ilustrasi semut (pexels.com/Egor Kamelev)
Semut memiliki sistem komunikasi yang sangat menarik dan unik. Berdasarkan penjelasan dalam buku Binatang Kecil Ajaib karya A. M. Nanang, semut tidak memiliki telinga dan sebagian bahkan tidak memiliki mata, yang membuat semut mendengarkan dan berkomunikasi melalui mekanisme yang unik. Seperti merasakan getaran tanah melalui kaki mereka, berkomunikasi dengan antena, dan menggunakan jejak feromon untuk mengarahkan ke sumber makanan dan menarik pasangan.
Feromon merupakan senyawa kimia yang mereka produksi dan gunakan untuk berinteraksi dengan sesama anggota koloni. Feromon ini berfungsi sebagai media komunikasi yang penting dalam berbagai konteks.
Misalnya, ketika sebuah kelompok semut menemukan sumber makanan yang melimpah, mereka akan melepaskan feromon yang dapat mengarahkan anggota koloni lainnya menuju lokasi makanan tersebut berada. Selain itu, feromon juga digunakan untuk memberi tahu anggota koloni tentang adanya bahaya, seperti serangan predator, sehingga koloni dapat merespons dengan cepat dan efektif.
Berdasarkan karya tulis ilmiah Eksistensi Feromon dan Perannya terhadap Komunikasi Antar Makhluk Sejenis oleh Tika Kastelia Kusumawati, semut pekerja mengeluarkan feromon sebagai penanda bahaya ketika menghadapi ancaman, dan feromon ini disebarkan ke udara dengan tujuan untuk memanggil semut pekerja lain. Ketika semut bertemu dengan musuh, mereka juga menghasilkan feromon, yang dapat meningkatkan atau mengurangi isyarat bahaya, tergantung pada tingkat ancaman yang dihadapi. Selain itu, semut juga menggunakan jejak feromon sebagai navigasi, memungkinkan mereka untuk kembali ke sarang dengan aman.