Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi teman bertengkar (pexels.com/Liza Summer)
ilustrasi teman bertengkar (pexels.com/Liza Summer)

Intinya sih...

  • Pertimbangkan dampak emosi verbal pada hubungan, bisa berakhir secara singkat

  • Luapan emosi bisa berlipat ganda rasa sakit yang diberikan kepada orang lain

  • Emosi tidak terkontrol dapat memicu pertengkaran dan membuat orang merasa terisolasi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Segala bentuk permasalahan dalam hidup sering kali menyulut emosi yang tak terbendung, penuturan kata dengan nada yang tinggi dan penuh amarah menjadi salah satu cara menyalurkan kekesalan tersebut.

Dilansir Psychology Today, kemarahan bisa menjadi emosi yang sehat, memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Memeriksa diri sendiri dan mencari tahu apa yang sebenarnya tidak berjalan dengan baik.

Meski bisa membawa hal positif, tentu cara penyalurannya harus berada dalam jalur yang benar. Perhatikan dengan baik, sedikitnya ada lima alasan pentingnya pertimbangan dalam menyalurkan emosi secara verbal di bawah ini.

1. Hubunganmu dengannya bisa berakhir pada saat itu juga

ilustrasi teman bertengkar (pexels.com/Liza Summer)

Bertengkar dengan pasangan, sahabat, atau rekan kerja menjadi hal yang biasa terjadi di ruang lingkup masing-masing. Sayangnya, keberadaan emosi bisa membawa perubahan yang cukup besar ke depannya, berlanjut atau berhenti pada saat itu juga.

Cobalah untuk mempertimbangkan segala aspek yang bisa merusak segalanya, terutama dalam meluapkan emosi secara verbal. Hubungan yang sudah terjalin lama bisa berakhir secara singkat hanya karena emosi sesaat.

2. Rasa sakit yang kamu berikan bisa dua kali lipat dari yang diterima

ilustrasi bertengkar di kantor (pexels.com/ANTONI SHKRABA)

Luapan emosi biasanya ditujukan untuk membalas segala perbuatan orang lain yang menurutmu pantas mendapatkannya. Berbagai macam perkataan bisa kamu lontarkan tanpa pikir panjang, keberadaan emosi membuat pola pikirmu menjadi pendek.

Sayangnya, tanpa pertimbangan yang jelas, rasa sakit yang kamu berikan bisa dua kali lipat dari yang diterima. Bukannya kamu membalas sesuai dengan porsinya, malah terjadi penyesalan di akhir karena terlalu berlebihan dan tanpa arah yang jelas.

3. Adanya pembalasan dari sikap emosional yang kamu berikan, siap menerimanya?

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Timur Weber)

Emosi yang berlarut-larut akan terus menimbulkan perpecahan yang tidak ada habisnya. Adanya pembalasan dari sikap emosional yang kamu berikan bisa terjadi jika orang tersebut tidak terima dan memberikan respons yang serupa.

Pada akhirnya, akan ada pertengkaran hebat dan kasus terburuknya, perpecahan dan kerusuhan yang tidak bisa dicegah lagi. Itulah pentingnya mempertimbangkan segala bentuk penyaluran emosi, jangan sampai berakibat buruk dalam bentuk apa pun itu.

4. Amarah yang tidak terkontrol bisa memicu kata-kata kasar dan pelecehan verbal

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/MART PRODUCTION)

Amarah yang berapi-api bisa membawa perubahan suasana yang tadinya santai, menjadi sangat tegang. Emosi yang tidak terkontrol bisa memicu kata-kata kasar dan bahkan pelecehan verbal secara tidak sadar.

Emosi yang terpendam memang tidak baik, tapi butuh tempat penyaluran yang tepat agar tidak ada orang yang merasa tersakiti. Cobalah untuk memperbaiki bagaimana kamu mengontrol diri agar keberadaan emosi tidak memicu permasalahan baru yang lebih besar.

5. Kamu bisa dijauhi dan merasa terisolasi atas tindakan emosional tersebut

ilustrasi pria bertengkar (pexels.com/Monstera)

Secara garis besar, tidak ada orang yang nyaman dengan pribadi emosional atau pemarah, segala bentuk permasalahan diselesaikan dengan nada yang tinggi dan bahkan keluar kata-kata yang tidak pantas.

Hal tersebut bisa membuatmu dijauhi dan merasa terisolasi atas tindakan emosional tersebut. Tentu sangat berdampak pada apa yang kamu dapatkan ke depannya, pertimbangkan kembali sebelum menyalurkan emosi secara tidak terukur.

Kesimpulannya, keberadaan emosi dalam hidup bisa kita anggap wajar karena itu bagian dari sifat manusiawi. Namun, pertimbangkan kembali bagaimana cara kamu menyalurkan emosi seperti kelima poin di atas, jangan sampai membawa masalah demi masalah yang tidak ada habisnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team