ilustrasi menghadapi Toxic Positivity (pexels.com/Pixabay)
Buat mengurangi efek toxic positivity, kita bisa mulai dengan memahami bahwa media sosial itu bukan gambaran hidup yang utuh. Selain itu, influencer juga ada baiknya lebih jujur dan realistis soal kehidupan mereka, nggak cuma menunjukkan yang bagus-bagus saja. Beberapa influencer sudah mulai terbuka soal kesehatan mental mereka, misalnya, dan ini bagus buat bikin kita nggak merasa “sendirian” kalau lagi merasa down.
Selain itu, kita sendiri perlu belajar buat menerima semua emosi, nggak cuma yang positif saja. Emosi negatif itu bukan berarti kita lemah atau kurang bersyukur, tapi lebih ke bagian alami dari hidup. Dengan lebih jujur kepada diri sendiri, kita bisa menjalani hidup yang lebih realistis tanpa harus terus mengikuti standar bahagia ala media sosial yang kadang nggak masuk akal.
Jadi, toxic positivity ini adalah fenomena yang lahir dari seringnya kita melihat hidup orang lain di media sosial yang kelihatan sempurna. Padahal, dengan menyadari bahwa sedih atau kecewa itu juga bagian penting dari hidup, kita bisa pelan-pelan keluar dari efek buruk toxic positivity ini. Nggak perlu memaksa untuk selalu bahagia, yang penting kita bisa jujur kepada diri sendiri dan merasakan semua perasaan yang ada.
Sumber referensi:
- https://www.verywellmind.com/it-s-time-to-ditch-toxic-positivity-in-favor-of-emotional-validation-6502330
- https://www.verywellmind.com/what-is-toxic-positivity-5093958