Gedung DPR-MPR RI. IDN Times/Kevin Handoko
Selama bekerja di Orde Baru, Sutami kerap bersitegang dengan teknokrat Mafia Berkeley karena proyek-proyek strategisnya kerap direvisi. Mendiang Habibie menceritakan ini dalam buku Pembangunan Berdasarkan Nilai Tambah dengan Orientasi Teknologi dan Industri (Teknotama Arya Kreasi, 1993). Saat itu, Habibie sebagai anak buah memang kerap mendengar keluh kesah Sutami. Tapi, sang menteri memilih berkompromi dengan keadaan.
Bekerja belasan tahun sebagai menteri untuk dua presiden berbeda, Sutami tetap mempertahankan gaya hidup sederhana. Hendropranoto Suselo dalam Edisi Khusus 20 Tahun Majalah Prisma (LP3ES, 1991) pernah menulis bahwa tamu-tamu Lebaran yang datang berkunjung kaget saat melihat banyak bekas bocor di langit-langit pribadi Soetami. Selain itu, ia rela jalan kaki puluhan kilometer saat meninjau wilayah pedalaman.
Sutami enggan memanfaatkan status menteri untuk akses kemewahan. Tak heran ia kemudian mengembalikan semua fasilitas negara yang terima saat diganti pada 1978. Masih banyak cerita kesederhanaannya. Mulai dari listrik di kediaman pribadinya yang pernah dicabut karena kekurangan uang untuk membayar, hingga keengganan dirawat di rumah sakit lantaran menipisnya kas.
Sutami meninggal di Jakarta, 3 November 1980, pada usia 52 tahun akibat penyakit sirosis dengan diagnosa awal kekurangan gizi. Pemerintah menanggung segala biaya perawatan sebelum ia tutup usia. Beberapa karya monumentalnya masih bisa disaksikan hingga sekarang. Mulai dari Gedung DPR/MPR, Bendungan Jatiluhur hingga Jembatan Semanggi.