruskan Salah Kaprah tentang BDSMIlustrasi BDSM. Unsplash.com/Artem Labunsky

Mari berbicara dari sisi medis. Kenapa setiap tamparan dan pecutan yang diterima pihak submisif justru terasa nikmat? Ini gak lepas dari adanya hormon dalam sistem reseptor manusia. Hormon endorfin dikeluarkan oleh tubuh ketika merasakan sakit. Nah, otak mengubah rasa stres atau sakit menjadi rasa bahagia berkat hormon serotonin dan melatonin.

Namun, ada masalah lain mencuat. Artikel Journal of Sexual Medicine edisi Juni 2018 berjudul Fifty Shades of Stigma: Exploring the Health Care Experiences of Kink-Oriented Patients menyebut bahwa hanya segelintir pelaku BDSM yang bersedia terbuka pada dokter perihal aktivitas seksualnya. Mayoritas merasa takut dihakimi, yang malah bisa berujung pada penanganan yang tak tepat dari dokter.

Sekali lagi, aktivitas BDSM sangat membutuhkan persetujuan dari pasangan. Pihak dominan tak boleh melewati batas, sementara kendali sebenarnya ada di tangan pihak submisif yang berhak menghentikan aktivitas BDSM kapan saja.

Gimana? Udah jelas? Semoga artikel ini membantu, ya. Terutama untuk mereka yang sedang membahas RUU Ketahanan Keluarga. Salam (ber)cinta!

Baca Juga: Tanpa Hubungan Seksual, 7 Hal Ini Bisa Membuat Kita Orgasme Spontan

Topic:

  • Ach. Hidayat Alsair
  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya