Makassar, IDN Times - Pangeran Diponegoro memandang lepas pantai Makassar dari loteng tempat penahanannya di gedung kediaman para perwira Benteng Fort Rotterdam yang berada di sisi timur dan lebih dekat ke Bastion Ravelin. Saat itu sudah masuk pertengahan 1849, atau 12 tahun sejak pengobar Perang Jawa (1825-1830) tersebut diasingkan ke Makassar. Sebelumnya sempat dibuang oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda ke Tondano (Sulawesi Utara), tapi mengaku tidak nyaman dengan udaranya yang dingin.
Sepucuk surat dari sang ibu yang sudah berusia lanjut, Raden Ayu Mangkorowati, membuat Diponegero dilanda perasaan gembira. Sejak ditangkap oleh Letnan Jenderal Hendrik Merkus di Kock pada 28 Maret 1830, praktis ia tak lagi berkomunkasi dengan sang ibu. Terlebih anggota keluarganya tercerai berai sebab ada yang diasingkan di Ambon (anak Diponegoro yakni Pangeran Dipokusumo dan Raden Mas Raib) serta ke Sumenep (anak tertuanya yakni Pangeran Diponegoro II). Tapi, Diponegoro tetap bisa tahu perkembangan dunia luar melalui jalur komunikasi tidak resmi.
