Comscore Tracker

Para Pejuang Perempuan Sulsel di Garis Depan Medan Tempur

Ada juga yang berperan besar di bidang literasi

Makassar, IDN Times - Kisah-kisah heroik agaknya memang selalu lekat pada laki-laki. Buktinya bisa dilihat pada daftar Pahlawan Nasional yang mayoritas berisi para pria. Tapi bukan berarti perempuan tak punya tempat dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Ada Cut Nyak Dien dan Keumalahayati dari Aceh, Martha Christina Tiahahu di Maluku, Nyi Ageng Serang asal Banten, hingga pejuang hak perempuan yakni Raden Ajeng Kartini plus Dewi Sertika. Dari Sulawesi Selatan (Sulsel) sendiri ada nama Opu Daeng Risadju yang disanjung rakyat Luwu.

Meski begitu, sejatinya masih banyak figur perempuan pejuang asal Sulsel. Ada yang terjun langsung ke medan tempur, membuat pusing NICA dengan advokasi kemerdekaan, atau yang punya peran penting di bidang literasi. Bersama dengan momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, IDN Times merangkum profil singkat mereka.

Baca Juga: Foto-Foto Meriahnya Suasana Pasar Malam di Makassar Tahun 1948

1. I Fatimah Daeng Takontu, melawan Kompeni jauh dari tanah kelahiran

Para Pejuang Perempuan Sulsel di Garis Depan Medan TempurLukisan I Fatimah Daeng Takontu, pejuang perempuan asal Sulawesi Selatan di Perang Saudara Banten 1682-1683. (Dok. Istimewa)

Membuka daftar pendek ini adalah I Fatimah Daeng Takontu, anak Sultan Hasanuddin. Minggat dari tanah kelahirannya pasca-Bongaya (1667) dan wafatnya sang ayah, ia meneruskan perjuangan melawan Kompeni di tanah Banten.

Fatimah, bersama Syekh Yusuf dan Sultan Ageng Tirtayasa, memimpin Laskar Bainea yang berisi bala tentara perempuan Makassar. Sosok yang lahir pada 10 September 1659 ini ikut bertempur di Perang Banten 1682-1683 di usia kisaran masih 23 tahun.

"Perlawanan pasukan Syekh Yusuf dan pasukan Bainea, yang dipimpin Fatimah, membuat Belanda kewalahan," kata sejarawan sekaligus dosen Universitas Negeri Makassar (UNM), Bahri, kepada IDN Times saat dihubungi pada Minggu malam (15/8/2021).

Setelah perlawanan Sultan Ageng dipadamkan, terdapat dua versi mengenai riwayat Fatimah usai pergi dari Banten. Pertama, ia disebut kembali ke Gowa untuk meneruskan perlawanan bersama para prajurit Bainea yang tersisa. Di tanah kelahirannya pula Fatimah mengembuskan napas terakhir.

"Dalam suatu pertempuran, Fatimah bersama pasukannya menyerang Belanda. Pada pertempuran itu Fatimah gugur," ujar Bahri.

Adapun versi kedua, I Fatimah bersama sang suami yakni Daeng Talibe ditugasi pemimpin Kerajaan Mempawah (Kalimantan Barat) untuk mengamankan wilayah laut hingga akhir hidupnya. Sebuah makam di Pulau Temajo, Kabupaten Mempawah, dipercaya sebagai persemayaman terakhir I Fatimah.

2. Opu Daeng Risadju, mengisi masa tua dengan perjuangan melawan pendudukan Belanda

Para Pejuang Perempuan Sulsel di Garis Depan Medan TempurPotret Opu Daeng Risaju, penentang pendudukan kembali Belanda pasca-kemerdekaan dan Pahlawan Nasional perempuan asal Sulsel, di masa tuanya. (Dok. Istimewa)

Pasca-kemerdekaan, Belanda rupanya hendak kembali ke Indonesia, melanjutkan pendudukan. Perlawanan lahir di seluruh daerah, termasuk Sulawesi Selatan. Salah satu figur yang mencuat yakni Opu Daeng Risadju, bangsawan Kerajaan Luwu.

Sosok yang lahir di Palopo, tahun 1880 itu rutin menyuarakan penentangan terhadap kolonialisme pada 1930-an Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Lantaran dianggap berbahaya, Daeng Risadju dijebloskan ke penjara oleh polisi Hindia-Belanda.

"Protes atas penjajahan membuat dirinya dituduh melakukan tindakan provokasi rakyat untuk melawan pemerintah kolonial dan dipenjara selama 13 bulan," ujar Bahri.

"Ini membuat Opu Daeng Risadju tercatat sebagai wanita pertama yang dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda atas alasan politik," imbuhnya.

Tak cuma berhadapan dengan polisi kolonial, ia mendapat tekanan dari Datu' (Raja) Luwu dan Dewan Adat. Gelar bangsawannya dilucuti, tapi ia mendapat tempat di hati rakyat.

Pasca-kemerdekaan, Belanda melalui NICA hendak kembali menancapkan kekuasaan. Daeng Risadju, di masa tuanya, kembali terjun ke medan perlawanan. Ia bahkan terlibat dalam penyerangan pada tahun 1946. Sebulan setelah itu, ia tertangkap.

"Penangkapan tersebut membuat ia dipaksa jalan kaki ke Watampone (Bone) yang berjarak 40 kilometer di usia yang tidak lagi muda. Hukuman ini membuat Opu Daeng Risadju mengalami tuli hingga akhir hayatnya," jelas Bahri.

Daeng Risadju diterungku selama berbulan-bulan tanpa diadili, dan baru dibebaskan setelah Konferensi Meja Bundar 1949. Ia wafat di usia 84 tahun pada 10 Februari 1964, dan tahun 2006 dianugerahkan status Pahlawan Nasional.

3. Emmy Saelan, gugur di medan tempur saat terkepung tentara Belanda

Para Pejuang Perempuan Sulsel di Garis Depan Medan TempurFoto Emmy Saelan, pejuang perempuan di Sulawesi Selatan pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945-1949. (Dok. Istimewa)

Figur perempuan pejuang lain di Sulsel adalah Emmy Saelan. Berprofesi sebagai perawat, sosok yang lahir pada 15 Oktober 1924 ini terjun langsung ke medan perang. Menenteng mitraliur, Daeng Kebo --julukan Emmy-- kerap turun gunung ikut serta dalam penyerangan.

Kakak Maulwi Saelan (kiper Timnas Indonesia 1950-an) ini juga dikenal sebagai anggota organisasi kelaskaran LAPRIS (Laskar Pemberontak Republik Indonesia Sulawesi). LAPRIS sendiri turut menampung banyak figur seperti Ranggong Daeng Romo, Wolter Mongisidi, Ali Malaka, Abdullah Daeng Sirua dan masih banyak lagi.

"Salah satu peran yang diemban oleh Emmy Saelan adalah misi spionase ke Makassar guna mencari informasi mengenai kekuatan lawan, dalam hal ini KNIL dan NICA," jelas Bahri.

"Emmy Saelan dipiliha dengan mengingat ia pernah bertugas di Rumah Sakit Stella Marris dan dianggap mengetahui seluk-beluk Kota Makassar," lanjutnya.

Kakak kandung Maulwi Saelan (kiper Timnas era 1950-an) ini gugur pada 23 Januari 1947. Ia terkepung dalam upaya penyerangan pos tentara KNIL di Kampung Kassi-Kassi, tenggara Makassar. Jenazah Emmy sempat dikubur oleh Belanda di lokasi pertempuran, sebelum dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panaikang pada 1955.

4. Masih banyak tokoh perempuan lain yang berpengaruh, contohnya Colliq Pujie

Para Pejuang Perempuan Sulsel di Garis Depan Medan TempurPatung setengah badan Colliq Pujie, bangsawan Tanete yang punya peran besar dalam pengumpulan naskah epos I La Galigo, yang berada di Kota Barru Sulawesi Selatan. (Dok. Uswatun Hasanah - Instagram.com/uus.hh)

Selain ketiga nama tadi, menurut Bahri masih banyak perempuan yang mengiringi sejarah perjuangan rakyat Sulawesi Selatan. Baik di masa pra-kemerdekaan dan perjuangan mempertahankan kedaulatan.

"Misalnya Besse Kajuara, Arumpone (penguasa Kerajaan Bone) ke-28 yang memiliki keberanian cukup besar (di medan tempur). Suatu waktu dalam pertempuran dengan Belanda, ia berhasil merobek bendera mereka," terangnya.

"Ada juga Colliq Pujie, bangsawan dari Kerajaan Tanete yang memiliki peran besar dalam pembuatan naskah I La Galigo (epos asal-usul Suku Bugis dan peradaban di Sulsel)," tambah Bahri.

Namun, harus diakui masih banyak tokoh perempuan lain yang terlupakan oleh sejarah. Ini disebut lantaran pembelajaran sejarah yang dilakukan selama ini hanya tentang tokoh besar yang berperan pada sebuah peristiwa besar Padahal Bahri menyebut living history sangat penting diperkenalkan kepada peserta didik dan masyarakat.

"Upaya menuliskan sejarah masa lalu Sulawesi Selatan yang melibatkan tokoh perempuan sudah dilakukan. Tapi tidak ada keinginan yang kuat, dalam konteks historiografi lokal, akan keterlibatan perempuan tersebut," tutupnya.

Baca Juga: 12 Potret Ruas Jalan Makassar di Masa Lalu

Topic:

  • Aan Pranata

Berita Terkini Lainnya