Mitos Bugis Orang Punya Kembaran Buaya, Benarkah?

Menilik sebuah mitos yang sarat dengan kearifan lokal

(Ilustrasi) Makassar Biennale/Artefact.id

Makassar, IDN Times - Pada awal Maret silam, media massa ramai memberitakan sebuah keluarga di Polewali, Mandar, Sulawesi Barat. Pasangan suami istri memperlakukan seekor buaya dengan amat istimewa. Pasangan itu bukan sekadar menganggap buaya sebagai peliharaan, melainkan dianggap sebagai kembaran anak mereka.

Bagi logika dan sains, tentu sulit menautkan tali persaudaraan antara Homo sapiens dan binatang dengan nama ilmiah Crocodylidae itu. Satunya berkaki dua, yang lain berjalan merayap. Satunya hidup di darat, yang lain bersifat amfibi. Bahkan jika dirunut dari pohon silsilah biologi buatan naturalis Carl von Linne, manusia dan buaya terpisah sangat jauh.

Namun di masyarakat Bugis, ada sebuah kepercayaan yang berkembang bahwa semua manusia memiliki saudara dalam wujud buaya. Mereka akan datang bercengkerama dengan kembarannya di darat entah melalui mimpi, sekadar menampakkan diri di permukaan sungai. Atau malah menghampiri langsung, seperti yang dialami oleh pasutri di Sulbar.

Bahkan jika ada orang mati tenggelam di sungai, acapkali sebagian orang mengatakan bahwa ini adalah peringatan dari kembar buayanya yang merasa tidak terawat. Alhasil, sang buaya menarik paksa orang tersebut agar ia mendapat perhatian.

Mitos Buaya dan Relasi Orang Bugis dengan Alam

Baca Juga: Urban Legend: Kisah Hantu Sumiati di Makassar dan Cerita Balas Dendam

1. Bukti mitos bisa dilacak dari naskah epos I La Galigo

Salah satu potongan naskah epos I La Galigo yang dipamerkan di Museum I La Galigo, Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Achmad Hidayat Alsair)

Jika melacak dari aspek budaya, asal usul mitos ini sudah tertera dalam Sureq I La Galigo (La Galigo: Menurut Naskah NBG 188 (Jilid 1), Pustaka Obor Indonesia, 2017). Alkisah, mendapati bahwa Dunia Tengah (Bumi) masih kosong tak berpenghuni, para penghuni kahyangan atau Dunia Atas mengutus La Togeq Langiq (kerap disebut Batara Guru) turun sebagai manusia pertama.

Lantaran masih bujangan, Batara Guru kemudian dipasangkan dengan We Nyiliq Timoq, putri sulung Raja dan Ratu Dunia Bawah (dunia bawah laut atau dalam air) yang juga sepupunya. Singkat cerita, mereka menikah dan melahirkan anak penerus hidup di muka bumi.

Salah satu bagian dari epos La Galigo kemudian mengisahkan bahwa Sang Pencipta meminta Batara Guru dan We Nyiliq Timoq untuk naik ke kahyangan. Namun, persekutuan antara Langit dan Dunia Bawah tetap terjalin. Sebelum kembali ke kahyangan dan meninggalkan semua keturunannya, anak mereka yakni Batara Lattuq telah disiapkan untuk memerintah. Batara Lattuq kelak menjadi Datu' Luwuq, penguasa pertama kerajaan tertua di Sulawesi.

2. Beberapa catatan lontaraq turut menyebut manusia yang "berubah" jadi buaya

(Ilustrasi) Dok. Djarum Foundation

I La Galigo cenderung dipandang sebagai naskah epos mitos terciptanya peradaban Bugis, dengan nilai kesusasteraan kental. Lantas apa ada bukti tertulis yang jabarkan mitos buaya dalam lontaraq yang jabarkan kisah masa lampau dengan rinci? Ternyata, banyak jumlahnya. 

Makoto Ito, seorang peneliti asal Tokyo Metropolitan University, mengumpulkan beberapa buktinya dalam buku Jelajah Tiga Dunia I La Galigo (Penerbit Ininnawa, 2009). Dalam Lontaraq Sawitto, ada salah satu cerita tentang buaya manusia. Dikutip dari West of the Lakes: A History of the Ajattapareng Kingdoms of South Sulawesi 1200-1600 (KITLV Press, 2009) yang digarap Stephen C. Druce :

"Puang ri Sompé punya seorang anak bernama Tomaruli. Tomaruli memiliki sebelas anak. Salah satunya bernama ratu ri Parung, yang masuk ke dalam air dan menjadi buaya. (...) Paleteang memiliki seorang anak bernama La Cellaq Mata. La Cellaq Mata menikahi Wé Lampé Weluaq. Mereka punya empat anak: salah satunya masuk ke dalam air dan menjadi buaya."

3. Mitos ini turut didapatkan oleh ahli linguistik Belanda

Foto buaya yang ditangkap dari dekade 1870-an di Indonesia. (Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures)

Menurut Ito, petikan kalimat dari Lontaraq Sawitto itu hanya menyebut bahwa ratu ri Parung masuk ke dalam air (mungkin tenggelam) lalu berubah menjadi seekor buaya. Ia pun menawarkan sebuah penjelasan.

"Kalau kita tambahkan beberapa kata lagi, mungkin maksudnya: Ratu ri Parung tenggelam dan orang berpendapat mungkin dia menjadi buaya," tulis Ito (hal. 154).

Ia menduga, masyarakat pada zaman dulu beranggapan bahwa jika mayat korban tenggelam tidak ditemukan, kemungkinan besar, si korban nahas berubah menjadi seekor buaya. Maka berangkat dari mitos tersebut, Ito berpendapat inilah pembangun utama kepercayaan atas "buaya manusia".

Ini pun sudah ditemui penyusun naskah I La Galigo NBG 188, B.F. Matthes. Di sela usaha membukukan epos selama 12 tahun, ahli linguistik asal Belanda itu turut mencatat banyak catatan kaki kepercayaan Bugis. Salah satunya kepercayaan bahwa seorang bayi memiliki tujuh saudara selain dirinya sendiri. Salah satunya, kembar dari roh leluhur buaya.

Baca Juga: 10 Hewan Mitos Mengerikan yang Hidup di Laut, Legenda Kuno yang Abadi

4. Jadi bukti kearifan peradaban Bugis memandang relasi dengan alam sekitar, terutama sungai

Pemandangan Sungai Cenrana di Bone, Sulawesi Selatan, antara tahun 1910 hingga 1940. (Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures)

Bukti tertulis yang dikumpulkan Makoto Ito terdengar sarat mistik. Namun sejarawan Universitas Negeri Makassar, Taufik Ahmad, melihat mitos tersebut sebagai konstruksi sosial orang Bugis dalam memandang relasi manusia dengan alam. Salah satu contoh yakni panggilan Bugis untuk buaya adalah To ri Saloq, yang berarti "orang (yang tinggal di) sungai." 

"Bahwa orang Bugis yang hidup di sungai itu begitu menghargai buaya, karena namanya pun tidak disebut," ujarnya saat dihubungi IDN Times, Selasa (6/10/2020). Salah satu bentuk penghargaan yakni kebiasaan meletakkan sesajian di tepi sungai, pada saat tertentu.

"Malah kemudian orang-orang Bugis meyakini kembaran buayanya selalu melindungi diri mereka. Kalau pergi merantau, sang buaya akan ikut," lanjutnya.

Taufik pun teringat beberapa cerita perihal kemunculan buaya saat penduduk di kampung halamannya, Bone, sedang berada di sungai. Sering kali "sang saudara" diminta untuk pergi, lantaran khawatir kehadirannya akan menakuti masyarakat.

Buaya pula yang memberi pertanda alam jika sesuatu akan terjadi. "Di kampung saya, jika akan ada banjir, buaya akan berjejer dari hulu menuju ke muara. Jika sudah akan surut, mereka pun akan kembali ke hulu," jelas Taufik.

5. Seiring waktu, relasi antara manusia dan buaya turut berubah

Para penduduk bersama buaya tangkapan di Indonesia, antara tahun 1910 hingga 1930. (Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures)

Taufik menjabarkan bahwa mitos ini adalah pantulan dari realitas sehari-hari orang Bugis. "Mitos tersebut tak boleh disepelekan begitu saja, itu sebagai cara pandang. Saya melihatnya sebagai orang Bugis hidup berdampingan dengan buaya, dan menjadikannya bagian dari saudara," ulasnya.

Berangkat dari pandangan bahwa sungai adalah tempat tinggal "saudara", maka sungai berusaha untuk selalu dipelihara dan dirawat. Ini dibuktikan dari kebiasaan orang Bugis zaman dulu membangun rumah berhadapan dengan bantaran sungai. Tetapi, kearifan lokal ternyata tak bertahan digempur peradaban.

"Sekarang kan rumah membelakangi sungai. Artinya sungai menjadi kotor, tempat pembuangan, tidak lagi dibersihkan. Dan cara pandang kita tentang buaya turut berubah," papar Taufik.

Selain itu, pembangunan pemukiman yang masif memaksa para buaya meninggalkan habitat dan minggat lebih dalam di hulu sungai. Belum lagi menyoal masalah perburuan buaya untuk komoditas ekonomi. Menurut Taufik, ini jadi titik balik relasi manusia dan "sang saudara di sungai."

6. Mitos buaya dan sungai jadi inspirasi instalasi seni FindArt Space di Makassar Biennale 2019

Makassar Biennale/Artefact.id

Mitos buaya sebagai upaya menjaga sungai dari pencemaran, turut dipegang teguh oleh Achmad Fauzi, salah satu anggota kolektif seni FindArt Space. Mitos tersebut turut menjadi inspirasinya untuk instalasi Memori Sungai sebagai Halaman Depan di Makassar Biennale 2019.

"Menurut hipotesa kami di awal proses kreatif, mitos inilah yang merawat sungai. Cara-caranya, mulai dari adanya pamali (larangan) BAB di sungai hingga ritual melempar telur (ke sungai) untuk 'penghuninya'," ungkapnya saat diwawancara IDN Times pada 2019.

Riset yang ia lakukan bersama tim berhasil menyusun sebagian keping-keping ingatan warga Sulsel perihal sungai. Yang paling mencolok, tentu saja mitos-mitos dan nilai magis yang sudah berkembang dalam masyarakat. Di samping itu turut pula pentingnya makna sungai bagi kehidupan.

7. Kini, sungai dianggap tak lebih dari sekadar saluran pembuangan

Sempadan Sungai Karang Mumus (SKM) di segmen Pasar Segiri, Jalan dr. Soetomo, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu (IDN Times/Yuda Almerio)

Sayang, mitos ini memudar dari benak penduduk. Kedudukan dan kemuliaan sungai turut terkikis bersama dengan modernitas. Beragam kebiasaan leluhur sebagai penghormatan pada ekosistem (dilambangkan sebagai buaya) sudah jarang dilakukan.

Sungai tak lagi dianggap sebagai salah satu elemen penting dalam masyarakat. Ia kini dipandang sekadar tempat pembuangan limbah dan penyebab banjir. Masalah eksploitasi pun turut jadi perhatian Achmad Fauzi.

"Ketika sungai kotor, proses pembersihannya akan sangat sulit lantaran bentangnya yang panjang. Permasalahannya pun kompleks. Akhirnya, yang terjadi adalah tuduh-menuduh dari hulu ke hilir," paparnya dengan nada prihatin.

Mitos buaya manusia memang sulit dicerna dengan akal sehat. Tetapi, jika menganggapnya sebagai cara leluhur menghormati alam tempat manusia bergantung, maka kita harus meninjau ulang cara berinteraksi dengan lingkungan.

Baca Juga: Makassar Biennale Adakan Pelatihan Penulisan-Penelitian di Enam Kota 

Berita Terkini Lainnya