Makassar, IDN Times - Jumat 2 Agustus 1949 siang, Wolter Monginsidi melangkah dengan tegap menuju ruang telekomunikasi Tangsi NICA di Mattoanging Makassar. Setelah diizinkan duduk oleh petugas, ia mulai mengutarakan kata demi kata surat kawat yang hendak dikirim ke sang ayahanda.
Isinya pendek saja:
"petrus monginsidi malalajang km menado ttk
grasi ditolak km surat menyusul
w monginsidi ttk hbs"
Singkat, padat, dan jelas. Proses pengiriman surat kawat berlangsung kurang dari lima menit. Monginsidi kemudian kembali ke terungkunya nan temaram. Sejak ditangkap, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Cukup lama terdiam, ia kemudian meraih sebuah kertas lusuh dan pensil. Kata demi kata ia mulai guratkan. Sejenak, pikiran Monginsidi melayang jauh menuju Malalayang.
Pada saat bersamaan di Jakarta, pihak Indonesia enggan mundur dari upaya menangguhkan hukuman matinya dengan alasan Belanda harus memisahkan antara motif politik dan motif kriminal murni. Adapun kubu lawan berdalih aksi Monginsidi dilandasi yang pertama, lantaran saat itu yang bersangkutan berstatus sebagai gerilyawan.